7 Tradisi Malam 1 Suro, Mulai Dari Jamasa Pusaka Hingga Larung Sesaji
26 June 2025 |
20:29 WIB
Malam 1 Suro bagi masyarakat Jawa, terutama Yogyakarta dan Surakarta terbilang sakral. Sejumlah tradisi atau ritual digelar untuk menyambut tahun baru pada penanggalan Jawa ini yang juga bertepatan dengan 1 Muharram di kalender Hijriyah atau tahun baru Islam.
Tradisi malam 1 Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung, seperti dikutip dari laman Indonesia Kaya. Pada masa itu, masyarakat mengikuti sistem penanggalan tahun Saka Sementara elah menerapkan sistem kalender Hijriah.
Baca juga:
Bertujuan untuk memperluas ajaran Islam di Tanah Jawa, Sultan Agung memprakarsai penyatuan kalender Saka yang merupakan warisan tradisi Hindu, dan kalender Hijriah yang diterapkan Kesultanan Mataram Islam, menjadi kalender Jawa.
Tradisi malam 1 Suro pun masih dijalankan masyarakat Jawa hingga kini. Sebut saja jamas pusaka, ruwatan, hingga tapa brata, hingga mengarak hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng dan kirab benda pusaka.
Lantas seperti apa tradisi perayaan malam 1 Suro? Simak ulasannya berikut ini yuk, Genhype.
1. Jamasan Pusaka
Jamasan Pusaka atau Siraman Pusaka menjadi tradisi malam Suro yang rutin digelar Keraton Yogyakarta. Mengutip laman Ambarrukmo, kegiatan ini biasanya dilakukan dengan mensucikan benda-benda pusaka yang ada seperti kereta, tosan aji (senjata), gamelan, dan lainnya.
Masuk ke dalam warisan budaya tak benda, upacara Jamasan Pusaka bertujuan untuk menghormati leluhur serta merawat benda bersejarah. Acara pensucian pusaka diawali dengan Jamasan Pusaka Tumbak Kanjeng Kiai Ageng Plered, kemudian dilanjutkan dengan pusaka-pusaka kuno lainnya.
Jamasan Pusaka juga dilakukan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Sebagian besar benda pusaka yang ada di dalam kerajaan akan disucikan dengan ritual khusus.
2. Mubeng Beteng
Puncak tradisi malam Satu Suro ditandai dengan Mubeng Beteng, yakni kegiatan mengitari kawasan beteng Keraton Yogyakarta dengan berlawanan arah jarum jam. Tradisi ini diikuti oleh para abdi dalem serta masyarakat umum untuk berjalan tanpa bicara (Tapa Bisu) serta tidak menggunakan alas kaki.
Suasana hening, sunyi, dan khidmat akan menyelimuti prosesi Mubeng Beteng ini. Pasanya, tradisi ini dianggap menjadi salah satu momen untuk merefleksikan diri tentang apa yang terjadi dalam sepanjang tahun kebelakang.
Sebelum pelaksanaan acara Mubeng Beteng, pihak keraton akan melakukan pembacaan doa untuk akhir tahun, doa awal tahun, serta doa bulan Suro. Prosesi disambung dengan pemberian restu dari pemangku agama Keraton Yogyakarta.
3. Tapa Bisu
Masuk ke dalam bagian dari acara Mubeng Beteng, dalam prosesi ini, peserta kirab tidak diperbolehkan mengeluarkan suara, bebunyian, serta berbicara sepanjang rute. Makna filosofis dari tradisi Tapa Bisu adalah introspeksi diri dan meminta pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.
4. Kirab Pusaka Dalem
Kirab Pusaka Dalem dilakukan di Pura Mangkunegaran. Sama dengan tradisi Mubeng Beteng yang ada di Yogyakarta, Kirab Pusaka Dalem di Surakarta juga memiliki beberapa peraturan yang harus ditaati seperti dilarang untuk keluar dari rombongan kirab, dilarang berbicara sepanjang kirab, serta tidak menggunakan alas kaki ketika berjalan.
5. Lampah Ratri
Di Pura Pakualaman terdapat tradisi Lampah Ratri pada malam 1 Suro. Ritual ini ditandai dengan mengitari wilayah kadipaten dalam gelap dan para peserta menyatukan niat untuk memohon restu serta kekuatan menghadapi tahun baru.
Usai prosesi ini, peserta akan makan bersama dengan semangkuk Bubur Suran menanti. Bubur putih gurih manis, dengan tujuh jenis kacang ini melambangkan hari-hari dalam seminggu. Dalam setiap sendoknya, terselip harapan akan keseimbangan dan rasa syukur yang tak putus.
6. Barikan
Masyarakat Wonosari di Kabupaten Kendal biasanya memperingati malam 1 Suro dengan tradisi Barikan. Barikan berasal dari bahasa Arab yaitu “Barokah” yang berarti “Berkah”, sementara dalam tradisi Jawa, Barikan merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan di tempat terbuka.
Para warga akan duduk beralaskan tikar dan membawa makanan masing-masing seperti nasi urap, kue, atau buah-buahan. Makanan ini nantinya akan ditukar atau dibagikan kepada warga lainnya. Selain menyambut tahun Baru Hijriah, Barikan juga memiliki makna mengakrabkan dan membina perasaan bersatu (guyub).
7. Larung Sesaji
Tradisi Larung Sesaji biasanya digelar masyarakat pesisir pantai Jawa. Tradisi ini diyakini masyarakat pesisir sebagai upaya mensyukuri nikmat tuhan berupa rezeki, keselamatan, serta hasil alam yang melimpah.
Ritual Larung Sesaji diawali dengan kirab tumpeng dan sesaji. Kemudian, tumpeng dan sesaji diarak dari Kantor Desa menuju pesisir pantai untuk didoakan.
Dalam prosesi ini dihaturkan ungkapan-ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Selanjutnya gunungan yang telah didoakan diarak menuju kapal nelayan untuk dilarung di tengah laut.
Baca juga:
Tradisi malam 1 Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung, seperti dikutip dari laman Indonesia Kaya. Pada masa itu, masyarakat mengikuti sistem penanggalan tahun Saka Sementara elah menerapkan sistem kalender Hijriah.
Baca juga:
Bertujuan untuk memperluas ajaran Islam di Tanah Jawa, Sultan Agung memprakarsai penyatuan kalender Saka yang merupakan warisan tradisi Hindu, dan kalender Hijriah yang diterapkan Kesultanan Mataram Islam, menjadi kalender Jawa.
Tradisi malam 1 Suro pun masih dijalankan masyarakat Jawa hingga kini. Sebut saja jamas pusaka, ruwatan, hingga tapa brata, hingga mengarak hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng dan kirab benda pusaka.
Lantas seperti apa tradisi perayaan malam 1 Suro? Simak ulasannya berikut ini yuk, Genhype.
1. Jamasan Pusaka
Jamasan Pusaka atau Siraman Pusaka menjadi tradisi malam Suro yang rutin digelar Keraton Yogyakarta. Mengutip laman Ambarrukmo, kegiatan ini biasanya dilakukan dengan mensucikan benda-benda pusaka yang ada seperti kereta, tosan aji (senjata), gamelan, dan lainnya.
Masuk ke dalam warisan budaya tak benda, upacara Jamasan Pusaka bertujuan untuk menghormati leluhur serta merawat benda bersejarah. Acara pensucian pusaka diawali dengan Jamasan Pusaka Tumbak Kanjeng Kiai Ageng Plered, kemudian dilanjutkan dengan pusaka-pusaka kuno lainnya.
Jamasan Pusaka juga dilakukan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Sebagian besar benda pusaka yang ada di dalam kerajaan akan disucikan dengan ritual khusus.
2. Mubeng Beteng
Puncak tradisi malam Satu Suro ditandai dengan Mubeng Beteng, yakni kegiatan mengitari kawasan beteng Keraton Yogyakarta dengan berlawanan arah jarum jam. Tradisi ini diikuti oleh para abdi dalem serta masyarakat umum untuk berjalan tanpa bicara (Tapa Bisu) serta tidak menggunakan alas kaki.
Suasana hening, sunyi, dan khidmat akan menyelimuti prosesi Mubeng Beteng ini. Pasanya, tradisi ini dianggap menjadi salah satu momen untuk merefleksikan diri tentang apa yang terjadi dalam sepanjang tahun kebelakang.
Sebelum pelaksanaan acara Mubeng Beteng, pihak keraton akan melakukan pembacaan doa untuk akhir tahun, doa awal tahun, serta doa bulan Suro. Prosesi disambung dengan pemberian restu dari pemangku agama Keraton Yogyakarta.
3. Tapa Bisu
Masuk ke dalam bagian dari acara Mubeng Beteng, dalam prosesi ini, peserta kirab tidak diperbolehkan mengeluarkan suara, bebunyian, serta berbicara sepanjang rute. Makna filosofis dari tradisi Tapa Bisu adalah introspeksi diri dan meminta pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa.
4. Kirab Pusaka Dalem
Kirab Pusaka Dalem dilakukan di Pura Mangkunegaran. Sama dengan tradisi Mubeng Beteng yang ada di Yogyakarta, Kirab Pusaka Dalem di Surakarta juga memiliki beberapa peraturan yang harus ditaati seperti dilarang untuk keluar dari rombongan kirab, dilarang berbicara sepanjang kirab, serta tidak menggunakan alas kaki ketika berjalan.
5. Lampah Ratri
Di Pura Pakualaman terdapat tradisi Lampah Ratri pada malam 1 Suro. Ritual ini ditandai dengan mengitari wilayah kadipaten dalam gelap dan para peserta menyatukan niat untuk memohon restu serta kekuatan menghadapi tahun baru.
Usai prosesi ini, peserta akan makan bersama dengan semangkuk Bubur Suran menanti. Bubur putih gurih manis, dengan tujuh jenis kacang ini melambangkan hari-hari dalam seminggu. Dalam setiap sendoknya, terselip harapan akan keseimbangan dan rasa syukur yang tak putus.
6. Barikan
Masyarakat Wonosari di Kabupaten Kendal biasanya memperingati malam 1 Suro dengan tradisi Barikan. Barikan berasal dari bahasa Arab yaitu “Barokah” yang berarti “Berkah”, sementara dalam tradisi Jawa, Barikan merupakan tradisi makan bersama yang dilakukan di tempat terbuka.
Para warga akan duduk beralaskan tikar dan membawa makanan masing-masing seperti nasi urap, kue, atau buah-buahan. Makanan ini nantinya akan ditukar atau dibagikan kepada warga lainnya. Selain menyambut tahun Baru Hijriah, Barikan juga memiliki makna mengakrabkan dan membina perasaan bersatu (guyub).
7. Larung Sesaji
Tradisi Larung Sesaji biasanya digelar masyarakat pesisir pantai Jawa. Tradisi ini diyakini masyarakat pesisir sebagai upaya mensyukuri nikmat tuhan berupa rezeki, keselamatan, serta hasil alam yang melimpah.
Ritual Larung Sesaji diawali dengan kirab tumpeng dan sesaji. Kemudian, tumpeng dan sesaji diarak dari Kantor Desa menuju pesisir pantai untuk didoakan.
Dalam prosesi ini dihaturkan ungkapan-ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun serta harapan agar memperoleh hasil yang baik tanpa halangan dan musibah. Selanjutnya gunungan yang telah didoakan diarak menuju kapal nelayan untuk dilarung di tengah laut.
Baca juga:
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.