Katering B2B, Pilar Baru Bisnis Kuliner di Tengah Tekanan Ekonomi
02 July 2025 |
15:01 WIB
Bisnis kuliner di Indonesia terus menunjukkan ketahanannya, bahkan di tengah kondisi ekonomi yang menuntut masyarakat untuk lebih selektif dalam membelanjakan uang. Di tengah tantangan ini, sektor katering business-to-business (B2B) justru muncul sebagai salah satu model usaha yang menjanjikan.
Berbeda dengan bisnis kuliner pada umumnya, katering B2B tidak hanya menyuplai makanan untuk konsumen individu, tetapi juga menangani kebutuhan logistik makanan dalam skala besar. Layanan ini mencakup berbagai sektor, mulai dari perkantoran, proyek industri, hingga penyelenggaraan ibadah haji, menjadikannya relevan dan krusial dalam berbagai konteks operasional.
Baca juga: Makin Moncer, Begini Peluang & Tantangan Bisnis Katering Pernikahan di Indonesia
Menurut Anthony Gunawan, Founder & CEO Wadah Kuliner (Waku), potensi bisnis katering B2B di Indonesia sangat besar, dengan nilai pasar yang bisa mencapai Rp1.000 triliun hanya dari wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Permintaan yang tinggi berasal dari kebutuhan makan harian karyawan pabrik, tambang, dan kantor, serta kegiatan operasional dan acara khusus lainnya. Pasar yang masih terfragmentasi ini juga membuka peluang bagi pemain baru, asalkan mampu menjaga standar kualitas dan efisiensi.
Salah satu keunggulan model B2B adalah sistem kontrak jangka panjang yang memberikan kestabilan arus kas. Klien biasanya menggunakan layanan katering untuk periode mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Ini memungkinkan pelaku usaha lebih fokus pada operasional dan peningkatan kualitas tanpa perlu terus mencari pelanggan baru.
Dari sisi produksi, skala pesanan dalam bisnis ini dapat mencapai jutaan porsi per bulan. Misalnya, Waku memproduksi sekitar tiga juta porsi per bulan, termasuk satu juta porsi untuk proyek haji. Skala besar ini membantu menekan biaya per unit dan memungkinkan investasi pada teknologi serta standar keamanan pangan tinggi.
Katering B2B modern juga menawarkan solusi terintegrasi. Sebelumnya, perusahaan sering kali harus bekerja sama dengan banyak vendor untuk kebutuhan makanan, minuman, dan layanan prasmanan. Kini, semuanya bisa disediakan oleh satu penyedia dalam sistem terpadu yang lebih efisien dan minim risiko.
Untuk memperluas jangkauan layanan, Waku menggandeng 60 dapur mitra di 22 kota, alih-alih membangun dapur sendiri. Mitra dipilih berdasarkan kelengkapan sertifikasi, seperti halal, ISO, dan BPOM. Strategi kolaborasi ini mendukung ekspansi cepat, termasuk ke pasar internasional seperti Timur Tengah melalui kerja sama dengan dapur dan logistik setempat.
Potensi bisnis Waku semakin kuat seiring dengan akuisisi yang dilakukan oleh DailyCo, yang memperkuat posisi perusahaan dalam menggarap pasar katering B2B secara lebih maksimal.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berbeda dengan bisnis kuliner pada umumnya, katering B2B tidak hanya menyuplai makanan untuk konsumen individu, tetapi juga menangani kebutuhan logistik makanan dalam skala besar. Layanan ini mencakup berbagai sektor, mulai dari perkantoran, proyek industri, hingga penyelenggaraan ibadah haji, menjadikannya relevan dan krusial dalam berbagai konteks operasional.
Baca juga: Makin Moncer, Begini Peluang & Tantangan Bisnis Katering Pernikahan di Indonesia
Menurut Anthony Gunawan, Founder & CEO Wadah Kuliner (Waku), potensi bisnis katering B2B di Indonesia sangat besar, dengan nilai pasar yang bisa mencapai Rp1.000 triliun hanya dari wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Permintaan yang tinggi berasal dari kebutuhan makan harian karyawan pabrik, tambang, dan kantor, serta kegiatan operasional dan acara khusus lainnya. Pasar yang masih terfragmentasi ini juga membuka peluang bagi pemain baru, asalkan mampu menjaga standar kualitas dan efisiensi.
Salah satu keunggulan model B2B adalah sistem kontrak jangka panjang yang memberikan kestabilan arus kas. Klien biasanya menggunakan layanan katering untuk periode mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Ini memungkinkan pelaku usaha lebih fokus pada operasional dan peningkatan kualitas tanpa perlu terus mencari pelanggan baru.
Dari sisi produksi, skala pesanan dalam bisnis ini dapat mencapai jutaan porsi per bulan. Misalnya, Waku memproduksi sekitar tiga juta porsi per bulan, termasuk satu juta porsi untuk proyek haji. Skala besar ini membantu menekan biaya per unit dan memungkinkan investasi pada teknologi serta standar keamanan pangan tinggi.
Katering B2B modern juga menawarkan solusi terintegrasi. Sebelumnya, perusahaan sering kali harus bekerja sama dengan banyak vendor untuk kebutuhan makanan, minuman, dan layanan prasmanan. Kini, semuanya bisa disediakan oleh satu penyedia dalam sistem terpadu yang lebih efisien dan minim risiko.
Untuk memperluas jangkauan layanan, Waku menggandeng 60 dapur mitra di 22 kota, alih-alih membangun dapur sendiri. Mitra dipilih berdasarkan kelengkapan sertifikasi, seperti halal, ISO, dan BPOM. Strategi kolaborasi ini mendukung ekspansi cepat, termasuk ke pasar internasional seperti Timur Tengah melalui kerja sama dengan dapur dan logistik setempat.
Potensi bisnis Waku semakin kuat seiring dengan akuisisi yang dilakukan oleh DailyCo, yang memperkuat posisi perusahaan dalam menggarap pasar katering B2B secara lebih maksimal.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.