ilustrasi (sumber gambar : Pixabay/pexels)

Segini Nilai Investasi dan Keuntungan Usaha Almaz Fried Chicken, Ayam Goreng Viral ala Timteng

30 June 2025   |   08:24 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah maraknya waralaba kuliner cepat saji di Indonesia, Almaz Fried Chicken mencuri perhatian dengan konsep ayam goreng khas Arab Saudi. Didirikan oleh Okta Wirawan sejak Juni 2024 di bawah bendera usaha PT Abuya Berkah Indonesia (Abindo) yang juga menaungi Nasi Kebuli Abuya. 

Almaz menawarkan peluang usaha melalui skema kemitraan yang diklaim minim risiko dan tanpa perlu terjun langsung ke dapur. Mengusung konsep ayam goreng dengan rempah ala Timur Tengah seperti yang populer di Mekkah, Almaz menyajikan menu yang berbeda dari ayam goreng Amerika yang mendominasi pasar.

Di antaranya terdapat varian Ayam Goreng Saudi dengan bumbu khas Timur Tengah kaya rempah dalam varian original dan pedas; nasi kebuli yang disajikan dengan potonga ayam goreng saudi, hingga susu kurma sebagai pelengkap. 

Baca juga: Cek Harga Franchise D'Kriuk Fried Chicken yang Punya Ribuan Outlet 

Salah satu daya tarik utama Almaz adalah sistem kemitraan autopilot. Calon mitra hanya perlu menyiapkan modal investasi awal, sementara operasional sepenuhnya ditangani oleh tim pusat. Skema ini menarik minat investor yang ingin terjun di bisnis kuliner tanpa pengalaman teknis.

Untuk paket Superstore yang terdiri dari dua ruko dua lantai di jalur utama, investasinya sekitar Rp1 miliar sampai Rp2 miliar dengan renovasi sederhana, di luar biaya sewa ruko.

“Kami hanya menerima mitra yang sudah memiliki lokasi dengan dua ruko dua lantai. Lokasi kami survey dan setujui terlebih dahulu, baru setelah itu kita bisa lanjutkan prosesnya,” ujar Okta dikutip dari kanal Infobrand TV dalam BizTalk ‘Kupas Tuntas Resep Sukses Almaz Fried Chicken’.

Modal tersebut menurutnya bisa berasal dari satu individu atau boleh joint investment dengan masing-masing investor hanya perlu mengeluarkan dana sebesar Rp250 juta dengan berbagi kepemilikan di empat outlet yang berbeda.

“Jadi jika memiliki dana Rp1 miliar kami sarankan untuk diversifikasi di empat lokasi untuk meminimalkan risiko. Jadi jika ada satu yang kurang bagus, maka tiga [gerai] lainnya bisa menopang,” tuturnya. 

Meski nominalnya tergolong besar, pengelola menyebut potensi balik modal (Break-Even Point/BEP) berkisar antara 8 hingga 10 bulan, tergantung lokasi dan omzet bulanan. Apalagi proses operasionalnya bersifat autopilot. Akan tetapi, investor tetap memiliki hak mendapatkan laporan harian maupun bulanan sehingga semua prosesnya lebih transparan. 

“Pada tahun pertama mitra mendapat 70 persen dari keuntungan bersih, sementara 30 persen untuk manajemen pusat. Mulai tahun kedua ketika sudah balik modal maka pembagian menjadi 50:50,” terangnya.

Dalam waktu setahun terakhir, ekspansi Almaz terbilang agresif dengan lebih dari 100 cabang yang telah beroperasi di berbagai kota seperti Bandung, Tangerang, Purwakarta, hingga Makassar. Sebagian besar outlet berada di lokasi strategis, termasuk bekas gerai merek internasional.

“Kami sangat memprioritaskan lokasi yang strategi. Jika perlu bersebelahan dengan brand besar. Justru ketika di suatu daerah belum ada brand competitor, kami tidak bisa terima,” tegasnya.

Namun, seperti bisnis lain, peluang usaha ini tetap menyisakan tantangan. Biaya sertifikasi halal untuk setiap outlet, misalnya, bisa menjadi beban tambahan yang signifikan. Selain itu, persaingan di segmen fast food juga ketat, terutama dengan dominasi merek global yang sudah lebih dulu membangun loyalitas konsumen.

Di luar sisi bisnis, Almaz juga mengusung misi sosial. Sekitar 5 persen dari keuntungan penjualannya, diklaim akan disalurkan untuk program bantuan makanan dan dukungan kemanusiaan di Palestina. Komitmen ini menjadi bagian dari narasi brand yang ingin hadir sebagai bisnis yang tidak hanya mencari profit, tetapi juga memberi dampak. 

Bagi investor yang ingin terlibat di sektor F&B tanpa pengalaman operasional, kemitraan Almaz Fried Chicken menawarkan alternatif dengan sistem autopilot dan konsep yang unik. Namun, tetap diperlukan perhitungan cermat, terutama untuk memastikan omzet dapat mendekati proyeksi BEP yang dijanjikan. 

Jika dikelola dengan tepat dan lokasi strategis, peluang balik modal dalam waktu kurang dari setahun bisa menjadi kenyataan. Akan tetapi jika tidak, modal besar bisa terkunci cukup lama di tengah ketatnya persaingan waralaba ayam goreng di Indonesia.

Baca juga: 5 Bisnis Franchise Makanan dan Minuman di Bawah Rp5 Juta, Es Teh Sulthan sampai Tahu jos jos

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Jangan Asal Ambil, Ini Daftar Amenities Hotel yang Legal Dibawa Pulang

BERIKUTNYA

5 Strategi UMKM Indonesia Menembus Pasar Ekspor Australia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga