Film Animasi Laris Malaysia Ejen Ali The Movie 2 Dibuat Selama 2,5 Tahun
21 June 2025 |
14:50 WIB
Setelah mencetak kesuksesan besar di bioskop Malaysia, film animasi Ejen Ali The Movie 2: Misi Satria segera menyapa layar lebar Indonesia mulai 27 Juni 2025. Disutradarai oleh Usamah Zaid Yasin dan didampingi ko-sutradara Nazmi Yatim, film ini merupakan hasil kolaborasi Primeworks Studios dan Wau Animation.
Ejen Ali bukan sekadar film animasi biasa. Sebagai salah satu intellectual property (IP) animasi terbesar dari Malaysia, waralaba ini telah menorehkan prestasi mengesankan sejak perilisan film pertamanya pada 2019.
Film edisi perdananya tercatat sebagai film animasi terlaris ketiga di Asia Tenggara. Hal ini mencerminkan betapa kuat daya tarik karakter dan cerita yang ditawarkan oleh animasi tersebut.
Baca juga: Komik Klasik Panji Tengkorak Diadaptasi Jadi Film Animasi
Di Indonesia, gaung Ejen Ali juga terus tumbuh. Tidak hanya lewat film, karena versi serial waralaba ini juga terus ditayangkan di televisi dan telah mendapat tempat khusus di hati anak-anak.
Dengan gaya visual yang atraktif dan jalan cerita yang menyentuh isu-isu penting seperti teknologi, keberanian, dan kerja sama tim, Ejen Ali menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga memperkaya wawasan penontonnya.
Produser Eksekutif Nini Yusof mengaku sangat gembira akhirnya edisi kedua dari film ini bisa tayang di Indonesia. Sebelumnya, film ini telah tayang reguler di Malaysia dan mendapatkan apresiasi yang besar.
Di Malaysia, katanya, film ini secara konsisten mendominasi perolehan jumlah penonton setiap pekan. Dirinya berharap penayangan film ini di Indonesia dapat membangun jembatan budaya animasi antara dua negara serumpun, terutama melalui medium animasi yang memang tengah tumbuh pesat di Asia Tenggara.
“Edisi kedua ini berbeda dari segi penceritaan, emosinya juga masih kuat, dan tentu saja masih penuh aksi. Lalu, saya rasa yang paling penting adalah jalan ceritanya mengetengahkan persahabatan yang sangat jitu,” ucap Nini.
Dalam proses produksi film animasi ini, Nini mengungkapkan bahwa timnya turut menjalin kolaborasi dengan sejumlah pihak dari Indonesia. Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah menggandeng studio animasi asal Yogyakarta, Dipadira Animation Studios, untuk menyelesaikan sebagian pengerjaan animasi dalam film Ejen Ali The Movie 2.
Tak hanya dalam aspek visual, kolaborasi lintas negara ini juga merambah ke bidang musik. Band Indonesia, Nidji, dipercaya untuk mengisi soundtrack utama film lewat lagu berjudul "Teman Sejati".
Lagu ini baginya tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi turut merefleksikan tema besar dalam film, terutama tentang arti persahabatan dan kesetiaan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan pesan emosional yang diusung dalam kisah terbaru petualangan Ejen Ali.
Sutradara Ejen Ali The Movie 2, Usamah Zaid Yasin, mengungkapkan bahwa dalam edisi terbaru ini dirinya tetap ingin menonjolkan unsur budaya lokal meskipun filmnya mengusung tema fiksi ilmiah (sci-fi). Menurutnya, perpaduan antara elemen teknologi futuristik dan narasi-narasi khas budaya lokal justru menjadi kekuatan utama yang membedakan Ejen Ali dari film animasi lainnya.
Lebih lanjut, Usamah menjelaskan bahwa proses pembuatan film animasi seperti ini melibatkan banyak orang. Dia menyebut bahwa tim inti produksinya saja terdiri dari sekitar 65 orang, belum termasuk kolaborator tambahan dari berbagai pihak lain.
Hal ini menunjukkan betapa kompleks dan kolaboratifnya proses produksi di balik layar film animasi berskala besar seperti Ejen Ali The Movie 2. “Pembuatan film ini sekitar 2,5 tahun. Jika dilihat, sepertinya waktunya panjang ya. Namun, untuk animasi, sebenarnya itu singkat. Berkaca dari Hollywood saja, umumnya mereka itu 4 tahun,” tuturnya.
Kendati demikian, dirinya senang karena film kedua ini tetap memberikan peningkatan signifikan. Tidak hanya dari aspek visual, tetapi juga kualitas produksi secara keseluruhan. Hal ini terjadi karena kolaborasi banyak pihak, termasuk studio animasi dari Yogyakarta.
Film ini akan menampilkan aksi seru penuh tantangan dalam misi agen muda, Ejen Ali (disulih suara oleh Ida Rahayu Yusoff) terlibat dalam proyek baru MATA, Project Satria. MATA (Meta Advance Tactical Agency) adalah agensi mata-mata berteknologi tinggi yang bertugas melindungi Cyberaya.
Project Satria akan memungkinkan sang agen muda untuk bisa menguasai keempat keahlian yang menjadi fokus MATA: Tekno (teknologi), Neuro (strategi), Kombat (beladiri), dan Inviso (kecerdasan).
Ejen Ali pun menjadi agen muda pertama yang dipercaya untuk mencoba kecanggihan teknologi Satria, yang berwujud dalam sebuah pakaian tempur berteknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Namun, dalam upaya mengendalikan Satria, Ejen Ali menghadapi tantangan serius. Keahliannya sebagai agen muda, akan diuji. Tak hanya itu, pertemanannya dengan Alicia (Noorhayati Maslini), sesama agen muda, juga akan menemui titik kritis di film kedua ini.
Sementara itu, Cyberaya juga tengah dalam ancaman Neonimus (Qayyim Zamani), dengan rahasia dari masa lalu yang terungkap. Film ini akan memberi porsi besar pada aksi Ejen Ali yang berhadapan dengan musuh utamanya, Neonimus dan melindungi Ciberaya dari serangan jahat yang bisa menghancurkan kota.
Baca juga: Sutradara Ryan Adriandhy Ingin Film Animasi Masuk Kategori Penghargaan Umum di Festival Film
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ejen Ali bukan sekadar film animasi biasa. Sebagai salah satu intellectual property (IP) animasi terbesar dari Malaysia, waralaba ini telah menorehkan prestasi mengesankan sejak perilisan film pertamanya pada 2019.
Film edisi perdananya tercatat sebagai film animasi terlaris ketiga di Asia Tenggara. Hal ini mencerminkan betapa kuat daya tarik karakter dan cerita yang ditawarkan oleh animasi tersebut.
Baca juga: Komik Klasik Panji Tengkorak Diadaptasi Jadi Film Animasi
Di Indonesia, gaung Ejen Ali juga terus tumbuh. Tidak hanya lewat film, karena versi serial waralaba ini juga terus ditayangkan di televisi dan telah mendapat tempat khusus di hati anak-anak.
Dengan gaya visual yang atraktif dan jalan cerita yang menyentuh isu-isu penting seperti teknologi, keberanian, dan kerja sama tim, Ejen Ali menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga memperkaya wawasan penontonnya.
Produser Eksekutif Nini Yusof mengaku sangat gembira akhirnya edisi kedua dari film ini bisa tayang di Indonesia. Sebelumnya, film ini telah tayang reguler di Malaysia dan mendapatkan apresiasi yang besar.
Di Malaysia, katanya, film ini secara konsisten mendominasi perolehan jumlah penonton setiap pekan. Dirinya berharap penayangan film ini di Indonesia dapat membangun jembatan budaya animasi antara dua negara serumpun, terutama melalui medium animasi yang memang tengah tumbuh pesat di Asia Tenggara.
“Edisi kedua ini berbeda dari segi penceritaan, emosinya juga masih kuat, dan tentu saja masih penuh aksi. Lalu, saya rasa yang paling penting adalah jalan ceritanya mengetengahkan persahabatan yang sangat jitu,” ucap Nini.
