Cerita di Balik Album Baru Laufey A Matter of Time
17 June 2025 |
18:37 WIB
Bagi Laufey, menjadi superstar adalah tentang menyeimbangkan antara mimpi dan sedikit delusi, di mana hidupnya sekarang adalah sebuah garis tipis yang berhasil dia pijak dengan anggun. Saat usia 26, penyanyi asal Islandia ini memahami bahwa keajaiban kariernya tak terjadi begitu saja.
Merangkum percakapan Laufey saat diwawancarai bersama Teen Vogue Summit 2025, dia menceritakan perjalanannya saat sebelum menjadi populer dan kesan cerita bagaimana perjalanan Laufey menuju ketenaran dari ekspresi naturalnya dan kisah nyata pahit yang dia alami, dituang menjadi sebuah album berjudul A Matter Of Time.
“Baru-baru ini, ada seorang cewek dari SMA-ku dulu yang menemukan buku tahunan kami. Di salah satu halamannya ada pertanyaan, Kamu lihat dirimu seperti apa 10 tahun dari sekarang? Waktu itu aku baru lulus kelas 10. Jawabanku? Pindah ke Amerika, menang Grammy, dan dikontrak label musik,” cerita Laufey kepada Teen Vogue jelang kehadirannya di Gold House’s 4th Annual Gold Gala.
Baca juga: Taylor Swift Akhirnya Punya Hak Penuh Atas 6 Master Albumnya
Ternyata, semua itu kini jadi kenyataan. Setelah album keduanya Bewitched meledak tahun 2024, Laufey menjalani tur dunia sebanyak 110 pertunjukan dan membawa pulang Piala Grammy pertamanya. Tapi di balik semua sorotan itu, dia masih terlihat seperti gadis yang akan dengan ramah mengajakmu duduk di kantin saat kamu sendirian.
“Aura itu aku pertahankan, karena aku enggak mau kehilangan versi diriku yang dulu, saat aku masih bermimpi," katanya. Dan sekarang, menjelang perilisan album ketiganya A Matter of Time pada 22 Agustus, Laufey mengaku ini akan jadi titik balik berikutnya.
“Album ini adalah pertama kalinya aku masuk studio dengan pemahaman penuh bahwa aku boleh mengambil ruang sebesar ini,” ujarnya. “Dulu, aku cuma bikin musik yang aku suka, berharap orang mau dengar. Tapi sejak album terakhir meledak, aku sadar, aku perlu meluaskan pandangan,” sambung Laufey.
Musiknya kini semakin besar, lebih lantang. “Aku tampil di arena sekarang, dan aku harus bisa memenuhi ruang itu. Album ini yang paling ambisius, paling percaya diri, dan paling mencerminkan aku,” jelasnya
Laufey tumbuh di rumah yang penuh musik klasik, ibunya pemain biola, kakek-neneknya pun juga seorang musisi. Tetapi, dari kecil pun Laufey juga sudah menyukai musik jazz, musikal klasik, dan Taylor Swift. Dunia musiknya adalah percampuran dari berbagai genre dan budaya.
“Saat aku pindah dari Islandia ke AS untuk kuliah, itu jadi titik di mana aku merasa punya tempat untuk mengembangkan semua sisi musikku,” ungkapnya. Dari sanalah dia mulai mengunggah video menyanyi di TikTok dan Instagram, yang kemudian menarik komunitas pendengar pertamanya.
Ketika ditanya soal kemenangan Grammy-nya, dia tertawa kecil. “Aku enggak pernah menyangka. Enggak pernah lihat sosok seperti diriku bisa sukses di dunia pop. Enggak ada role model Asia yang nge-blend jazz, klasik, dan pop jadi proyek musik yang modern. Jadi aku bahkan enggak berani bermimpi,” ujarnya.
Namun sekarang, dia tampil di karpet merah, main di panggung impian seperti Hollywood Bowl — salah satu momen paling menggetarkan hatinya. “Waktu aku nyanyi lagu ‘Valentine’, fans bikin proyek dengan kertas berbentuk hati dan senter HP. Satu arena penuh dengan cahaya berbentuk hati. Rasanya kayak mimpi,” ungkap Laufey.
Meski begitu, jadi diri sendiri tetap jadi prioritasnya. “Setiap hari, aku berusaha ingat, aku tetap orang yang sama. Kadang, untuk jalan di karpet merah saja, aku harus pura-pura percaya diri. Tapi semua artis tahu, antara ‘God complex’ dan ‘rasa enggak pantas’, kita berdiri di tengah-tengah itu tiap hari.”
Di Los Angeles, kehidupan Laufey seperti dua dunia: seru dan menantang. “Di Islandia, aku selalu jadi ‘cewek Asia’ atau ‘kembar’,” kenangnya. “Di LA, aku pertama kalinya merasa dilihat sebagai pribadi, bukan berdasarkan latar belakangku.”
Meski begitu, membangun pertemanan di kota baru tak selalu mudah. Dia bahkan pernah mengalami “friendship breakup” yang lebih menyakitkan dari putus cinta. “Aku tulis lagu tentang itu. Kayaknya semua cewek pernah ngalamin hal kayak gini.”
Salah satu single-nya yang terbaru, Tough Luck, adalah bentuk ekspresi marah — sisi Laufey yang selama ini jarang terlihat. “Orang kira aku kalem dan rapi. Tapi aslinya, aku suka telat, suka ngomong kotor. Di lagu ini, aku pengin tunjukin sisi marahku,” katanya sambil tertawa.
Baca juga: VIVIZ Siap Rilis Full Album A Montage of ( ) dan Gelar Tur Dunia Kedua
Baginya, menulis lagu adalah cara untuk bertanya pada semesta. “Aku suka nulis tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan karena... ya, itu hidupku. Tapi aku tahu banyak orang juga ngerasain hal yang sama. Maka itu aku berusaha untuk menulis sejujur mungkin.”
Dengan album barunya, Laufey berharap pendengar bisa melihat seluruh spektrum emosi seorang perempuan. “Semua perempuan punya amarah, kelembutan, keraguan, kepercayaan diri… semuanya bercampur. Aku harap orang bisa lihat itu juga dalam diriku — dalam lagu-laguku.”
Merangkum percakapan Laufey saat diwawancarai bersama Teen Vogue Summit 2025, dia menceritakan perjalanannya saat sebelum menjadi populer dan kesan cerita bagaimana perjalanan Laufey menuju ketenaran dari ekspresi naturalnya dan kisah nyata pahit yang dia alami, dituang menjadi sebuah album berjudul A Matter Of Time.
“Baru-baru ini, ada seorang cewek dari SMA-ku dulu yang menemukan buku tahunan kami. Di salah satu halamannya ada pertanyaan, Kamu lihat dirimu seperti apa 10 tahun dari sekarang? Waktu itu aku baru lulus kelas 10. Jawabanku? Pindah ke Amerika, menang Grammy, dan dikontrak label musik,” cerita Laufey kepada Teen Vogue jelang kehadirannya di Gold House’s 4th Annual Gold Gala.
Baca juga: Taylor Swift Akhirnya Punya Hak Penuh Atas 6 Master Albumnya
Ternyata, semua itu kini jadi kenyataan. Setelah album keduanya Bewitched meledak tahun 2024, Laufey menjalani tur dunia sebanyak 110 pertunjukan dan membawa pulang Piala Grammy pertamanya. Tapi di balik semua sorotan itu, dia masih terlihat seperti gadis yang akan dengan ramah mengajakmu duduk di kantin saat kamu sendirian.
“Aura itu aku pertahankan, karena aku enggak mau kehilangan versi diriku yang dulu, saat aku masih bermimpi," katanya. Dan sekarang, menjelang perilisan album ketiganya A Matter of Time pada 22 Agustus, Laufey mengaku ini akan jadi titik balik berikutnya.
“Album ini adalah pertama kalinya aku masuk studio dengan pemahaman penuh bahwa aku boleh mengambil ruang sebesar ini,” ujarnya. “Dulu, aku cuma bikin musik yang aku suka, berharap orang mau dengar. Tapi sejak album terakhir meledak, aku sadar, aku perlu meluaskan pandangan,” sambung Laufey.
Musiknya kini semakin besar, lebih lantang. “Aku tampil di arena sekarang, dan aku harus bisa memenuhi ruang itu. Album ini yang paling ambisius, paling percaya diri, dan paling mencerminkan aku,” jelasnya
Laufey tumbuh di rumah yang penuh musik klasik, ibunya pemain biola, kakek-neneknya pun juga seorang musisi. Tetapi, dari kecil pun Laufey juga sudah menyukai musik jazz, musikal klasik, dan Taylor Swift. Dunia musiknya adalah percampuran dari berbagai genre dan budaya.
“Saat aku pindah dari Islandia ke AS untuk kuliah, itu jadi titik di mana aku merasa punya tempat untuk mengembangkan semua sisi musikku,” ungkapnya. Dari sanalah dia mulai mengunggah video menyanyi di TikTok dan Instagram, yang kemudian menarik komunitas pendengar pertamanya.
Ketika ditanya soal kemenangan Grammy-nya, dia tertawa kecil. “Aku enggak pernah menyangka. Enggak pernah lihat sosok seperti diriku bisa sukses di dunia pop. Enggak ada role model Asia yang nge-blend jazz, klasik, dan pop jadi proyek musik yang modern. Jadi aku bahkan enggak berani bermimpi,” ujarnya.
Namun sekarang, dia tampil di karpet merah, main di panggung impian seperti Hollywood Bowl — salah satu momen paling menggetarkan hatinya. “Waktu aku nyanyi lagu ‘Valentine’, fans bikin proyek dengan kertas berbentuk hati dan senter HP. Satu arena penuh dengan cahaya berbentuk hati. Rasanya kayak mimpi,” ungkap Laufey.
Meski begitu, jadi diri sendiri tetap jadi prioritasnya. “Setiap hari, aku berusaha ingat, aku tetap orang yang sama. Kadang, untuk jalan di karpet merah saja, aku harus pura-pura percaya diri. Tapi semua artis tahu, antara ‘God complex’ dan ‘rasa enggak pantas’, kita berdiri di tengah-tengah itu tiap hari.”
Spektrum Emosi Laufey
Di Los Angeles, kehidupan Laufey seperti dua dunia: seru dan menantang. “Di Islandia, aku selalu jadi ‘cewek Asia’ atau ‘kembar’,” kenangnya. “Di LA, aku pertama kalinya merasa dilihat sebagai pribadi, bukan berdasarkan latar belakangku.”Meski begitu, membangun pertemanan di kota baru tak selalu mudah. Dia bahkan pernah mengalami “friendship breakup” yang lebih menyakitkan dari putus cinta. “Aku tulis lagu tentang itu. Kayaknya semua cewek pernah ngalamin hal kayak gini.”
Salah satu single-nya yang terbaru, Tough Luck, adalah bentuk ekspresi marah — sisi Laufey yang selama ini jarang terlihat. “Orang kira aku kalem dan rapi. Tapi aslinya, aku suka telat, suka ngomong kotor. Di lagu ini, aku pengin tunjukin sisi marahku,” katanya sambil tertawa.
Baca juga: VIVIZ Siap Rilis Full Album A Montage of ( ) dan Gelar Tur Dunia Kedua
Baginya, menulis lagu adalah cara untuk bertanya pada semesta. “Aku suka nulis tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan karena... ya, itu hidupku. Tapi aku tahu banyak orang juga ngerasain hal yang sama. Maka itu aku berusaha untuk menulis sejujur mungkin.”
Dengan album barunya, Laufey berharap pendengar bisa melihat seluruh spektrum emosi seorang perempuan. “Semua perempuan punya amarah, kelembutan, keraguan, kepercayaan diri… semuanya bercampur. Aku harap orang bisa lihat itu juga dalam diriku — dalam lagu-laguku.”
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.