Ryan Adriandhy Ungkap Adegan Film Jumbo Paling Sulit dari Sisi Teknis Pengerjaan
21 June 2025 |
21:10 WIB
Film animasi Jumbo karya Ryan Adriandhy bukan semata hasil dari kecanggihan teknologi atau kemewahan fasilitas produksi. Di tengah tantangan teknologi, tim Visinema Animation memilih jalur produksi dengan menggunakan perangkat lunak (software) open source, dan mengambil pendekatan tak biasa.
Alih-alih menjadi hambatan, keterbatasan ini justru memaksa tim untuk menciptakan pendekatan yang adaptif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan produksinya. Di Jumbo, tim memakai open source Blender, yang dikustomisasi sesuai dengan keperluan.
“Kita memang pakai teknologi open source. Namanya Blender. Jadi, di Blender itu plugin-nya bisa diotak-atik sama riset and development kita sendiri. Jadi, itu semua bukan base on library-nya mereka,” ungkap sutradara Ryan.
Baca juga: Sutradara Ryan Adriandhy Ingin Film Animasi Masuk Kategori Penghargaan Umum di Festival Film
Plugin merupakan program kecil yang ditambahkan ke perangkat lunak untuk meningkatkan fungsionalitasnya atau menambahkan fitur baru. Mereka memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan alur kerja mereka, mengotomatiskan tugas-tugas tertentu, dan melakukan pemodelan, rendering, animasi, dan banyak lagi dengan lebih efisien.
Kebebasan modifikasi ini memungkinkan tim R&D Visinema mengembangkan plugin internal sesuai kebutuhan spesifik produksi Jumbo, termasuk dalam aspek simulasi rambut dan pergerakan objek ringan.
Ryan menekankan bahwa dalam animasi, tahap pra-produksi memiliki peran yang sangat krusial. Sebelum proses produksi dimulai, terdapat fase penting yaitu storyboarding dan animatik. Pada tahap ini, tim memiliki keleluasaan untuk menilai ulang rencana adegan, apakah ada bagian yang tidak efektif, terasa lambat, atau urutannya perlu disesuaikan.
Jika ada, tim bisa melakukan perubahan seperlunya. Dengan demikian, katanya, ketika masuk ke tahap produksi, seluruh elemen sudah tertata dengan efisien dan tidak ada pekerjaan yang sia-sia.
Namun, Ryan memilih pendekatan berbeda. Menurut Ryan ini adalah salah satu scene yang dirinya anggap yang paling penting. Sebab, sangat berpengaruh pada alur penceritaan. “Kalau teman-teman menonton Jumbo, di bubble-nya itu ada refleksinya, karena memang lewat depannya dong,” jelasnya.
Selain bubble, elemen vegetasi seperti rumput dan dedaunan di area lapangan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tim mengembangkan plugin Blender internal untuk memungkinkan respons dinamis terhadap pergerakan dan pencahayaan.
Meski harus bersusah payah di awal, Ryan menyebut library teknologi internal yang dikumpulkan dapat digunakan untuk proyek-proyek berikutnya. “Libraries dari teknologi yang kita riset di Jumbo itu sebenarnya bisa kita aplikasikan ke film berikutnya,” kata Ryan.
Film animasi Jumbo merupakan karya feature perdana dari sutradara Ryan Adriandhy. Proyek ini diproduseri dua sineas perempuan, Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari.
Jumbo mengisahkan perjalanan Don, seorang anak bertubuh besar yang kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya. Dengan tekad untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak yang kerap gagal, Don pun mengambil langkah berani dengan mengikuti sebuah ajang pertunjukan bakat.
Dia merancang pementasan teater yang terinspirasi dari buku cerita warisan orang tuanya. Akan tetapi, jalan Don tidak mulus. Buku yang menjadi sumber inspirasinya dicuri oleh seorang perundung.
Di tengah keputusasaan, dia justru bertemu dengan seorang anak misterius yang meminta bantuannya untuk bertemu kembali dengan orang tuanya. Pertemuan itu menjadi awal dari petualangan penuh emosi dan makna, yang membawa Don pada pelajaran berharga tentang keberanian, kepercayaan diri, dan makna persahabatan sejati.
Film ini sekarang telah mendapatkan 10.171.372 penonton. Jumlahnya bisa bertambah karena masih tayang di bioskop, meski layar penayangannya kian menipis. Akan tetapi, film ini kini tengah mengarungi petualangan baru dengan penayangannya di kancah global.
Distribusi film ini masuk ke negara-negara yang sangat beragam. Sebab, film yang distribusinya salah satunya bekerja sama dengan Magic Fair ini menyasar tak hanya Asia Tenggara, tetapi juga Asia Tengah, seperti Uzbekistan hingga Kyrgystan.
Kemudian, film ini juga didistribusikan ke Eropa Timur, Timur Tengah, hingga Afrika. Angga juga menyebut film ini bakal ditayangkan juga di Eropa Timur, Latin Amerika, dan negara-negara berbahasa Prancis.
Baca juga: Cerita Angga Dwimas Sasongko Soal Film Jumbo Tayang di 40 Wilayah Dunia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Alih-alih menjadi hambatan, keterbatasan ini justru memaksa tim untuk menciptakan pendekatan yang adaptif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan produksinya. Di Jumbo, tim memakai open source Blender, yang dikustomisasi sesuai dengan keperluan.
“Kita memang pakai teknologi open source. Namanya Blender. Jadi, di Blender itu plugin-nya bisa diotak-atik sama riset and development kita sendiri. Jadi, itu semua bukan base on library-nya mereka,” ungkap sutradara Ryan.
Baca juga: Sutradara Ryan Adriandhy Ingin Film Animasi Masuk Kategori Penghargaan Umum di Festival Film
Plugin merupakan program kecil yang ditambahkan ke perangkat lunak untuk meningkatkan fungsionalitasnya atau menambahkan fitur baru. Mereka memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan alur kerja mereka, mengotomatiskan tugas-tugas tertentu, dan melakukan pemodelan, rendering, animasi, dan banyak lagi dengan lebih efisien.
Kebebasan modifikasi ini memungkinkan tim R&D Visinema mengembangkan plugin internal sesuai kebutuhan spesifik produksi Jumbo, termasuk dalam aspek simulasi rambut dan pergerakan objek ringan.
Ryan menekankan bahwa dalam animasi, tahap pra-produksi memiliki peran yang sangat krusial. Sebelum proses produksi dimulai, terdapat fase penting yaitu storyboarding dan animatik. Pada tahap ini, tim memiliki keleluasaan untuk menilai ulang rencana adegan, apakah ada bagian yang tidak efektif, terasa lambat, atau urutannya perlu disesuaikan.
Jika ada, tim bisa melakukan perubahan seperlunya. Dengan demikian, katanya, ketika masuk ke tahap produksi, seluruh elemen sudah tertata dengan efisien dan tidak ada pekerjaan yang sia-sia.
Tantangan Teknis Film Jumbo
Menurut Ryan, salah satu tantangan teknis terbesar dalam Jumbo terletak pada adegan pentas dengan gelembung (bubble). Dalam produksi animasi konvensional, elemen seperti ini kerap ditempatkan secara terpisah atau ditambahkan pada tahap akhir, tanpa integrasi spasial dengan karakter utama.Namun, Ryan memilih pendekatan berbeda. Menurut Ryan ini adalah salah satu scene yang dirinya anggap yang paling penting. Sebab, sangat berpengaruh pada alur penceritaan. “Kalau teman-teman menonton Jumbo, di bubble-nya itu ada refleksinya, karena memang lewat depannya dong,” jelasnya.
Selain bubble, elemen vegetasi seperti rumput dan dedaunan di area lapangan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tim mengembangkan plugin Blender internal untuk memungkinkan respons dinamis terhadap pergerakan dan pencahayaan.
Meski harus bersusah payah di awal, Ryan menyebut library teknologi internal yang dikumpulkan dapat digunakan untuk proyek-proyek berikutnya. “Libraries dari teknologi yang kita riset di Jumbo itu sebenarnya bisa kita aplikasikan ke film berikutnya,” kata Ryan.
Film animasi Jumbo merupakan karya feature perdana dari sutradara Ryan Adriandhy. Proyek ini diproduseri dua sineas perempuan, Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari.
Jumbo mengisahkan perjalanan Don, seorang anak bertubuh besar yang kerap dipandang sebelah mata oleh lingkungan sekitarnya. Dengan tekad untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak yang kerap gagal, Don pun mengambil langkah berani dengan mengikuti sebuah ajang pertunjukan bakat.
Dia merancang pementasan teater yang terinspirasi dari buku cerita warisan orang tuanya. Akan tetapi, jalan Don tidak mulus. Buku yang menjadi sumber inspirasinya dicuri oleh seorang perundung.
Di tengah keputusasaan, dia justru bertemu dengan seorang anak misterius yang meminta bantuannya untuk bertemu kembali dengan orang tuanya. Pertemuan itu menjadi awal dari petualangan penuh emosi dan makna, yang membawa Don pada pelajaran berharga tentang keberanian, kepercayaan diri, dan makna persahabatan sejati.
Film ini sekarang telah mendapatkan 10.171.372 penonton. Jumlahnya bisa bertambah karena masih tayang di bioskop, meski layar penayangannya kian menipis. Akan tetapi, film ini kini tengah mengarungi petualangan baru dengan penayangannya di kancah global.
Distribusi film ini masuk ke negara-negara yang sangat beragam. Sebab, film yang distribusinya salah satunya bekerja sama dengan Magic Fair ini menyasar tak hanya Asia Tenggara, tetapi juga Asia Tengah, seperti Uzbekistan hingga Kyrgystan.
Kemudian, film ini juga didistribusikan ke Eropa Timur, Timur Tengah, hingga Afrika. Angga juga menyebut film ini bakal ditayangkan juga di Eropa Timur, Latin Amerika, dan negara-negara berbahasa Prancis.
Baca juga: Cerita Angga Dwimas Sasongko Soal Film Jumbo Tayang di 40 Wilayah Dunia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.