Dalam proses produksi film animasi ini, Nini mengungkapkan bahwa timnya turut menjalin kolaborasi dengan sejumlah pihak dari Indonesia. Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah menggandeng studio animasi asal Yogyakarta, Dipadira Animation Studios, untuk menyelesaikan sebagian pengerjaan animasi dalam film Ejen Ali The Movie 2.
Tak hanya dalam aspek visual, kolaborasi lintas negara ini juga merambah ke bidang musik. Band Indonesia, Nidji, dipercaya untuk mengisi soundtrack utama film lewat lagu berjudul "Teman Sejati".
Lagu ini baginya tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi turut merefleksikan tema besar dalam film, terutama tentang arti persahabatan dan kesetiaan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan pesan emosional yang diusung dalam kisah terbaru petualangan Ejen Ali.
Sutradara Ejen Ali The Movie 2, Usamah Zaid Yasin, mengungkapkan bahwa dalam edisi terbaru ini dirinya tetap ingin menonjolkan unsur budaya lokal meskipun filmnya mengusung tema fiksi ilmiah (sci-fi). Menurutnya, perpaduan antara elemen teknologi futuristik dan narasi-narasi khas budaya lokal justru menjadi kekuatan utama yang membedakan Ejen Ali dari film animasi lainnya.
Lebih lanjut, Usamah menjelaskan bahwa proses pembuatan film animasi seperti ini melibatkan banyak orang. Dia menyebut bahwa tim inti produksinya saja terdiri dari sekitar 65 orang, belum termasuk kolaborator tambahan dari berbagai pihak lain.
Hal ini menunjukkan betapa kompleks dan kolaboratifnya proses produksi di balik layar film animasi berskala besar seperti Ejen Ali The Movie 2. “Pembuatan film ini sekitar 2,5 tahun. Jika dilihat, sepertinya waktunya panjang ya. Namun, untuk animasi, sebenarnya itu singkat. Berkaca dari Hollywood saja, umumnya mereka itu 4 tahun,” tuturnya.
Kendati demikian, dirinya senang karena film kedua ini tetap memberikan peningkatan signifikan. Tidak hanya dari aspek visual, tetapi juga kualitas produksi secara keseluruhan. Hal ini terjadi karena kolaborasi banyak pihak, termasuk studio animasi dari Yogyakarta.
Film ini akan menampilkan aksi seru penuh tantangan dalam misi agen muda, Ejen Ali (disulih suara oleh Ida Rahayu Yusoff) terlibat dalam proyek baru MATA, Project Satria. MATA (Meta Advance Tactical Agency) adalah agensi mata-mata berteknologi tinggi yang bertugas melindungi Cyberaya.
Project Satria akan memungkinkan sang agen muda untuk bisa menguasai keempat keahlian yang menjadi fokus MATA: Tekno (teknologi), Neuro (strategi), Kombat (beladiri), dan Inviso (kecerdasan).
Ejen Ali pun menjadi agen muda pertama yang dipercaya untuk mencoba kecanggihan teknologi Satria, yang berwujud dalam sebuah pakaian tempur berteknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Namun, dalam upaya mengendalikan Satria, Ejen Ali menghadapi tantangan serius. Keahliannya sebagai agen muda, akan diuji. Tak hanya itu, pertemanannya dengan Alicia (Noorhayati Maslini), sesama agen muda, juga akan menemui titik kritis di film kedua ini.
Sementara itu, Cyberaya juga tengah dalam ancaman Neonimus (Qayyim Zamani), dengan rahasia dari masa lalu yang terungkap. Film ini akan memberi porsi besar pada aksi Ejen Ali yang berhadapan dengan musuh utamanya, Neonimus dan melindungi Ciberaya dari serangan jahat yang bisa menghancurkan kota.
Baca juga: Sutradara Ryan Adriandhy Ingin Film Animasi Masuk Kategori Penghargaan Umum di Festival Film
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.