Ekspansi Bisnis Kuliner Jangan Hanya Andalkan Rasa, Siapkan Strateginya
04 July 2025 |
09:11 WIB
Mengembangkan bisnis kuliner bukan sekadar soal rasa yang menggugah selera. Di balik keberhasilan membuka cabang demi cabang, ada strategi finansial yang matang dan kerja sama yang terencana. Banyak pelaku usaha tergoda ekspansi terlalu cepat, padahal belum menyiapkan sistem operasional, pendanaan memadai, dan struktur hukum yang kuat.
Menurut Danis Puntoadi, praktisi bisnis kuliner sekaligus Chief Curriculum Officer Foodizz Academy, setiap langkah ekspansi harus didasarkan pada perhitungan yang realistis dan berbasis data. Tanpa itu, ekspansi justru bisa menjadi jebakan yang menggerus keuntungan dan merusak reputasi bisnis yang sudah dibangun.
“Kalau bisnis punya dua cabang dengan omzet total Rp50 juta per bulan, maka pendapatan tahunannya Rp600 juta. Kalau ingin mencapai omzet Rp6 miliar, maka target pertumbuhannya 10 kali lipat, yang berarti jumlah cabang juga perlu naik menjadi 20,” jelasnya dalam channel youtube Foodizz Channel
Berikut ini beberapa strategi penting untuk mengembangkan bisnis kuliner dengan pendekatan pendanaan dan kemitraan yang sehat:
Sebelum tergesa-gesa membuka cabang baru, pastikan Genhype memahami dari mana dana akan berasal dan seberapa besar kemampuan bisnis saat ini menanggung risiko.
Menurut Danis, ada dua sumber utama pendanaan: internal dan eksternal. Pendanaan internal bisa berasal dari arus kas (cashflow) atau menahan laba (profit retention). Meski ini cara paling aman, pendekatan ini menuntut kesabaran.
“Saat pakai dana internal, pemilik harus rela menahan hasrat menikmati keuntungan pribadi. Tapi ini cara paling aman karena tidak berutang dan tidak membagi kendali dengan orang lain,” katanya.
Sementara itu, pendanaan eksternal bisa datang dari pinjaman, sistem kemitraan, atau investor outlet. Masing-masing punya kelebihan dan tantangan. “Jangan sampai uang pinjaman dipakai untuk kebutuhan pribadi. Itu bahaya besar dalam bisnis,” tegas Danis.
Tidak semua bisnis cocok dengan sistem franchise. Model kemitraan atau store investment bisa menjadi alternatif untuk ekspansi yang lebih terkontrol.
Sistem kemitraan memungkinkan ekspansi tanpa modal dari kantong sendiri. Namun, ada risiko tinggi jika sistem operasional belum matang. “Kalau mitra gagal operasional, nama brand bisa hancur. Harus ada sistem yang matang sebelum dijual sebagai kemitraan,” ujar Danis.
Store investment menjadi pendekatan yang kian populer. Dalam skema ini, investor membiayai satu outlet, tetapi pengelolaan tetap di tangan pemilik utama. “Store investment saat ini cukup menarik karena investor hanya terlibat di satu outlet saja. Risiko dan keterlibatannya terbatas, tidak sampai mengganggu manajemen pusat,” jelasnya.
Salah satu kesalahan umum dalam kolaborasi bisnis adalah minimnya landasan hukum dan akuntabilitas yang jelas. Menurut Agustinus Susilo, wealth management dan edukator di Foodizz Academy, semua kerja sama harus dibakukan secara legal.
“Kalau tidak dibakukan, bisa jadi saat bisnis mulai untung, ada yang menuntut porsi lebih besar dari komitmen awal. Legalitas itu penting untuk melindungi semua pihak,” kata Agus.
Dia menekankan pentingnya dokumen legal seperti akta notaris, NIB (Nomor Induk Berusaha), hingga KBLI. Tak hanya itu, laporan keuangan yang rapi dan terbuka kepada mitra adalah fondasi kepercayaan dalam bisnis.
“Kuncinya adalah pembagian peran yang jelas, legalitas yang sah, dan akuntabilitas yang transparan. Dengan kerjasama, kita bisa menjangkau lebih banyak pasar ketimbang one-man show,” tambahnya.
Seringkali pelaku usaha lupa membahas teknis pembagian hasil sebelum kerja sama dimulai. Menurut Danis, ini harus menjadi pembahasan awal agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.
Dalam metode store investment, bentuk bagi hasil bisa berupa revenue sharing (berdasarkan penjualan) atau profit sharing (berdasarkan keuntungan bersih). Masing-masing punya risiko dan keunggulan.
“Revenue sharing lebih sederhana dan memberi aliran dana rutin ke investor, tapi berat buat pemilik bisnis kalau belum BEP. Maka harus dihitung cermat,” jelas Danis.
Durasi kerja sama juga penting untuk ditentukan. Investor perlu tahu kapan modalnya akan kembali dan bagaimana proyeksi keuntungannya. Ini membantu membangun ekspektasi yang realistis dan menghindari potensi perselisihan.
Strategi finansial yang solid, kerja sama yang legal dan transparan, serta perhitungan ekspansi yang realistis adalah tiga fondasi utama yang perlu disiapkan pelaku usaha kuliner sebelum melakukan ekspansi. Memahami risikonya sama pentingnya dengan memetakan peluangnya.
