Hollywood Tak Lagi Digdaya? China Uji Kekuatan Baru Industri Film
11 April 2025 |
19:23 WIB
Pemerintah China akan membatasi impor film-film Hollywood sebagai bentuk pembalasan atas keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menaikkan tarif barang-barang impor asal China. Langkah ini dinilai menjadi indikasi luruhnya dominasi Hollywood AS di industri perfilman global.
Pengamat film Hikmat Darmawan menilai pembatasan yang dilakukan China bukan semata dilihat sebagai langkah dalam perang dagang antar kedua negara, melainkan perang ideologi. Menurutnya, langkah tersebut semakin menandakan bahwa dominasi AS dalam wacana globalisme, termasuk dalam industri perfilman, perlahan semakin bergeser.
Baca juga: China Bakal Batasi Impor Film-Film AS, Apa Dampaknya Buat Hollywood?
"Jadi kalau dilihat dari big picture-nya, dominasi yang udah berlangsung sekian lama tuh sekarang kelihatan mulai runtuh. Itu bukan karena satu hal aja, ada banyak faktor. Misalnya, runtuhnya konstruksi wacana dan informasi yang selama ini bikin orang sepakat buat memusuhi China, baik secara militer, sosial, budaya, sampai ekonomi. Nah, tatanan itu sekarang malah dirusak sendiri oleh kemunculan tatanan dunia baru secara global, katanya kepada Hypeabis.id lewat sambungan telepon, Jumat (11/4/2025).
Menurutnya, film adalah produk budaya yang sangat penting baik dari segi pendapatan ekonomi maupun sebagai media penyampai ideologi. Hal itu tampak pada banyaknya film Hollywood yang meraup pendapatan fantastis, sekaligus membentuk pemahaman atau konstruksi ideologi tentang negara-negara seperti seperti Rusia, Timur Tengah, dan China.
"IIni memang sebuah bagian dari perang dagang yang kita bisa nilai dari segi ekonomi bisnisnya, tapi mau tidak mau kita mengaitkannya dengan bagian dari perang ideologi dan pergeseran dominasi-dominasi politik dan militer di dunia global sekarang. Ini bagian dari bahwa Amerika tidak bisa mempertahankan [dominasinya] lagi," imbuhnya.
Hikmat berpendapat sebagai sebuah negara yang mengalami pertumbuhan sangat pesat, China kini memiliki industri perfilman yang kuat baik secara ideologi kebudayaan maupun infrastruktur. Di sisi lain, pasar film global termasuk China kini tidak memiliki minat yang begitu besar terhadap film-film Hollywood AS.
Mengutip dari Channel News Asia, sejak 1994, China membuka diri terhadap 10 film Hollywood per tahun dengan skema distribusi berbagi pendapatan. Studio-studio film Hollywood sebelumnya cukup menaruh perhatian pada China sebagai pasar film terbesar kedua di dunia, untuk membantu mendongkrak penjualan film mereka di pasaran. Rata-rata film AS menghasilkan sekitar 10 persen pendapatan kotornya dari pasar China.
Di box office, A Minecraft Movie tidak hanya menjadi film laris di AS tetapi juga menduduki puncak box office di China yang dibuka dengan pendapatan sebesar US$14,7 juta pada akhir pekan lalu. Captain America: Brave New World, film Marvel yang dirilis pada Februari tahun ini, memperoleh pendapatan sebesar US$14,4 juta di China dari total pendapatan globalnya sebesar US$413 juta.
Tahun lalu, Godzilla X Kong (2024) menjadi salah satu dari 10 film terlaris di China, dengan pendapatan hampir sama dengan pendapatan di AS. Begitu pun tahun-tahun sebelumnya, film impor seperti Titanic (1997) dan Avatar (2009) menjadi film terlaris di pasar China, hingga menjadikan aktor seperti Leonardo DiCaprio dan sutradara seperti James Cameron menjadi nama terkenal di kalangan pencinta film China lintas generasi.
Namun, selama beberapa tahun terakhir, film-film domestik semakin mengungguli film-film Hollywood di China, salah satu capaiannya yakni Ne Zha 2 yang tahun ini melampaui Inside Out 2 (2024) milik Pixar dan menjadi film animasi terlaris sepanjang masa. Film tersebut mencetak rekor pendapatan sebesar US$2,1 miliar sejak dirilis pada akhir Januari 2025.
Sejak 2020, film buatan China secara konsisten menyumbang sekitar 80 persen pendapatan box office tahunan di negara mereka, naik dari sekitar 60 persen dari sebelumnya.
Dalam daftar box office sepanjang masa di China, hanya satu film impor yang masuk dalam 20 besar yakni Avengers: Endgame (2019), dengan total pendapatan sebesar US$579,83 juta. Adapun, film-film lainnya yang masuk dalam 20 besar film terlaris sepanjang masa ialah produksi sinema dalam negeri.
"Artinya apa? Kepercayaan pasar terhadap produk [film] Amerika sudah enggak kaya dulu lagi," terang Hikmat.
Hikmat menilai langkah pembatasan yang ditempuh China akan membuat industri Hollywood semakin kesulitan untuk menjangkau pasar penonton yang besar secara global. Di sisi lain, internal industri Hollywood juga kini tengah menghadapi berbagai persoalan salah satunya ialah penggunaan teknologi AI yang menjadi perdebatan.
"Tapi kan mereka bukan raksasa yang udah benar-benar babak belur, mereka punya mekanisme koreksi sendiri pastinya. Tapi secara umum putaran uangnnya sekarang kan model kaya Russo Brothers dan Marvel Cinematic Universe yang orang mulai bilang, wah ini in the long run tidak akan sustainable buat industri sebesar itu di Hollywood gitu," ucapnya.
Sudah lebih dari satu abad, Hollywood mendominasi struktur oligopoli industri film Amerika dan mendunia. Hollywood kerap menjadi kiblat bagi industri film di berbagai negara, baik dari segi bisnis, jejaring infrastruktur industri, hingga penceritaan.
Dalam periode yang sangat lama, Hollywood telah menjadi gurita bisnis raksasa yang cengkramnya mendunia, serta dominasinya yang seolah tak terlawankan. Namun, selama beberapa tahun terakhir, rupanya terjadi pergeseran pandangan dan minat publik terhadap Hollywood. Publik mulai aktif memandang produk-produk film Hollywood secara lebih kritis, yang membuat pengaruhnya kian luruh.
Akademisi sekaligus Anggota Komite Film Dewan Kesenian Jakarta Shuri Gietty Tambunan mengatakan salah satu hal yang kini mengemuka dari publik dalam memandang Hollywood ialah 'over saturation in Hollywood' atau kejenuhan budaya yang mengacu Hollywood.
Publik mulai jenuh dengan produk-produk film Hollywood, salah satunya ditandai dengan beberapa film Marvel yang dirilis pada 2023 tidak begitu sukses secara komersial, dan mendominasi box office global.
Seperti diketahui, Barbie menjadi film terlaris yang dirilis pada 2023 dengan pendapatan sebesar US$1,4 miliar. Posisinya disusul dengan film The Super Mario Bros. Movie dengan US$1 miliar dan Oppenheimer dengan US$952 juta.
Fenomena ini, kata Gietty, disebabkan salah satunya karena homogenisasi, formulasi atau narasi yang terus diulang-ulang oleh film-film Marvel yang menciptakan kejenuhan di kalangan penonton.
"Kelelahan budaya ini yang kemudian diisi oleh produk-produk [budaya] yang lebih punya kedekatan. Misalnya film-film Indonesia, ataupun tren mengonsumsi drama-drama Turki atau dari Asia Timur. Jadi sebenarnya ada celah yang bisa diisi oleh pusat-pusat industri budaya populer lainnya," jelasnya dalam acara diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Gietty, pandangan bahwa Hollywood sebagai pusat budaya populer saat ini sudah tidak relevan lagi. Meskipun Hollywood masih memiliki kekuatan secara ekonomi, saat ini sudah banyak bermunculan kekuatan-kekuatan alternatif (alternative powers) yang bisa dilakukan untuk mengimbangi kekuatan tersebut.
Gerakan itu semakin masif ketika terjadi serangan Israel ke Gaza yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Gerakan boikot terhadap produk-produk yang mendukung atau berafiliasi dengan Israel menciptakan kesadaran publik dalam hal mengonsumsi suatu produk, tak terkecuali produk budaya seperti film.
"Ketika kita memilih untuk tidak mengonsumsi film-film produksi negara yang sedang melakukan pembunuhan massal ini, itu bisa sekali dilakukan dan kita sudah melihat efeknya dari proses produksi itu sendiri," kata Gietty.
Menurut Gietty, ketika publik secara selektif memilih film-film yang merepresentasikan keberagaman, menyuarakan kelompok minoritas, atau secara sadar memilih menonton film-film yang dibuat oleh sineas Palestina, secara tidak langsung publik sudah menunjukkan kekuatannya untuk ikut berdialog dalam isu kemanusiaan ini.
"Kita tidak akan menghancurkan Hollywood dengan tidak menonton film-filmnya, tapi itu adalah sikap atau cara kita untuk masuk ke dalam dialog tersebut. Ini menjadi jalan untuk sedikit demi sedikit mengikis kekuatan mereka," ucapnya.
Senada, Dosen Komunikasi Binus University Andari Karina Anom menilai saat ini mulai muncul kecenderungan publik untuk melawan narasi glorifikasi dan heroisme Hollywood yang muncul dalam film-film Hollywood. Bahkan, katanya, hal ini juga muncul dari industri Hollywood itu sendiri.
Menurutnya, saat ini mulai bermunculan film-film yang menonjolkan tema-tema lebih beragam (diversity), termasuk menunjukkan unsur lokalitas dari berbagai negara dan wilayah. Hal itu dikarenakan salah satunya pandangan bahwa film-film Hollywood yang selama ini mendominasi pasar bioskop global, dianggap tidak relevan atau tidak sesuai dengan realitas.
"Jadi unheard voices ini mulai terdengar, yang mungkin dulu tidak terlalu mendapat tempat dan tidak ada channel untuk menyampaikan itu," katanya.
Menurut Karin, fenomena atau tendensi ini menjadi hal yang baik karena terbukanya ruang untuk publik menyuarakan hal-hal dari perspektif yang berbeda melalui film, didukung juga dengan narasi keberagaman yang berkembang di berbagai media.
"Dahulu, pembentukan opini publik yang berasal dari kekuatan besar seperti Hollywood bersifat satu arah. Tapi sekarang, itu muncul dari berbagai arah. Propaganda itu bisa dilawan dengan narasi yang kuat di berbagai media," tuturnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pengamat film Hikmat Darmawan menilai pembatasan yang dilakukan China bukan semata dilihat sebagai langkah dalam perang dagang antar kedua negara, melainkan perang ideologi. Menurutnya, langkah tersebut semakin menandakan bahwa dominasi AS dalam wacana globalisme, termasuk dalam industri perfilman, perlahan semakin bergeser.
Baca juga: China Bakal Batasi Impor Film-Film AS, Apa Dampaknya Buat Hollywood?
"Jadi kalau dilihat dari big picture-nya, dominasi yang udah berlangsung sekian lama tuh sekarang kelihatan mulai runtuh. Itu bukan karena satu hal aja, ada banyak faktor. Misalnya, runtuhnya konstruksi wacana dan informasi yang selama ini bikin orang sepakat buat memusuhi China, baik secara militer, sosial, budaya, sampai ekonomi. Nah, tatanan itu sekarang malah dirusak sendiri oleh kemunculan tatanan dunia baru secara global, katanya kepada Hypeabis.id lewat sambungan telepon, Jumat (11/4/2025).
Menurutnya, film adalah produk budaya yang sangat penting baik dari segi pendapatan ekonomi maupun sebagai media penyampai ideologi. Hal itu tampak pada banyaknya film Hollywood yang meraup pendapatan fantastis, sekaligus membentuk pemahaman atau konstruksi ideologi tentang negara-negara seperti seperti Rusia, Timur Tengah, dan China.
"IIni memang sebuah bagian dari perang dagang yang kita bisa nilai dari segi ekonomi bisnisnya, tapi mau tidak mau kita mengaitkannya dengan bagian dari perang ideologi dan pergeseran dominasi-dominasi politik dan militer di dunia global sekarang. Ini bagian dari bahwa Amerika tidak bisa mempertahankan [dominasinya] lagi," imbuhnya.
Hikmat berpendapat sebagai sebuah negara yang mengalami pertumbuhan sangat pesat, China kini memiliki industri perfilman yang kuat baik secara ideologi kebudayaan maupun infrastruktur. Di sisi lain, pasar film global termasuk China kini tidak memiliki minat yang begitu besar terhadap film-film Hollywood AS.
Mengutip dari Channel News Asia, sejak 1994, China membuka diri terhadap 10 film Hollywood per tahun dengan skema distribusi berbagi pendapatan. Studio-studio film Hollywood sebelumnya cukup menaruh perhatian pada China sebagai pasar film terbesar kedua di dunia, untuk membantu mendongkrak penjualan film mereka di pasaran. Rata-rata film AS menghasilkan sekitar 10 persen pendapatan kotornya dari pasar China.
Di box office, A Minecraft Movie tidak hanya menjadi film laris di AS tetapi juga menduduki puncak box office di China yang dibuka dengan pendapatan sebesar US$14,7 juta pada akhir pekan lalu. Captain America: Brave New World, film Marvel yang dirilis pada Februari tahun ini, memperoleh pendapatan sebesar US$14,4 juta di China dari total pendapatan globalnya sebesar US$413 juta.
Tahun lalu, Godzilla X Kong (2024) menjadi salah satu dari 10 film terlaris di China, dengan pendapatan hampir sama dengan pendapatan di AS. Begitu pun tahun-tahun sebelumnya, film impor seperti Titanic (1997) dan Avatar (2009) menjadi film terlaris di pasar China, hingga menjadikan aktor seperti Leonardo DiCaprio dan sutradara seperti James Cameron menjadi nama terkenal di kalangan pencinta film China lintas generasi.
Namun, selama beberapa tahun terakhir, film-film domestik semakin mengungguli film-film Hollywood di China, salah satu capaiannya yakni Ne Zha 2 yang tahun ini melampaui Inside Out 2 (2024) milik Pixar dan menjadi film animasi terlaris sepanjang masa. Film tersebut mencetak rekor pendapatan sebesar US$2,1 miliar sejak dirilis pada akhir Januari 2025.
Sejak 2020, film buatan China secara konsisten menyumbang sekitar 80 persen pendapatan box office tahunan di negara mereka, naik dari sekitar 60 persen dari sebelumnya.
Dalam daftar box office sepanjang masa di China, hanya satu film impor yang masuk dalam 20 besar yakni Avengers: Endgame (2019), dengan total pendapatan sebesar US$579,83 juta. Adapun, film-film lainnya yang masuk dalam 20 besar film terlaris sepanjang masa ialah produksi sinema dalam negeri.
"Artinya apa? Kepercayaan pasar terhadap produk [film] Amerika sudah enggak kaya dulu lagi," terang Hikmat.
Hikmat menilai langkah pembatasan yang ditempuh China akan membuat industri Hollywood semakin kesulitan untuk menjangkau pasar penonton yang besar secara global. Di sisi lain, internal industri Hollywood juga kini tengah menghadapi berbagai persoalan salah satunya ialah penggunaan teknologi AI yang menjadi perdebatan.
"Tapi kan mereka bukan raksasa yang udah benar-benar babak belur, mereka punya mekanisme koreksi sendiri pastinya. Tapi secara umum putaran uangnnya sekarang kan model kaya Russo Brothers dan Marvel Cinematic Universe yang orang mulai bilang, wah ini in the long run tidak akan sustainable buat industri sebesar itu di Hollywood gitu," ucapnya.
Sikap Kritis Publik Terhadap Hollywood
Sudah lebih dari satu abad, Hollywood mendominasi struktur oligopoli industri film Amerika dan mendunia. Hollywood kerap menjadi kiblat bagi industri film di berbagai negara, baik dari segi bisnis, jejaring infrastruktur industri, hingga penceritaan.Dalam periode yang sangat lama, Hollywood telah menjadi gurita bisnis raksasa yang cengkramnya mendunia, serta dominasinya yang seolah tak terlawankan. Namun, selama beberapa tahun terakhir, rupanya terjadi pergeseran pandangan dan minat publik terhadap Hollywood. Publik mulai aktif memandang produk-produk film Hollywood secara lebih kritis, yang membuat pengaruhnya kian luruh.
Akademisi sekaligus Anggota Komite Film Dewan Kesenian Jakarta Shuri Gietty Tambunan mengatakan salah satu hal yang kini mengemuka dari publik dalam memandang Hollywood ialah 'over saturation in Hollywood' atau kejenuhan budaya yang mengacu Hollywood.
Publik mulai jenuh dengan produk-produk film Hollywood, salah satunya ditandai dengan beberapa film Marvel yang dirilis pada 2023 tidak begitu sukses secara komersial, dan mendominasi box office global.
Seperti diketahui, Barbie menjadi film terlaris yang dirilis pada 2023 dengan pendapatan sebesar US$1,4 miliar. Posisinya disusul dengan film The Super Mario Bros. Movie dengan US$1 miliar dan Oppenheimer dengan US$952 juta.
Fenomena ini, kata Gietty, disebabkan salah satunya karena homogenisasi, formulasi atau narasi yang terus diulang-ulang oleh film-film Marvel yang menciptakan kejenuhan di kalangan penonton.
"Kelelahan budaya ini yang kemudian diisi oleh produk-produk [budaya] yang lebih punya kedekatan. Misalnya film-film Indonesia, ataupun tren mengonsumsi drama-drama Turki atau dari Asia Timur. Jadi sebenarnya ada celah yang bisa diisi oleh pusat-pusat industri budaya populer lainnya," jelasnya dalam acara diskusi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Gietty, pandangan bahwa Hollywood sebagai pusat budaya populer saat ini sudah tidak relevan lagi. Meskipun Hollywood masih memiliki kekuatan secara ekonomi, saat ini sudah banyak bermunculan kekuatan-kekuatan alternatif (alternative powers) yang bisa dilakukan untuk mengimbangi kekuatan tersebut.
Gerakan itu semakin masif ketika terjadi serangan Israel ke Gaza yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Gerakan boikot terhadap produk-produk yang mendukung atau berafiliasi dengan Israel menciptakan kesadaran publik dalam hal mengonsumsi suatu produk, tak terkecuali produk budaya seperti film.
"Ketika kita memilih untuk tidak mengonsumsi film-film produksi negara yang sedang melakukan pembunuhan massal ini, itu bisa sekali dilakukan dan kita sudah melihat efeknya dari proses produksi itu sendiri," kata Gietty.
Menurut Gietty, ketika publik secara selektif memilih film-film yang merepresentasikan keberagaman, menyuarakan kelompok minoritas, atau secara sadar memilih menonton film-film yang dibuat oleh sineas Palestina, secara tidak langsung publik sudah menunjukkan kekuatannya untuk ikut berdialog dalam isu kemanusiaan ini.
"Kita tidak akan menghancurkan Hollywood dengan tidak menonton film-filmnya, tapi itu adalah sikap atau cara kita untuk masuk ke dalam dialog tersebut. Ini menjadi jalan untuk sedikit demi sedikit mengikis kekuatan mereka," ucapnya.
Senada, Dosen Komunikasi Binus University Andari Karina Anom menilai saat ini mulai muncul kecenderungan publik untuk melawan narasi glorifikasi dan heroisme Hollywood yang muncul dalam film-film Hollywood. Bahkan, katanya, hal ini juga muncul dari industri Hollywood itu sendiri.
Menurutnya, saat ini mulai bermunculan film-film yang menonjolkan tema-tema lebih beragam (diversity), termasuk menunjukkan unsur lokalitas dari berbagai negara dan wilayah. Hal itu dikarenakan salah satunya pandangan bahwa film-film Hollywood yang selama ini mendominasi pasar bioskop global, dianggap tidak relevan atau tidak sesuai dengan realitas.
"Jadi unheard voices ini mulai terdengar, yang mungkin dulu tidak terlalu mendapat tempat dan tidak ada channel untuk menyampaikan itu," katanya.
Menurut Karin, fenomena atau tendensi ini menjadi hal yang baik karena terbukanya ruang untuk publik menyuarakan hal-hal dari perspektif yang berbeda melalui film, didukung juga dengan narasi keberagaman yang berkembang di berbagai media.
"Dahulu, pembentukan opini publik yang berasal dari kekuatan besar seperti Hollywood bersifat satu arah. Tapi sekarang, itu muncul dari berbagai arah. Propaganda itu bisa dilawan dengan narasi yang kuat di berbagai media," tuturnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.