Satu Dekade Bertetangga, TUKU Buktikan Kopi Lokal Bisa Mendunia
02 July 2025 |
16:00 WIB
Berawal dari sebuah kios mungil berukura 16 meter persegi yang berdiri di kawasan Cipete, kini Toko Kopi Tuku yang bermula dari mimpi sederhana, menyajikan kopi enak yang bisa dinikmati siapa saja terutama para tetangga sekitar, siap melebarkan sayapnya ke luar negeri dengan membuka gerai pertama di Amsterdam, Belanda.
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi Andanu Prasetyo, CEO dan Founder TUKU untuk membuktikan bahwa Toko Kopi TUKU bukan sekadar kedai rumahan tapi telah menjelma menjadi bisnis yang bertumbuh dan berkelanjutan dengan pertumbuhan profit tahunan mencapai 356 persen dan rencana ekspansi internasional yang tengah dipersiapkan.
Baca juga: Kisah Toko Kopi Tuku, Buka Kedai di Korea Sampai Beli Naming Rights MRT Cipete
Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit, PT Karya Tetangga Tuku mampu mencatat pertumbuhan laba bersih rata-rata (CAGR) 141 persen dalam tiga tahun terakhir, dengan pendapatan yang naik 88 persen secara tahunan.
Namun, pertumbuhan ini bukan semata hasil ekspansi toko tapi buah dari model bisnis yang memadukan efisiensi operasional, pengelolaan sumber daya manusia yang kuat, serta hubungan jangka panjang dengan petani.
“Kami tidak membangun bisnis kopi, kami membangun ekosistem tetangga. Semua harus tumbuh bersama,” tegas Andanu Prasetyo, CEO dan Founder TUKU saat merayakan Satu Dekade Bertetangga, baru-baru ini
Hingga saat ini, Toko Kopi TUKU telah mengelola jaringan lebih dari 1.040 barista dan menjual rata-rata 78.000 cangkir kopi setiap hari dengan target hingga akhir 2025 mampu mengembangkan 72 gerai aktif di berbagai kota besar, termasuk ekspansi ke dua titik penting: Bali dan Amsterdam.
Langkah menuju Belanda menjadi momen penting bukan hanya secara bisnis, tapi juga simbolisasi misi budaya.
Strategi TUKU juga mencakup hulu. Melalui unit bisnis Beragam, TUKU bermitra langsung dengan 630 petani kopi dan 275 petani gula aren.
Program agroforestri Bersemi juga diluncurkan, menanam lebih dari 5.000 pohon di tiga wilayah konservasi, sebagai komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan.
“Pertumbuhan terbaik adalah pertumbuhan yang dilakukan bersama. TUKU tidak akan ada tanpa gotong royong dari hulu ke hilir,” kata Vella Siahaya, Chief Experience Officer (CXO) TUKU.
Salah satu pilar sukses TUKU adalah budaya kerjanya. Dengan skor eNPS 73 kategori “sangat tinggi” dan tingkat turnover hanya 3 persen, TUKU menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis bukan hanya soal produk, tapi juga soal manusia di baliknya.
TUKU kini membentuk ekosistem usaha yang lebih luas. Dari lini retail TOSERBAKU hingga grup F&B SUKA yang membawahi merek TOHO, Futago, dan Minarwati, perusahaan membangun bisnis yang menyentuh berbagai aspek gaya hidup urban dengan tetap mempertahankan akar lokal dan rasa kebersamaan.
“Ini baru permulaan. Selama masih ada tetangga yang bisa disapa dan cerita yang bisa dibagi, kami akan terus berjalan. Dengan kopi, dengan hati,” tutur Vella.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi Andanu Prasetyo, CEO dan Founder TUKU untuk membuktikan bahwa Toko Kopi TUKU bukan sekadar kedai rumahan tapi telah menjelma menjadi bisnis yang bertumbuh dan berkelanjutan dengan pertumbuhan profit tahunan mencapai 356 persen dan rencana ekspansi internasional yang tengah dipersiapkan.
Baca juga: Kisah Toko Kopi Tuku, Buka Kedai di Korea Sampai Beli Naming Rights MRT Cipete
Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit, PT Karya Tetangga Tuku mampu mencatat pertumbuhan laba bersih rata-rata (CAGR) 141 persen dalam tiga tahun terakhir, dengan pendapatan yang naik 88 persen secara tahunan.
Namun, pertumbuhan ini bukan semata hasil ekspansi toko tapi buah dari model bisnis yang memadukan efisiensi operasional, pengelolaan sumber daya manusia yang kuat, serta hubungan jangka panjang dengan petani.
“Kami tidak membangun bisnis kopi, kami membangun ekosistem tetangga. Semua harus tumbuh bersama,” tegas Andanu Prasetyo, CEO dan Founder TUKU saat merayakan Satu Dekade Bertetangga, baru-baru ini
Hingga saat ini, Toko Kopi TUKU telah mengelola jaringan lebih dari 1.040 barista dan menjual rata-rata 78.000 cangkir kopi setiap hari dengan target hingga akhir 2025 mampu mengembangkan 72 gerai aktif di berbagai kota besar, termasuk ekspansi ke dua titik penting: Bali dan Amsterdam.
Langkah menuju Belanda menjadi momen penting bukan hanya secara bisnis, tapi juga simbolisasi misi budaya.
Strategi TUKU juga mencakup hulu. Melalui unit bisnis Beragam, TUKU bermitra langsung dengan 630 petani kopi dan 275 petani gula aren.
Program agroforestri Bersemi juga diluncurkan, menanam lebih dari 5.000 pohon di tiga wilayah konservasi, sebagai komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan.
“Pertumbuhan terbaik adalah pertumbuhan yang dilakukan bersama. TUKU tidak akan ada tanpa gotong royong dari hulu ke hilir,” kata Vella Siahaya, Chief Experience Officer (CXO) TUKU.
Salah satu pilar sukses TUKU adalah budaya kerjanya. Dengan skor eNPS 73 kategori “sangat tinggi” dan tingkat turnover hanya 3 persen, TUKU menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis bukan hanya soal produk, tapi juga soal manusia di baliknya.
TUKU kini membentuk ekosistem usaha yang lebih luas. Dari lini retail TOSERBAKU hingga grup F&B SUKA yang membawahi merek TOHO, Futago, dan Minarwati, perusahaan membangun bisnis yang menyentuh berbagai aspek gaya hidup urban dengan tetap mempertahankan akar lokal dan rasa kebersamaan.
“Ini baru permulaan. Selama masih ada tetangga yang bisa disapa dan cerita yang bisa dibagi, kami akan terus berjalan. Dengan kopi, dengan hati,” tutur Vella.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.