Cuaca dingin (Sumber gambar: Unsplash/ ahmet hamdi)

Apa itu Fenomena Aphelion, Benarkah Bikin Suhu bulan Juli Lebih Dingin di Indonesia?

07 July 2025   |   10:44 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Belakangan ini, banyak masyarakat Indonesia mengeluhkan udara pagi yang terasa lebih dingin dari biasanya. Kondisi ini pun menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Tak sedikit yang menghubungkan fenomena cuaca ini dengan peristiwa astronomis tahunan yang dikenal sebagai aphelion.

Aphelion adalah momen ketika Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari dalam lintasan elipsnya. Fenomena ini memang kerap terjadi pada sekitar bulan Juli setiap tahun. Menurut situs astronomi In The Sky, aphelion telah berlangsung sejak 4 Juli 2025.

Baca juga: Ini Penyebab Cuaca Dingin pada Musim Kemarau yang Melanda Indonesia

Pada saat itu, jarak antara pusat Bumi dan pusat Matahari akan mencapai sekitar 152,08 juta kilometer. Jarak tersebut lebih jauh sekitar 2,5 juta kilometer dibandingkan dengan jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari.

Lantaran Bumi sedang jauh dari Matahari, fenomena ini kerap disebut-sebut sebagai penyebab udara dingin di Indonesia. Namun, sebenarnya pengaruh fenomena astronomis ini terhadap suhu di permukaan Bumi tidak terlalu signifikan.

BMKG pernah menjelaskan bahwa fenomena aphelion ini terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli. Pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode awal musim kemarau.

BMKG menyebut kondisi kemarau justru lebih dominan dalam membuat suhu di Indonesia lebih dingin dari biasanya. Hal ini karena pada musim kemarau, ada kecenderungan membuat kandungan uap air di atmosfer menjadi lebih sedikit. Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. 

Rendahnya kandungan uap di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh Bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer. Sementara itu, energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di lapisan dekat permukaan Bumi tidak signifikan. 

"Hal inilah yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan," bunyi pernyataan resmi BMKG.

Situasi ini berbeda dengan kondisi saat musim hujan atau masa peralihan, ketika kandungan uap air di atmosfer cukup tinggi. Pada saat itu, atmosfer berperan seperti "penampung panas", sehingga suhu udara di malam hari cenderung lebih hangat.

Di sisi lain, pada bulan Juli ini, Australia sedang mengalami musim dingin. Massa udara di wilayah tersebut bersifat dingin dan kering. Tekanan udara yang relatif tinggi di Australia mendorong pergerakan massa udara menuju Indonesia. 

Aliran udara dingin ini berdampak pada penurunan suhu udara pada malam hari, terutama di wilayah-wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, kondisi langit pada masa awal kemarau akan relatif cerah tanpa banyak tutupan awan (clear sky). Hal ini rupanya juga memungkinkan panas dari radiasi gelombang panjang yang dipantulkan Bumi langsung terlepas ke luar angkasa. Akibatnya, udara di dekat permukaan Bumi menjadi lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.

Fenomena semacam ini merupakan kejadian musiman yang lazim terjadi setiap tahun. Bahkan, kondisi ini juga dapat memicu munculnya embun es atau embun upas di sejumlah wilayah dataran tinggi seperti Dieng atau kawasan pegunungan lainnya. Embun ini sering kali disalahartikan sebagai salju oleh masyarakat.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

FFI 2025 Usung Program Baru, Dekatkan Diri ke Festival Film Daerah

BERIKUTNYA

Konser Terakhir Ozzy Osbourne dan Black Sabbath Disambut Tangis dan Ledakan Rock

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga