Pemandangan kawasan Taman Nasional Komodo dari Bukit Padar Labuan Bajo. (Foto: Hypeabis.id)

Island Hopping Sehari di Labuan Bajo: Pulau Padar hingga Pink Beach

30 June 2025   |   14:30 WIB
Image
Fajar Sidik Hypeabis.id

Labuan Bajo dikenal sebagai ‘mutiara tersembunyi’ di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dan merupakan destinasi wisata kelas dunia yang menarik wisatawan dari berbagai belahan bumi. Meski belum seramai Bali, daya tarik utama Bajo adalah keindahan pantai dan alam bawah lautnya yang asri, membuat penasaran untuk dijelajahi.

Dari hamparan laut dan barisan perbukitannya, hingga keanekaragaman biota lautnya, Labuan Bajo menawarkan pengalaman wisata yang diakui sebagai destinasi kelas dunia. Berbagai kegiatan menarik banyak tersedia, mulai dari diving, snorkeling, berinteraksi langsung dengan satwa purba langka, hingga mendaki bukit untuk menyaksikan eksotisme panorama di kawasan yang menjadi situs Warisan Dunia UNESCO. 

Pada akhir Mei 2025, Hypeabis.id bersama rombongan jurnalis dari Jakarta berkesempatan menjelajahi Labuan Bajo dalam rangka Press Gathering dan CSR Penanaman Terumbu Karang oleh ASDP Indonesia Ferry, sebuah inisiatif untuk menjaga kelestarian ekosistem bawah laut di Labuan Bajo. 

Baca juga: Menyemai Asa di Dasar Laut Waecicu Labuan Bajo

Perjalanan dimulai pagi hari sekitar pukul 07.00 WITA, dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo, yang persis satu area dengan Hotel Meruorah, tempat kami bermalam. Sebagai gambaran, untuk mencapai Marina Labuan Bajo dari Bandara Internasional Komodo (LBJ), wisatawan hanya perlu menempuh jarak sekitar 3 kilometer, yang berarti sekitar 10 menit perjalanan dengan kendaraan.

Lokasinya yang strategis dan lalu lintas yang sepi, membuat akses dari bandara ke pelabuhan relatif mudah dijangkau. Untuk island hopping di Labuan Bajo, harga sewa speed boat untuk rombongan atau grup tur bervariasi tergantung ukuran kapal, fasilitas, dan rute yang diambil. Ada juga pilihan sewa kapal Pinisi dan kapal pesiar (cruise) yang lebih privat dan eksklusif 

Secara umum, untuk satu hari penuh perjalanan hopping island ke destinasi populer seperti Pulau Padar, Pulau Komodo, dan Pink Beach, biayanya berkisar Rp4,5 juta hingga Rp10 juta. Harga ini biasanya sudah termasuk kapten, kru/pemandu perjalanan, alat snorkeling, tiket destinasi wisata, makan siang, dan air mineral.

Untuk paket perorangan atau grup kecil, pilihan open trip bisa jadi pilihan ekonomis. Harga paket perorangan untuk wisata sehari berkisar Rp600.000-Rp1,5 juta per orang tergantung jumlah destinasi dan fasilitasnya. Semua harga itu mungkin akan lebih tinggi pada puncak musim liburan.

Tak sabar untuk jelajah pulau Labuan Bajo, kami berjumlah 20-an orang bergegas menaiki speed boat yang siap membawa rombongan menembus biru laut Labuan Bajo menuju tiga ikon destinasi populer, yaitu Pulau Padar, Pulau Komodo, dan Pantai Pink (Pink Beach).

Destinasi pertama ke Pulau Padar, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam lebih dengan kapal cepat. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh gugusan perbukitan yang menjulang megah di tengah lautan biru, diselingi pemandangan kapal-kapal Phinisi ikonik yang berlayar silih berganti.

Setibanya di Pulau Padar, tentu harus siap untuk mendaki. Pulau ini dikenal dengan bukitnya yang menawarkan lanskap keseluruhan Taman Nasional Komodo, sebagaimana terpampang pada uang kertas rupiah pecahan Rp50.000.

Sebelum matahari terlalu terik, sekitar pukul 08.30 WITA, kami mulai bergegas mendaki. Jalur pendakian dimulai dengan puluhan anak tangga yang terbuat dari kayu, lalu diselingi dengan jalur tanah di beberapa bagian mendatar. Medannya terbilang ramah untuk semua usia, dilengkapi dengan pagar pengaman pada area-area berbahaya dan pos-pos peristirahatan.

Antusiasme tak terbendung. Sepanjang perjalanan, kami tak henti-hentinya mengabadikan momen dengan mengambil foto dan video pemandangan sambil selfie dan foto bersama. Dengan mode mendaki santai, perjalanan ke puncak yang harusnya bisa ditempuh kurang dari setengah jam, menjadi lebih lama, sekitar 1 jam, dengan total 800-an anak tangga.

Di puncak, Padar yang tidak lebih dari 400 meter di atas permukaan laut, hamparan pemandangan menakjubkan Taman Nasional Komodo terbentang luas tanpa sekat. Lanskapnya berupa perpaduan pantai pasir putih, bukit-bukit hijau yang sedikit gersang, dan gradasi warna biru laut, semuanya berpadu indah dan menjadi objek yang Instagramable.
 

.

(Foto: Hypeabis.id).

Puas berfoto dan duduk sejenak di atas bebatuan sambil menikmati lukisan alam, kami pun bersiap kembali menuruni bukit di jalur yang sama, untuk melanjutkan hopping island ke destinasi berikutnya, yaitu Pulau Komodo.

Perjalanan dari Pulau Padar ke Pulau Komodo tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20-30 menit dengan kapal cepat. Pulau Komodo sebagai salah satu dari tiga pulau besar yang membentuk Taman Nasional Komodo adalah Situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal sebagai habitat alami kadal raksasa purba dengan nama ilmiahnya, varanus komodoensis.

Pulau ini merupakan rumah bagi ribuan Komodo yang hidup liar, bersama dengan spesies endemik lainnya. Ekosistemnya yang unik terdiri dari padang savana, hutan bakau, dan pantai berpasir menjadi tempat tinggal berbagai satwa liar.

Sesampai di Pulau Komodo, kami disambut beberapa ekor anak komodo. Dua di antaranya tengah beristirahat di bawah pohon, sedikit samar di antara kayu-kayu yang berserakan. Menurut warga setempat, komodo tersebut sebenarnya tengah melakukan ‘penyamaran’ untuk mencari mangsa, dan bisa menyerang manusia.

Sebagai wisata alam liar, berjalan ke area Taman Nasional Komodo wajib didampingi pemandu resmi yang terlatih (ranger). Pasalnya, komodo-komodo tersebut adalah satwa buas yang mengandalkan rantai makanan alami di habitatnya dan dapat menjadi ancaman jika tidak diwaspadai.

Dua orang ranger menemani rombongan menyusuri area Taman Nasional. Mereka menjelaskan bahwa untuk mengurangi risiko, kami mengambil rute terpendek sekitar 1,7 km. Sebelum berangkat, dijelaskan pula aturan pengunjung di Taman Nasional Komodo demi menjaga keselamatan wisatawan dan kelestarian habitat komodo.

Misalnya, pengunjung dilarang membuat suara bising yang dapat mengganggu komodo, dilarang berlari dan membuat gerakan tiba-tiba karena dapat memicu insting berburu komodo, dan dilarang memberi makan komodo karena dapat mengubah perilaku alami mereka dan membahayakan.

Rombongan pun mulai berjalan menyusuri jalur setapak sambil mendengarkan pemandu menjelaskan beberapa temuan sepanjang rute, seperti jejak Komodo, jumlah spesiesnya, hingga rantai makanan di kawasan itu. 

Baca juga: Gua Batu Cermin, Destinasi Wisata di Labuan Bajo yang Tidak Boleh Dilewatkan
 

.

.(Foto: Hypeabis.id)

Setelah berjalan beberapa ratus meter, kami pun berhasil menemukan komodo berukuran cukup besar yang tengah beristirahat, dengan salah satu kakinya bengkak terluka. Kami memanfaatkan momen itu untuk berfoto bergantian dan foto grup, tentu saja dengan jarak aman dan di bawah pengawasan ranger.

Meskipun jumlah kadal raksasa di sana ada ribuan sekitar 3.000 lebih, yang tersebar di tiga kawasan Taman Nasional, ternyata untuk menemukan Komodo di dalam hutan itu juga ada faktor keberuntungan. Di dalam hutan, kami hanya menemukan dua ekor saja, dan tidak berhasil menemukan Komodo berukuran raksasa. Padahal menurut pemandu, komodo biasanya akan lebih banyak terlihat berkeliaran di Taman Nasional Komodo pada April hingga Juni, dan Oktober.

Belum puas di situ, perjalanan dilanjutkan melihat langsung tempat Komodo berkembang biak, berupa gunungan pasir di atas tanah, tempat induk Komodo menyembunyikan telur-telurnya. Proses komodo berkembang biak dimulai ketika induk betina menggali lubang di dalam tanah atau menggunakan sarang tua.

Induk Komodo akan bertelur sekitar 15-30 butir, lalu menutupinya dengan tanah dan dedaunan untuk melindunginya dari predator dan menjaga suhu yang stabil. Telur-telur ini akan menetas setelah sekitar 7-8 bulan masa inkubasi.

Setelah menetas, cara anak komodo bertahan hidup sangat menarik. Mereka segera memanjat pohon untuk menghindari predator, termasuk induknya sendiri atau komodo dewasa lainnya, yang dapat menganggapnya sebagai mangsa.

“Bayi Komodo bisa menghabiskan beberapa tahun pertama hidup di atas pohon, memangsa serangga, burung, dan reptil kecil, hingga ukuran mereka cukup besar untuk turun ke tanah dan berburu mangsa yang lebih besar,” jelas ranger.

Rute sekitar 45 menit trekking itu memang singkat dan hanya menemukan beberapa ekor kadal saja. Namun begitu, jelajah Taman Nasional Komodo kala itu cukup mengesankan lantaran dapat melihat reptil yang dilindungi itu langsung di habitatnya.

 

Pink Beach. (Foto: Hypeabis.id)

Pink Beach. (Foto: Hypeabis.id)

Puas berpetualang di Pulau Komodo, tujuan terakhir kami adalah ke pantai paling ikonik Labuan Bajo, yaitu Pink Beach. Hampir sama dengan perjalanan sebelumnya, waktu tempuh ke pantai ini sekitar 20 menit.

Pemandangan pasir berwarna merah muda pun langsung membelalak mata setibanya kami di bibir pantai ini. Keindahan Pink Beach akan memukau setiap mata yang melihatnya. Warna merah muda pada pasirnya berasal dari fragmen koral merah yang bercampur dengan pasir putih. Kontras dengan birunya air laut dan hijaunya bukit di sekitarnya, menciptakan lanskap yang sangat unik dan memanjakan mata.

Hari menjelang petang, cuaca masih sedikit terik, menjadikan Pink Beach destinasi yang tepat untuk melepas lelah sambil bermain air. Di sini, wisatawan dapat mandi di pantai dan snorkeling di sekitarnya, untuk menikmati pemandangan bawah lautnya yang memesona. Setelah puas bermain, rombongan pun bergegas kembali ke Marina di Meruorah, sebelum senja menyergap.

Perjalanan island hopping seharian di Labuan Bajo ini sangat berkesan. Dari mendaki bukit di Pulau Padar dengan lukisan laut dan barisan perbukitan, berinteraksi langsung dengan Komodo di habitat aslinya, hingga bersantai di Pantai Pink, tak diragukan jika Labuan Bajo dijadikan sebagai destinasi wisata superprioritas.

Baca juga: Cek 4 Alasan Mengapa Labuan Bajo Wajib Jadi Tujuan Destinasi saat Melancong

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Parasite Dinobatkan Sebagai Film Terbaik Abad ke-21

BERIKUTNYA

Fakta Menarik dan Sejarah Hari Asteroid Sedunia yang Diperingati Setiap 30 Juni

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga