Pegawai mengamati data indeks harga saham gabungan (IHSG) di Jakarta. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)

Ini Alasan Investasi Saham Butuh Pemahaman Makroekonomi Global 

06 July 2025   |   14:00 WIB
Image
Fajar Sidik Hypeabis.id

Investor ritel saat ini mendominasi pasar modal Indonesia. Lonjakan partisipasi ini menandakan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, serta memperlihatkan dinamika pasar modal Indonesia yang semakin dipengaruhi oleh keputusan investor individu. 

Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada awal 2025 jumlah investor ritel di pasar modal mencapai 99,7 persen dari total 15,5 juta investor. Seiring meningkatnya partisipasi investor ritel itu, tantangan dalam pengambilan keputusan pun ikut berkembang. 

Mengutip BNI Sekuritas, mencermati cepatnya dinamika pasar itu kerap membuat perhatian tertuju pada aspek teknikal atau jangka pendek. Padahal, pemahaman terhadap makroekonomi global juga tak kalah penting karena turut memengaruhi arah pasar, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Baca juga: Cek Keuntungan Investasi Saham Secara Syariah

Wawasan yang lebih menyeluruh dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih bijak. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menegaskan bahwa IHSG tidak bergerak dalam ruang sendiri, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed, inflasi AS, nilai tukar dolar, trade war, hingga kondisi geopolitik. 

“Contohnya, ketika terjadi ketegangan geopolitik beberapa waktu lalu, harga minyak naik signifikan sehingga dikhawatirkan dapat menaikkan inflasi dan berpotensi menunda The Fed memangkas suku bunga," jelas Fanny dalam keterangan tertulis BNI Sekuritas.

Dia menambahkan, pada akhirnya hal itu mengakibatkan pasar AS, IHSG dan juga regional melemah, walaupun beberapa saham yang berkorelasi dengan pergerakan harga minyak dan emas bisa menguat. Menurutnya, ketidaktahuan terhadap dinamika global dapat berujung pada keputusan yang kurang tepat.

Risiko yang mungkin dihadapi investor antara lain:


1. Salah Momentum

Salah momentum masuk atau keluar pasar, karena tidak mempertimbangkan sentimen global saat ini berisiko menimbulkan kerugian bagi investor ritel. Ini dapat terjadi ketika investor membeli saham setelah harganya sudah naik sangat tinggi dan mendekati puncaknya. 

Biasanya, investor ritel seringkali membeli saham karena didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out) atau euforia pasar. Padahal, setelah mencapai puncaknya, harga saham cenderung terkoreksi atau turun.
    
Sebaliknya, menjual saham pada saat harga jatuh (Selling at the Trough) sehingga investor panik dan menjual sahamnya saat harga sangat rendah karena takut kerugian akan semakin besar. Padahal, potensi pemulihan masih sangat besar apabila saham yang dikoleksi memiliki fundamental bisnis yang kuat.


2. Kerugian akibat depresiasi rupiah

kerugian akibat depresiasi rupiah, terutama bagi investor dengan eksposur di saham berbasis impor. Banyak perusahaan di Indonesia, terutama di sektor manufaktur, barang konsumsi, makanan, minuman, farmasi, dan kosmetik sangat bergantung pada bahan baku atau komponen impor.

Ketika rupiah terdepresiasi, biaya impor bahan baku ini akan meningkat secara signifikan karena dibutuhkan biaya lebih besar untuk membeli dolar AS. Kenaikan biaya produksi ini akan menggerus margin keuntungan perusahaan tersebut. 

Jika perusahaan meneruskan kenaikan biaya ini ke harga jual produk, daya beli konsumen bisa menurun, yang pada gilirannya berdampak negatif pada penjualan dan laba perusahaan. 

Jika perusahaan tidak menaikkan harga jual, maka laba bersih perusahaan akan tertekan. Penurunan laba bersih ini akan mengurangi daya tarik saham perusahaan, sehingga berpotensi menurunkan harga sahamnya di bursa. Meski begitu, perusahaan yang baik, pada umumnya memiliki mekanisme lindung nilai sehingga potensi tekanan akibat fluktuasi kurs dapat dinetralisir.


3. Overexposure di sektor sensitif

Overexposure di sektor sensitif seperti komoditas dan properti dapat berisiko, jika tanpa mempertimbangkan faktor eksternal yang memengaruhi harga komoditas atau suku bunga. Terlalu banyak berinvestasi pada sektor sensitif dalam portofolio saham dapat menjadi risiko signifikan karena sektor-sektor ini cenderung sangat reaktif terhadap perubahan kondisi makroekonomi, kebijakan pemerintah, dan sentimen pasar. Berikut adalah alasan-alasan mengapa overexposure di sektor sensitif berisiko:

Sektor-sektor tertentu, yang sering disebut sebagai cyclical stocks atau saham siklikal, kinerjanya sangat terkait dengan siklus ekonomi. Saat ekonomi tumbuh, sektor ini berkembang pesat, tetapi saat ekonomi melambat atau resesi, akan terpukul keras. Contoh sektor ini meliputi properti dan konstruksi, otomotif, ritel barang non-primer, pertambangan dan komoditas, serta perbankan.

Adapula sektor yang sangat bergantung pada kebijakan dan regulasi pemerintah. Perubahan kebijakan dapat memiliki dampak drastis pada prospek bisnisna, seperti energi, telekomunikasi, kesehatan dan farmasi, atau pertanian dan perkebunan.


4. Terlalu fokus ke jangka pendek

Melewatkan peluang investasi karena terlalu fokus pada kekhawatiran jangka pendek dan mengabaikan sinyal makro yang justru mendukung untuk akumulasi aset. 

Selain itu, berinvestasi saham dengan fokus ke jangka pendek, atau sering disebut trading jangka pendek, punya risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan investasi jangka panjang. Beberapa risikonya antara lain lebih banyak terdampak volatilitas pasar karena hanya mengikuti ekor, melewatkan potensi pertumbuhan jangka panjang, berisiko terjebak FOMO serta terpapar rasa panik dan stres tinggi.

Baca juga: 5 Cara Bijak Investasi di Pasar Saham Agar Tidak Terjebak Kerugian

Fanny menegaskan bahwa menjadi investor cerdas bukan berarti harus menjadi ekonom. Cukup dengan memahami prinsip dasar ekonomi global dan bagaimana kaitannya dengan pasar modal, investor dapat memiliki perspektif yang lebih utuh dalam mengambil keputusan. 

“Tanpa pemahaman global, investor rentan bertindak reaktif atau panic selling saat koreksi, atau terlalu euforia saat rally, yang pada akhirnya bisa membuat investor rugi atau kehilangan momentum untuk mendapat harga saham murah saat market koreksi,” ujar Fanny. 

Di tengah dinamika global yang terus berubah, investor ritel juga didorong untuk memanfaatkan berbagai fitur edukatif dan analitik yang disediakan oleh platform investasi. 

Salah satunya adalah fitur Trading Ideas di aplikasi New BIONS by BNI Sekuritas, yang menyajikan insight pasar harian, laporan riset, serta analisis makro dan sektoral. “Keputusan terbaik dalam investasi bukan hanya tentang apa yang dibeli, tapi juga timing hingga saat yang tepat untuk take profit,” tutup Fanny. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Kesalahan yang Perlu Dihindari Pemilik Kendaraan Agar Parkir Menjadi Aman & Nyaman

BERIKUTNYA

GAC AION UT Hadir di Indonesia, Tawarkan Desain Futuristik dan Jarak Tempuh 500 Km

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga