Ilustrasi love scamming. (Sumber gambar: Freepik/Pikisuperstar)

Penyebab Masyarakat Indonesia Sering Jadi Korban Love Scamming

28 June 2025   |   06:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Aksi love scamming kembali terjadi dan menimbulkan kerugian materil terhadap korbannya, seperti yang diungkap Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda DIY. Seorang mahasiswa asal Yogyakarta mengalami kerugian hingga Rp250 juta akibat terjerat penipuan daring berkedok asmara ini. 

Sebelumnya, Kani Dwi Haryani, staf media Presiden Prabowo Subianto, turut menjadi korban love scamming. Lantas mengapa banyak orang Indonesia mudah terjerat penipuan ini? 

Baca juga: Petinggi Facebook Resah Aksi Scamming, Sudah Gelontorkan US$20 Juta Buat Pencegahan

Psikolog Klinis dari Tiga Generasi Gabriela Agire mengatakan masyarakat Indonesia mudah tergiur dengan hal-hal menyenangkan. Faktor lainnya yakni kurangnya literasi digital, feeling lonely, dan rentan dukungan sosial. “Bisa juga berkaitan dengan PRD (personal relative deprivation),” ujarnya kepada Hypeabis.id, Jumat (27/6/2025). 

Hal serupa disampaikan Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi. Menurutnya, banyak orang Indonesia mudah terkena love scam karena seringkali terbawa emosi sehingga akhirnya tertipu dan kurang paham soal keamanan digital. 

“Banyak yang mendambakan hubungan romantis, apalagi kalau hidup sendiri atau sedang rapuh. Tapi, pelakunya juga jago memanipulasi,” sebutnya.

Setidaknya ada 5 faktor mengapa love scamming masih marak di Indonesia. Pertama, pelaku love scam mudah membangun identitas palsu karena verifikasi identitas di media sosial sering kali lemah, seperti hanya memerlukan email atau nomor telepon. 

Heru menyebut banyak platform tidak mewajibkan dokumen resmi, sehingga penipu dapat menggunakan foto, nama, dan cerita fiktif. Kurangnya pengawasan konten dan algoritma yang tidak ketat, memungkinkan akun palsu bertahan lama, mengeksploitasi kepercayaan pengguna.

Kedua, teknologi menciptakan ilusi kedekatan melalui komunikasi intensif seperti chat, panggilan suara, atau video palsu. Pelaku memanipulasi emosi dengan kata-kata manis, berbagi cerita pribadi, dan meniru pola hubungan nyata. 

“Fitur seperti stiker, emoji, atau filter video memperkuat persepsi keakraban, membuat korban percaya meski tidak pernah bertemu langsung,” tambahnya. 

Ketiga, publik perlu tahu bahwa algoritma media sosial mempromosikan interaksi berdasarkan preferensi pengguna, memudahkan penipu menargetkan korban rentan. Sistem komunikasi daring pun rentan terhadap manipulasi, seperti spoofing atau akun kloning. 

Keempat, deteksi penipuan di platform seperti Instagram dan Facebook masih lemah, algoritma sering gagal mengenali akun palsu yang canggih. Meski ada pelaporan pengguna, tindakan platform sering lambat. 

Baca juga: Awas Jadi Korban, Begini Modus Scamming & Spoofing yang Bisa Curi Uang Kalian

Oleh karena itu, tanggung jawab keamanan tidak hanya pada pengguna, tetapi platform juga harus meningkatkan verifikasi dan moderasi konten.

Kelima, regulasi di Indonesia, seperti UU ITE dan KUHP, belum optimal menjerat pelaku love scam, terutama jika korban memberikan uang “sukarela”. Identitas palsu menyulitkan pelacakan, dan penegakan hukum sering terhambat oleh yurisdiksi lintas negara. “Perlu penguatan regulasi dan kerja sama internasional untuk perlindungan korban,” tegas Heru.

SEBELUMNYA

Anak Sering Menyipitkan Mata? Jangan Abaikan, Bisa Jadi Tanda Miopia

BERIKUTNYA

Mau Mendaki Gunung? Kenali Risiko & Cara Mencegahnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga