Daging menjadi protein favorit. (Sumber gambar : Luis Quintera/Unsplash)

Awas! Kalap Makan Daging Olahan Bisa Bikin Batu Empedu

11 September 2023   |   19:15 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Konsumsi makanan berlemak seperti daging olahan atau gorengan cukup tinggi di tengah masyarakat. Adanya rumah  makan dengan konsep all you can eat, kerap kali membuat orang kalap untuk mengkonsumsinya. Meskipun tampak menggugah selera dan nikmat ketika menyantapnya, di satu sisi risiko kesehatan mengintai.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata konsumsi daging sapi/kerbau di Indonesia pada 2022 sebesar 0,010 kilogram (kg) per kapita per minggu. Angka itu naik dibandingkan tahun sebelumnya, sebesar 0,009 kg per kapita per minggu, menjadi rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Baca juga: Kiat Mengolah Daging Agar Nutrisinya Tetap Terjaga

Konsultan Gastroentero–Hepatologi Eka Hospital BSD dr. Murdani Abdullah, mengatakan daging olahan memiliki kadar lemak tinggi. Risikonya, bisa menimbulkan pembentukan batu pada kantung empedu. 

Adapun pembentukan batu pada kantung empedu disebabkan karena jumlah empedu untuk melarutkan kolesterol yang dikeluarkan oleh liver lebih sedikit daripada jumlah kolesterol itu sendiri. “Kelebihan kolesterol dapat terbentuk menjadi kristal dan akhirnya menjadi batu,” ujarnya dikutip Hypeabis.id, Senin (11/9/2023).

Biasanya, orang yang memiliki batu empedu dalam tubuh mungkin tidak menimbulkan tanda atau gejala. Namun, apabila batu empedu tersebut tersangkut di leher kantong empedu, dapat menyebabkan peradangan pada kantong empedu. Kondisi lainnya yakni menyumbat saluran kantung empedu yang seharusnya dapat mengalirkan empedu dari kantung empedu atau hati ke usus kecil. 

Nah, ketika terjadi peradangan serta penyumbatan ini, barulah timbul gejala sepeti nyeri yang tiba-tiba dan meningkat dengan cepat di bagian kanan atas perut atau di bagian tengah perut, tepat di bawah tulang dada. Kemudian, nyeri punggung di antara tulang belikat dan bahu kanan. Gejala lainnya yakni kulit dan mata tampak kuning, BAB berwarna dempul (pucat), serta mual atau muntah

Murdani lebih lanjut menyampaikan batu empedu terbagi dalam dua jenis. Pertama, batu empedu kolesterol.

Jenis batu empedu ini yang paling umum. Disebut batu empedu kolesterol karena sering tampak berwarna kuning. Batu empedu ini sebagian besar terdiri dari kolesterol yang tidak larut, tetapi mungkin mengandung komponen lain.

Kedua yakni batu empedu pigmen. Batu coklat tua atau hitam ini terbentuk ketika empedu mengandung terlalu banyak bilirubin. Adapun bilirubin merupakan pigmen berwarna orange-kuning yang terbentuk secara alami sebagai hasil dari pemecahan sel darah merah yang sudah tua.

Lantas, bagaimana mengobati batu empedu? Murdani pengobatan akibat batu yang menyumbat saluran empedu dapat ditangani dengan tindakan Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP). Metode ini dapat meminimalisir pembedahan.

“ECRP dapat menjangkau batu di saluran empedu, dapat dikeluarkan tanpa harus dilakukan operasi,” tambahnya.

ERCP merupakan kombinasi dari dua jenis pemeriksaan, yakni endoskopi dan foto rontgen (x-ray). Metode ini memerlukan alat radiologi dengan kemampuan tinggi, monitor televisi, serta ketrampilan khusus dari ahli endoskopi. 

Teknik ERCP dimulai dengan memasukkan endoskop “optik samping” sampai duodenum dan mencari papila Vateri yang merupakan muara bersama dari duktus koledokus dan dari duktus pankreatikus. Kemudian, dilakukan kanulasi dari muara papila dengan kateter yang dimasukkan melalui kanal skop. 

Langkah berikutnya, media kontras disuntikkan melalui kateter tersebut sehingga didapatkan kolangiogram atau pankreatogram yang akan terlihat pada monitor televisi. Selain digunakan untuk mengatasi batu pada saluran empedu, ERCP katanya dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis berbagai gangguan pada saluran empedu dan pankreas.

Ganguan tersebut diantaranya, sumbatan saluran empedu akibat striktur (penyempitan) benign. Lalu, tumor atau kanker pada pankreas maupun saluran empedu. Trauma di saluran empedu dan pankreas, hingga pankreas divisum atau kelainan dimana pankreas memiliki dua saluran terpisah.

Untuk mencegah terkena batu empedu, Murdani menyarankan agar masyarakat memperhatikan kadar konsumsi makanan. Jangan lupa selau konsumsi makan makanan sehat dah pastikan olahraga teratur.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Head to Head Timnas Indonesia U-23 vs Turkmenistan U-23, Garuda Muda Dihantui Rekor Buruk

BERIKUTNYA

Konten Kreator Wajib Simak, Begini Cara Memilih Laptop yang Tepat

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: