Transformasi Sinema di Festival Film Internasional Shanghai 2025, Dari AI hingga Layar Global
24 June 2025 |
07:00 WIB
Festival Film Internasional Shanghai (SIFF) 2025 kembali menjadi sorotan industri sinema global. Ajang tahunan ini memang kerap menarik perhatian sineas, produser, distributor, hingga penonton dari berbagai penjuru dunia yang ingin menyaksikan denyut terkini perfilman Timur.
Digelar sejak 1993, tahun ini festival memasuki edisi ke-27. SIFF tahun ini melakukan beberapa terobosan yang cukup menarik yang akan mentransformasi industri hiburan di negaranya.
Baca juga: Hollywood Tak Lagi Digdaya? China Uji Kekuatan Baru Industri Film
Festival yang keberadaannya telah diakui oleh Federasi Produser Film Internasional (FIAPF) ini untuk pertama kalinya menggabungkan pasar film dan televisi dalam satu entitas terpadu. Lebih dari sekadar ajang pemutaran film, SIFF 2025 juga menjadi arena inovasi teknologi, terutama dalam hal aplikasi kecerdasan buatan (AI) pada produksi film.
Penerapan AI yang dipamerkan di festival ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana masa depan industri konten akan dibentuk ulang, bukan hanya di China, melainkan juga dunia. Lantas, apa saja hal menarik dari festival ini? Berikut adalah ulasannya:
Festival melakukan penyatuan ini karena melihat pergeseran tren global. Sebab, batas antara media film dan televisi makin kabur akibat perkembangan teknologi dan lintas disiplin konten. Selain itu, model pasar ganda ini dirancang untuk mengakomodasi jaringan industri yang profesional ke dalam dua medium sekaligus. Pendekatan ini juga dinilai berpotensi memengaruhi cara festival besar dunia melibatkan audiens sekaligus industri.
Sementara itu, film A Better Tomorrow: Cyber Border dikabarkan menjadi karya animasi pertama yang sepenuhnya diproduksi dengan AI. Produser Zhang Qing mengungkapkan bahwa film tersebut hanya melibatkan 30 kru, menandai perubahan besar dalam siklus produksi yang kini lebih efisien dan cepat.
Di sisi lain, UHD HUB menyediakan zona interaktif yang menampilkan teknologi AI dan XR, termasuk sistem penerjemahan multibahasa berbasis suara dan video. Teknologi ini juga didukung oleh fasilitas render nasional di Guizhou yang memangkas waktu pemrosesan efek visual dari ratusan hari menjadi hanya satu hari.
Partisipasi global juga meningkat berkat acara pendukung festival, misalnya Belt and Road International Film Festival Alliance (BRIFFA). Acara ini kerap menggelar program-program khusus, seperti Focus on Russia dan Focus on Thailand. Hal ini memperkuat posisi Shanghai sebagai penghubung penting antara dunia sinema Timur dan Barat.
Dominasi ini mencerminkan meningkatnya pengakuan internasional terhadap sinema China, seiring dampak global dari karya-karya seperti Ne Zha. Antusiasme penonton pun mencapai puncaknya, yakni 73 persen tiket terjual habis dalam enam hari, dengan lebih dari 600 tiket ludes dalam satu jam pertama penjualan. Festival juga mampu memperluas jangkauannya ke lima kota di wilayah Delta Sungai Yangtze serta menggandeng pelaku pariwisata lokal seperti kafe dan restoran dalam rangkaian program budaya.
Giuseppe Tornatore, sutradara kenamaan asal Italia yang bertindak sebagai ketua juri, menekankan kualitas internasional festival serta mutu karya yang berpartisipasi pada edisi kali ini. Komposisi juri Golden Goblet yang terdiri dari 21 anggota dari 13 negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa makin memperkuat posisi SIFF sebagai festival dengan reputasi global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Digelar sejak 1993, tahun ini festival memasuki edisi ke-27. SIFF tahun ini melakukan beberapa terobosan yang cukup menarik yang akan mentransformasi industri hiburan di negaranya.
Baca juga: Hollywood Tak Lagi Digdaya? China Uji Kekuatan Baru Industri Film
Festival yang keberadaannya telah diakui oleh Federasi Produser Film Internasional (FIAPF) ini untuk pertama kalinya menggabungkan pasar film dan televisi dalam satu entitas terpadu. Lebih dari sekadar ajang pemutaran film, SIFF 2025 juga menjadi arena inovasi teknologi, terutama dalam hal aplikasi kecerdasan buatan (AI) pada produksi film.