"Semua metode bagus asal kita mengerti cara mainnya. Jangan sampai asal ikut tren tetapi sistem internal belum siap. Akhirnya bukan untung tapi malah merugikan semua pihak," tegas Dani.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut Danis Puntoadi, praktisi bisnis kuliner sekaligus Chief Curriculum Officer Foodizz Academy, setiap langkah ekspansi harus didasarkan pada perhitungan yang realistis dan berbasis data. Tanpa itu, ekspansi justru bisa menjadi jebakan yang menggerus keuntungan dan merusak reputasi bisnis yang sudah dibangun.
“Kalau bisnis punya dua cabang dengan omzet total Rp50 juta per bulan, maka pendapatan tahunannya Rp600 juta. Kalau ingin mencapai omzet Rp6 miliar, maka target pertumbuhannya 10 kali lipat, yang berarti jumlah cabang juga perlu naik menjadi 20,” jelasnya dalam channel youtube Foodizz Channel
Berikut ini beberapa strategi penting untuk mengembangkan bisnis kuliner dengan pendekatan pendanaan dan kemitraan yang sehat:
1. Kenali Sumber Pendanaan dan Ukur Kapasitas Bisnis
Sebelum tergesa-gesa membuka cabang baru, pastikan Genhype memahami dari mana dana akan berasal dan seberapa besar kemampuan bisnis saat ini menanggung risiko.Menurut Danis, ada dua sumber utama pendanaan: internal dan eksternal. Pendanaan internal bisa berasal dari arus kas (cashflow) atau menahan laba (profit retention). Meski ini cara paling aman, pendekatan ini menuntut kesabaran.
“Saat pakai dana internal, pemilik harus rela menahan hasrat menikmati keuntungan pribadi. Tapi ini cara paling aman karena tidak berutang dan tidak membagi kendali dengan orang lain,” katanya.
Sementara itu, pendanaan eksternal bisa datang dari pinjaman, sistem kemitraan, atau investor outlet. Masing-masing punya kelebihan dan tantangan. “Jangan sampai uang pinjaman dipakai untuk kebutuhan pribadi. Itu bahaya besar dalam bisnis,” tegas Danis.
2. Pilih Model Kolaborasi yang Sesuai: Franchise, Kemitraan, atau Store Investment
Tidak semua bisnis cocok dengan sistem franchise. Model kemitraan atau store investment bisa menjadi alternatif untuk ekspansi yang lebih terkontrol.Sistem kemitraan memungkinkan ekspansi tanpa modal dari kantong sendiri. Namun, ada risiko tinggi jika sistem operasional belum matang. “Kalau mitra gagal operasional, nama brand bisa hancur. Harus ada sistem yang matang sebelum dijual sebagai kemitraan,” ujar Danis.
Store investment menjadi pendekatan yang kian populer. Dalam skema ini, investor membiayai satu outlet, tetapi pengelolaan tetap di tangan pemilik utama. “Store investment saat ini cukup menarik karena investor hanya terlibat di satu outlet saja. Risiko dan keterlibatannya terbatas, tidak sampai mengganggu manajemen pusat,” jelasnya.
3. Jangan Abaikan Aspek Legal dan Transparansi Laporan Keuangan
Salah satu kesalahan umum dalam kolaborasi bisnis adalah minimnya landasan hukum dan akuntabilitas yang jelas. Menurut Agustinus Susilo, wealth management dan edukator di Foodizz Academy, semua kerja sama harus dibakukan secara legal.“Kalau tidak dibakukan, bisa jadi saat bisnis mulai untung, ada yang menuntut porsi lebih besar dari komitmen awal. Legalitas itu penting untuk melindungi semua pihak,” kata Agus.
Dia menekankan pentingnya dokumen legal seperti akta notaris, NIB (Nomor Induk Berusaha), hingga KBLI. Tak hanya itu, laporan keuangan yang rapi dan terbuka kepada mitra adalah fondasi kepercayaan dalam bisnis.
“Kuncinya adalah pembagian peran yang jelas, legalitas yang sah, dan akuntabilitas yang transparan. Dengan kerjasama, kita bisa menjangkau lebih banyak pasar ketimbang one-man show,” tambahnya.
4. Tetapkan Skema Bagi Hasil dan Durasi Kerja Sama Sejak Awal
Seringkali pelaku usaha lupa membahas teknis pembagian hasil sebelum kerja sama dimulai. Menurut Danis, ini harus menjadi pembahasan awal agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.Dalam metode store investment, bentuk bagi hasil bisa berupa revenue sharing (berdasarkan penjualan) atau profit sharing (berdasarkan keuntungan bersih). Masing-masing punya risiko dan keunggulan.
“Revenue sharing lebih sederhana dan memberi aliran dana rutin ke investor, tapi berat buat pemilik bisnis kalau belum BEP. Maka harus dihitung cermat,” jelas Danis.
Durasi kerja sama juga penting untuk ditentukan. Investor perlu tahu kapan modalnya akan kembali dan bagaimana proyeksi keuntungannya. Ini membantu membangun ekspektasi yang realistis dan menghindari potensi perselisihan.
Strategi finansial yang solid, kerja sama yang legal dan transparan, serta perhitungan ekspansi yang realistis adalah tiga fondasi utama yang perlu disiapkan pelaku usaha kuliner sebelum melakukan ekspansi. Memahami risikonya sama pentingnya dengan memetakan peluangnya.
"Semua metode bagus asal kita mengerti cara mainnya. Jangan sampai asal ikut tren tetapi sistem internal belum siap. Akhirnya bukan untung tapi malah merugikan semua pihak," tegas Dani.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.