Pemeriksaan rutin (Sumber gambar: Unsplash/Markus Frieauff)

Cegah Telat Penanganan Sindrom Nefrotik, IDAI Dorong Pemeriksaan Rutin di Sekolah

08 July 2025   |   22:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sindrom nefrotik pada anak sering menjadi sumber kekhawatiran bagi para orang tua karena gejalanya yang tampak serius, seperti pembengkakan tubuh hingga perubahan warna urin. Akan tetapi, sebenarnya kondisi ini sebagian besar dapat disembuhkan, asalkan ditangani dengan tepat sejak awal.

Menurut Ahmedz Widiasta dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sekitar 80 persen anak dengan sindrom nefrotik termasuk kategori responsif steroid. Artinya, mereka merespons baik terhadap pengobatan standar dan berpeluang besar untuk sembuh total.

“Hanya 20 persen yang masuk kategori resisten steroid dan membutuhkan pengobatan khusus. Tapi sekarang pun, obat-obatan untuk yang resisten sudah semakin banyak tersedia. Insya Allah bisa sembuh juga,” ujar Ahmedz. 

Baca juga: Anak Usia 1-7 Tahun Paling Rentan Terkena Sindrom Nefrotik, Bagaimana Pencegahannya?

Meski begitu, dia menekankan pentingnya deteksi dini dan kepatuhan terhadap pengobatan agar komplikasi serius bisa dicegah. Untuk memperkuat upaya deteksi dini, IDAI telah mengusulkan kepada pemerintah agar melakukan skrining urin rutin setahun sekali bagi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia. 

Menurut Ahmedz, langkah ini bertujuan untuk menemukan kasus secara lebih cepat sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Sebab, selama ditemukan sejak awal dan ditangani dengan benar, anak-anak umumnya bisa sembuh total dan hidup normal lagi setelahnya.

“IDAI sudah menyampaikan usulan ini kepada Kementerian Kesehatan. Harapannya, bisa diterapkan secara nasional sebagai langkah preventif,” usulnya.

Sindrom nefrotik sendiri terjadi ketika fungsi ginjal terganggu dan menyebabkan kehilangan protein dalam jumlah besar melalui urin. Hal ini mengakibatkan kadar albumin darah turun dan menimbulkan pembengkakan pada tubuh. 

Di Indonesia, 1 hingga 17 dari setiap 100.000 anak terdeteksi mengalami sindrom ini. Angka ini dinilai sudah cukup signifikan dan membutuhkan perhatian khusus. Sebab, jangan sampai, persentasenya makin bertambah.

Di luar itu, dalam studi yang dilakukannya di salah satu SMA di Jawa Barat, diketahui ada 12 persen yang mengalami proteinuria dari total 1.280 siswa. "Padahal, secara kasat mata mereka tampak sehat," imbuhnya.

Ahmedz juga mengingatkan bahwa banyak kasus menjadi kronis karena pengobatan yang tidak dijalankan secara tuntas. Menurutnya, banyak orang tua yang terlalu terburu-buru menganggap anak sudah sehat, padahal sebenarnya kondisinya tidak demikian. 

“Kadang orang tua menghentikan terapi setelah gejala membaik. Padahal, jika tidak dituntaskan, kondisi ini bisa berkembang menjadi resisten dan berujung pada penyakit ginjal kronik,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa sindrom nefrotik akan membuat anak mengalami beberapa risiko kesehatan, termasuk gangguan pernapasan hingga gagal ginjal akut. Sementara itu, komplikasi jangka panjang yang paling dikhawatirkan adalah berkembangnya penyakit ginjal kronik tahap akhir, yang membuat pasien harus menjalani terapi cuci darah seumur hidup.

Dengan meningkatnya kesadaran, deteksi dini, dan kepatuhan pada pengobatan, Ahmedz berharap makin banyak anak dengan sindrom nefrotik yang bisa disembuhkan dan terhindar dari dampak jangka panjang. 

Baca juga: Mengenal Sindrom Metabolik, Penyebab Banyak Penyakit Kronis 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Berdampak Besar Terhadap Pariwisata Domestik

BERIKUTNYA

Cyberpunk: Edgerunners 2 Resmi Diproduksi, Bakal Tayang di Netflix

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga