Taylor Swift Akhirnya Punya Hak Penuh Atas 6 Master Albumnya
02 June 2025 |
17:14 WIB
Cukup lama menghilang dari media sosial, Taylor Swift memberikan pengumuman mengejutkan untuk para penggemarnya. Penyanyi pelantun lagu "Blank Space" itu telah resmi mendapatkan kembali hak atas master enam albumya yang sempat dijual oleh label Big Machine Records pada 2019.
Hal itu dia ungkapkan dalam sebuah surat panjang yang ditulis dirinya dan diunggah di situs pribadinya, Sabtu (30/5/2025) waktu Indonesia. Dalam suratnya, Swift menyampaikan bahwa dia telah membeli master enam albumnya dari Shamrock Capital, yang membeli diskografi itu dari Scooter Braun.
Baca juga: Lagunya Disebut Plagiat dan Terjemahan dari Lirik Taylor Swift, Bernadya Respons Begini
Keenam albumnya yakni Taylor Swift (2006), Fearless (2008), Speak Now (2010), Red (2012), 1989 (2014) dan Reputation (2017). Swift juga membagikan beberapa foto potret dirinya bersama album-album tersebut di akun media sosial pribadinya.
Penyanyi berusia 39 tahun itu mengatakan bahwa dia telah kembali memiliki hak atas master albumnya, termasuk video, film konser, sampul album dan fotografi, termasuk lagu-lagu yang belum dirilis tetapi sudah dijual ke Shamrock Capital. Dia pun berterima kasih kepada Shamrock Capital yang telah membantunya untuk mendapatkan kembali hak master album-albumnya.
"Ini adalah mimpi terbesarku yang menjadi kenyataan, dan aku sebenarnya cukup tertutup tentang hal itu. Aku ingin sekali punya kesempatan untuk bekerja cukup keras agar suatu hari nanti dapat membeli musikku secara langsung tanpa ikatan apa pun, tanpa kemitraan, dengan otonomi penuh," tulisnya.
Dalam suratnya, Swift juga mengungkap bahwa kerja samanya dengan Shamrock Capital untuk membeli kembali master-master album tersebut berlangsung secara jujur, adil, dan penuh rasa hormat. Pelantun lagu "Shake It Off" itu merasa Shamrock tidak melihat hal ini sekadar kesepakatan bisnis, melainkan upaya mewujudkan kenangan, kerja keras, dan impiannya selama puluhan tahun.
"Saya akan selalu berterima kasih kepada semua orang di Shamrock Capital karena menjadi orang pertama yang menawarkan ini kepada saya. Semua musik yang pernah saya buat kini menjadi milik saya," tulisnya.
Swift juga mengatakan sudah membeli lagi master enam album tersebut dengan harga yang sangat adil dan masuk akal. Hal itu pun memunculkan sejumlah spekulasi. Sejumlah sumber mengatakan kepada Billboard bahwa musisi tersebut membeli enam albumnya seharga US$360 juta.
Harga tersebut terbilang tidak jauh berbeda dengan harga yang dijual Scott Borchetta, pemilik Big Machine Records, yang menjual ke Scooter Braun dengan harga US$300 juta. Akan tetapi, angka itu jauh di bawah prediksi sebelumnya yang mencapai US$500 juta hingga US$1 miliar.
Namun, yang jelas, Swift mengaku bahwa dia berhasil membeli kembali master-master albumnya berkat kesuksesan tur dunianya yang fenomenal, Eras Tour. Tur yang berlangsung selama 21 bulan itu dilaporkan menghasilkan pendapatan sebesar US$2 miliar dari 149 pertunjukan.
Taylor Swift diketahui sempat kehilangan hak atas musiknya setelah Scooter Braun menjual rekaman master 6 album pertamanya melalui Itacha Holdings pada 2019 lalu. Braun menjual rekaman master tersebut kepada firma ekuitas swasta Shamrock Capital pada November 2020 dengan harga yang dilaporkan mencapai US$300 juta.
Kala itu, Swift mengaku tidak diberi kesempatan membeli master-nya sendiri dan memicu konflik besar antara mereka. Masih dalam suratnya, dia juga membeberkan sempat ditawarkan untuk menjadi "mitra" dengan Shamrock Capital tetapi menolaknya karena kesepakatan yang dibuat Scooter Braun akan memungkinkannya untuk terus mendapat untung dari karyanya.
Baca juga: Siapa Lucy Guo? Miliarder Wanita Termuda di Dunia yang Geser Posisi Taylor Swift
"Selama bertahun-tahun saya meminta, memohon agar diberi kesempatan untuk memiliki karya saya sendiri. Saya meninggalkannya karena saya tahu begitu saya menandatangani kontrak itu, Scott Borchetta akan menjual label itu, yang berarti menjual saya dan masa depan saya," kata Swift.
Polemik itu akhirnya mendorongnya untuk membuat rekaman ulang dari album-album lamanya dan merilisnya sebagai "Taylor's Version". Dimulai dari album Fearless (Taylor's Version) yang dirilis tahun 2021, dan disusul dengan album-album lainnya yakni Red, Speak Now, dan 1989. Beberapa album itu pun sukses di pasaran, bahkan melebihi capaian yang didapat oleh versi aslinya.
Hal itu dia ungkapkan dalam sebuah surat panjang yang ditulis dirinya dan diunggah di situs pribadinya, Sabtu (30/5/2025) waktu Indonesia. Dalam suratnya, Swift menyampaikan bahwa dia telah membeli master enam albumnya dari Shamrock Capital, yang membeli diskografi itu dari Scooter Braun.
Baca juga: Lagunya Disebut Plagiat dan Terjemahan dari Lirik Taylor Swift, Bernadya Respons Begini
Keenam albumnya yakni Taylor Swift (2006), Fearless (2008), Speak Now (2010), Red (2012), 1989 (2014) dan Reputation (2017). Swift juga membagikan beberapa foto potret dirinya bersama album-album tersebut di akun media sosial pribadinya.
Penyanyi berusia 39 tahun itu mengatakan bahwa dia telah kembali memiliki hak atas master albumnya, termasuk video, film konser, sampul album dan fotografi, termasuk lagu-lagu yang belum dirilis tetapi sudah dijual ke Shamrock Capital. Dia pun berterima kasih kepada Shamrock Capital yang telah membantunya untuk mendapatkan kembali hak master album-albumnya.
"Ini adalah mimpi terbesarku yang menjadi kenyataan, dan aku sebenarnya cukup tertutup tentang hal itu. Aku ingin sekali punya kesempatan untuk bekerja cukup keras agar suatu hari nanti dapat membeli musikku secara langsung tanpa ikatan apa pun, tanpa kemitraan, dengan otonomi penuh," tulisnya.
Dalam suratnya, Swift juga mengungkap bahwa kerja samanya dengan Shamrock Capital untuk membeli kembali master-master album tersebut berlangsung secara jujur, adil, dan penuh rasa hormat. Pelantun lagu "Shake It Off" itu merasa Shamrock tidak melihat hal ini sekadar kesepakatan bisnis, melainkan upaya mewujudkan kenangan, kerja keras, dan impiannya selama puluhan tahun.
"Saya akan selalu berterima kasih kepada semua orang di Shamrock Capital karena menjadi orang pertama yang menawarkan ini kepada saya. Semua musik yang pernah saya buat kini menjadi milik saya," tulisnya.
Swift juga mengatakan sudah membeli lagi master enam album tersebut dengan harga yang sangat adil dan masuk akal. Hal itu pun memunculkan sejumlah spekulasi. Sejumlah sumber mengatakan kepada Billboard bahwa musisi tersebut membeli enam albumnya seharga US$360 juta.
Harga tersebut terbilang tidak jauh berbeda dengan harga yang dijual Scott Borchetta, pemilik Big Machine Records, yang menjual ke Scooter Braun dengan harga US$300 juta. Akan tetapi, angka itu jauh di bawah prediksi sebelumnya yang mencapai US$500 juta hingga US$1 miliar.
Namun, yang jelas, Swift mengaku bahwa dia berhasil membeli kembali master-master albumnya berkat kesuksesan tur dunianya yang fenomenal, Eras Tour. Tur yang berlangsung selama 21 bulan itu dilaporkan menghasilkan pendapatan sebesar US$2 miliar dari 149 pertunjukan.
Taylor Swift diketahui sempat kehilangan hak atas musiknya setelah Scooter Braun menjual rekaman master 6 album pertamanya melalui Itacha Holdings pada 2019 lalu. Braun menjual rekaman master tersebut kepada firma ekuitas swasta Shamrock Capital pada November 2020 dengan harga yang dilaporkan mencapai US$300 juta.
Kala itu, Swift mengaku tidak diberi kesempatan membeli master-nya sendiri dan memicu konflik besar antara mereka. Masih dalam suratnya, dia juga membeberkan sempat ditawarkan untuk menjadi "mitra" dengan Shamrock Capital tetapi menolaknya karena kesepakatan yang dibuat Scooter Braun akan memungkinkannya untuk terus mendapat untung dari karyanya.
Baca juga: Siapa Lucy Guo? Miliarder Wanita Termuda di Dunia yang Geser Posisi Taylor Swift
"Selama bertahun-tahun saya meminta, memohon agar diberi kesempatan untuk memiliki karya saya sendiri. Saya meninggalkannya karena saya tahu begitu saya menandatangani kontrak itu, Scott Borchetta akan menjual label itu, yang berarti menjual saya dan masa depan saya," kata Swift.
Polemik itu akhirnya mendorongnya untuk membuat rekaman ulang dari album-album lamanya dan merilisnya sebagai "Taylor's Version". Dimulai dari album Fearless (Taylor's Version) yang dirilis tahun 2021, dan disusul dengan album-album lainnya yakni Red, Speak Now, dan 1989. Beberapa album itu pun sukses di pasaran, bahkan melebihi capaian yang didapat oleh versi aslinya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.