Merayakan Karya Baru Sapardi, Menyemarakkan Puisi di Ujung Bulan Juni
30 June 2025 |
16:26 WIB
Sore itu, Jakarta basah. Hujan mengguyur kota sejak siang hingga sore hari di penghujung bulan Juni. Di salah satu sudut M Bloc Space, tempat kumpul anak-anak muda kekinian, tampak keramaian. Orang-orang sedang merayakan kelahiran karya baru Sapardi, merayakan puisi di ujung Juni.
Sekitar dua dekade lalu, dengan dibungkus amplop coklat, berkas asli kumpulan puisi itu dititipkan Sapardi ke Reda Gaudiamo, penulis sekaligus mahasiswanya di Universitas Indonesia (UI). Kala itu, Sapardi tidak memberi tahu Reda apa isi dari amplopnya. Dia hanya meminta sang murid untuk menyimpannya.
Begitupun dengan Balqis (23). Di acara tersebut, dia menjadi salah satu pengunjung yang turut membacakan karya puisi Sapardi di panggung kecil. Pada kesempatan tersebut, dia juga bercerita bahwa dia sangat terinspirasi dengan sosok Sapardi, hingga memotivasinya untuk mulai menulis puisi.
Salah satu buku Sapardi yang paling menginspirasinya ialah kumpulan sajak Ayat-Ayat Api (2017). Menurutnya, buku itu memuat sajak-sajak dengan permainan kata yang apik, sehingga menyentuh sisi emosionalnya sebagai pembaca. "Gara-gara buku Ayat-Ayat Api, aku termotivasi untuk nulis puisi. Dialog-dialog sentimentil di buku itu bikin aku pengen tahu lebih dan lebih lagi tentang buku-buku puisi," katanya.
Baca juga: Cerita Reda Gaudiamo Soal Naskah Rubaiyat Den Sastro yang Tersimpan Selama 2 Dekade
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sapardi Djoko Damono telah berpulang sejak beberapa tahun lalu. Akan tetapi, rupanya sang penyair masih menyimpan kumpulan puisi yang belum pernah diterbitkannya. Antologi puisi yang telah tersimpan sejak dua dekade lalu itu diberi judul Rubaiyat Den Sastro. Sajak-sajak yang dimuat dalam buku tersebut ditulisnya pada 2004-2005.
Sekitar dua dekade lalu, dengan dibungkus amplop coklat, berkas asli kumpulan puisi itu dititipkan Sapardi ke Reda Gaudiamo, penulis sekaligus mahasiswanya di Universitas Indonesia (UI). Kala itu, Sapardi tidak memberi tahu Reda apa isi dari amplopnya. Dia hanya meminta sang murid untuk menyimpannya.
Reda pun menyimpan berkas asli tersebut di sebuah koper berisi banyak dokumen penting di rumahnya. Naskah tersebut tak pernah dibuka hingga akhirnya pada Desember 2024, Reda memberi tahu Sonya Indriati Sondakh, istri Sapardi, terkait keberadaan kumpulan sajak itu.
Akhirnya, naskah itu pun kini diterbitkan menjadi buku antologi puisi oleh penerbit Indonesia Tera berjudul Rubaiyat Den Sastro.
Baca juga: Rubaiyat Den Sastro, Warisan Sapardi Djoko Damono Suguhkan Ruang Refleksi pada Era Digital
Akhirnya, naskah itu pun kini diterbitkan menjadi buku antologi puisi oleh penerbit Indonesia Tera berjudul Rubaiyat Den Sastro.
Baca juga: Rubaiyat Den Sastro, Warisan Sapardi Djoko Damono Suguhkan Ruang Refleksi pada Era Digital

Arsip naskah asli Rubaiyat Den Sastro dan Hujan Puisi di Ujung Juni di pameran mini Sapardi Djoko Damono di M Bloc Space, Minggu (29/6/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)
Selain sajak-sajak tersebut, hadir juga kisah-kisah yang ditulis oleh keluarga, sahabat, editor, penyair muda, hingga mahasiswa Sapardi seperti Dee Lestari, Hilmar Farid, dan Dorothea Rosa, yang mengisahkan sosok sastrawan legendaris itu berjudul Akhirnya, Rubaiyat Den Sastro Tiba. Termasuk, hadir juga ilustrasi visual yang dibuat oleh perupa asal Yogyakarta, Iwan Effendi.
Kelahiran buku monumental itu pun dirayakan dengan suka cita. Di Creative Hall M Bloc Space, hadir rangkaian acara mulai dari panggung pembacaan puisi, diskusi, bazar buku, hingga pameran mini yang dibuat untuk mengenang Sapardi Djoko Damono.
Dalam acara tersebut, pengunjung bisa melihat sejumlah karya kumpulan puisi dan terjemahan dari Sapardi, serta barang-barang pribadi sang penyair seperti foto dan lukisan, pakaian dan topi flatcap ikoniknya, hingga piagam penghargaan Bacharuddin Jusuf Habibie Award 2016 atas karyanya di bidang Ilmu Kebudayaan.
Selain itu, dipajang pula kumpulan buku Sapardi yang diterbitkan oleh Penerbit Editum yang didirikannya pada 2009. Penerbit ini didirikan Sapardi sebagai respons atas kinerja sejumlah penerbit yang kala itu sempat membuatnya kecewa.
Meski berumur pendek, penerbit indie ini menjadi sebuah wadah perjuangan Sapardi untuk menyebarluaskan karyanya. Melalui Penerbit Editum, dia menerbitkan sendiri karya-karyanya mulai dari puisi, novel termasuk karya penulis lain.
Founder PatjarMerah Windy Ariestanty mengatakan acara perayaan Rubaiyat Den Sastro dan Hujan Puisi di Ujung Juni dibuat lantaran Sapardi merupakan sosok penting dalam dunia sastra Indonesia. Acara ini juga diharapkan bisa menjadi 'pintu masuk' untuk mengenalkan sosoknya terutama untuk kalangan anak muda.
Menurutnya, karya-karya puisi Sapardi sampai hari ini masih dikenal dan dibicarakan di mana-mana termasuk media sosial. Tapi, mungkin banyak anak muda yang tidak begitu mengenal dengan sosok sang penyair dan kontribusinya untuk perkembangan sastra Indonesia, sehingga acara ini diharapkan bisa menjadi pintu untuk mengenalnya.
"Agar ada regenerasi pengetahuan dengan generasi yang sekarang. Makanya kalau dilihat kan, justru yang kami rangkul adalah mereka yang masih muda," katanya saat ditemui Hypeabis.id di M Bloc Space, Minggu (29/6/2025).


Pameran mini Sapardi Djoko Damono di M Bloc Space, Minggu (29/6/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)
Windy menambahkan acara perayaan tersebut dibuat terinspirasi dengan semangat kolektif yang dimiliki sang penyair. Sapardi, katanya, adalah sosok sastrawan yang selalu ingin membantu dan membuat orang-orang di sekelilingnya juga bisa berkarya.
Hal itu pun diwujudkan Patjar Merah dan penerbit Indonesia Tera yang menggandeng banyak penerbit buku dan komunitas sastra, termasuk komunitas-komunitas anak muda untuk merayakan kelahiran karya baru dari Sapardi.
"Bahwa dia tidak pernah berjalan sendiri ya, dia selalu mengajak siapa saja terlibat, bahkan dalam karyanya sekalipun. Itu karakter Pak Sapardi. Makanya karakter dia yang seperti itu yang coba kami munculkan di acara ini," imbuhnya.
Acara yang hanya digelar satu hari itu pun disambut antusias oleh publik. Sejak siang hingga sore hari banyak orang yang didominasi anak muda datang, mulai dari sekadar melihat pameran, membeli buku, mengikuti diskusi, atau menjajal aktivasi menarik lainnya seperti membuat puisi.
Beberapa anak muda juga tampak antusias tampil di sebuah panggung kecil yang disediakan, baik untuk membaca karya puisi Sapardi ataupun menceritakan sudut pandangnya tentang sosok sang penyair. Di panggung ini, karya-karya Sapardi menggema dan dirayakan.

Koleksi buku "Den Sastro" Sapardi Djoko Damono di pameran mini Sapardi Djoko Damono di M Bloc Space, Minggu (29/6/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)
Ilham (25) menjadi salah satu pengunjung yang datang. Dia tertarik untuk datang ke acara perayaan Rubaiyat Den Sastro dan Hujan Puisi di Ujung Juni karena sosok Sapardi yang menurutnya sangat menginspirasi, khususnya di dunia puisi. Karya-karya Sapardi juga yang mendorongnya untuk mulai menulis puisi.
Dia hadir juga karena karyanya terpilih dalam program Los Buku Puisi & Sastra PatjarMerah & Balzac. Buku yang diterbitkannya sendiri terpilih untuk bisa ditampilkan di acara tersebut dan menemui langsung para pembacanya.
"Kalo enggak salah dulu pas di wawancara tuh Sapardi pernah bilang kalo tugas dari penyair tuh bukan buat kata-kata yang indah tapi menggali istilah-istilah baru. Nah, Sapardi mungkin menjalankan fungsi itu ya. Jadi ada kata-kata baru, kosakata baru yang ditampilin di puisi-puisinya. Itu tugas penyair menurut Sapardi, dan saya setuju," katanya.
Begitupun dengan Balqis (23). Di acara tersebut, dia menjadi salah satu pengunjung yang turut membacakan karya puisi Sapardi di panggung kecil. Pada kesempatan tersebut, dia juga bercerita bahwa dia sangat terinspirasi dengan sosok Sapardi, hingga memotivasinya untuk mulai menulis puisi.
Salah satu buku Sapardi yang paling menginspirasinya ialah kumpulan sajak Ayat-Ayat Api (2017). Menurutnya, buku itu memuat sajak-sajak dengan permainan kata yang apik, sehingga menyentuh sisi emosionalnya sebagai pembaca. "Gara-gara buku Ayat-Ayat Api, aku termotivasi untuk nulis puisi. Dialog-dialog sentimentil di buku itu bikin aku pengen tahu lebih dan lebih lagi tentang buku-buku puisi," katanya.
Baca juga: Cerita Reda Gaudiamo Soal Naskah Rubaiyat Den Sastro yang Tersimpan Selama 2 Dekade
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.