Penerapan AI yang dipamerkan di festival ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana masa depan industri konten akan dibentuk ulang, bukan hanya di China, melainkan juga dunia. Lantas, apa saja hal menarik dari festival ini? Berikut adalah ulasannya:
1. Penyatuan Dua Pasar Besar Ciptakan Format Hibrida Industri dan Publik
Perubahan paling mencolok dalam Festival Film Internasional Shanghai tahun ini adalah penyatuan antara Pasar Film SIFF dan Pasar Festival TV Shanghai. Penggabungan ini menjadikan kombinasi pasar yang menarik, karna project-project film dan TV internasional dipamerkan di satu tempat yang sama.Festival melakukan penyatuan ini karena melihat pergeseran tren global. Sebab, batas antara media film dan televisi makin kabur akibat perkembangan teknologi dan lintas disiplin konten. Selain itu, model pasar ganda ini dirancang untuk mengakomodasi jaringan industri yang profesional ke dalam dua medium sekaligus. Pendekatan ini juga dinilai berpotensi memengaruhi cara festival besar dunia melibatkan audiens sekaligus industri.
2. Kecerdasan Buatan Jadi Sorotan dan Pengubah Permainan
Salah satu sorotan besar dalam festival ini adalah penerapan kecerdasan buatan yang makin masif dalam produksi film. Hal itu misalnya terlihat dalam peluncurkan Kung Fu Film Heritage Project. Proyek ambisius ini menargetkan restorasi 100 film klasik laga dengan memanfaatkan teknologi AI demi menampilkan kembali tokoh-tokoh legendaris seperti Bruce Lee, Jackie Chan, dan Jet Li.Sementara itu, film A Better Tomorrow: Cyber Border dikabarkan menjadi karya animasi pertama yang sepenuhnya diproduksi dengan AI. Produser Zhang Qing mengungkapkan bahwa film tersebut hanya melibatkan 30 kru, menandai perubahan besar dalam siklus produksi yang kini lebih efisien dan cepat.
Di sisi lain, UHD HUB menyediakan zona interaktif yang menampilkan teknologi AI dan XR, termasuk sistem penerjemahan multibahasa berbasis suara dan video. Teknologi ini juga didukung oleh fasilitas render nasional di Guizhou yang memangkas waktu pemrosesan efek visual dari ratusan hari menjadi hanya satu hari.
3. Partisipasi Internasional Meningkat Tajam
Festival kali ini mencatat lonjakan partisipasi global yang luar biasa. Total, terdapat lebih dari 2.800 film yang berasal 119 negara. Peningkatan signifikan ini mayoritas datang dari benua Amerika dan Afrika. Tak hanya film panjang, jumlah kiriman film pendek juga meningkat 18 persen dibanding tahun sebelumnya.Partisipasi global juga meningkat berkat acara pendukung festival, misalnya Belt and Road International Film Festival Alliance (BRIFFA). Acara ini kerap menggelar program-program khusus, seperti Focus on Russia dan Focus on Thailand. Hal ini memperkuat posisi Shanghai sebagai penghubung penting antara dunia sinema Timur dan Barat.
4. Film China Kian Diperhitungkan di Panggung Global
Meskipun film asal Kirgistan, Black Red Yellow, berhasil meraih penghargaan tertinggi Golden Goblet, film-film China sebenarnya tetap mendominasi ajang penghargaan utama. Film Wild Nights, Tamed Beasts meraih penghargaan juri utama, One Wacky Summer juga membawa pulang penghargaan sutradara terbaik, lalu ada pula Wan Qian yang terpilih sebagai aktris terbaik.Dominasi ini mencerminkan meningkatnya pengakuan internasional terhadap sinema China, seiring dampak global dari karya-karya seperti Ne Zha. Antusiasme penonton pun mencapai puncaknya, yakni 73 persen tiket terjual habis dalam enam hari, dengan lebih dari 600 tiket ludes dalam satu jam pertama penjualan. Festival juga mampu memperluas jangkauannya ke lima kota di wilayah Delta Sungai Yangtze serta menggandeng pelaku pariwisata lokal seperti kafe dan restoran dalam rangkaian program budaya.
5. Kolaborasi Teknologi dan Budaya sebagai Arah Baru Industri
Festival tahun ini benar-benar menyoroti peran teknologi mutakhir, termasuk realitas virtual yang untuk pertama kalinya dimasukkan ke dalam program resmi SIFF. Program SIFF ING-AIGC menampilkan karya dari kreator muda yang memanfaatkan AI, dengan pendekatan bahwa teknologi digital bukan hanya alat, melainkan juga membentuk paradigma baru dalam berpikir kreatif.Giuseppe Tornatore, sutradara kenamaan asal Italia yang bertindak sebagai ketua juri, menekankan kualitas internasional festival serta mutu karya yang berpartisipasi pada edisi kali ini. Komposisi juri Golden Goblet yang terdiri dari 21 anggota dari 13 negara di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa makin memperkuat posisi SIFF sebagai festival dengan reputasi global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.