Di tengah tekanan ekonomi selama setahun terakhir, rupanya masyarakat Indonesia tetap memiliki sikap optimisme terhadap masa depan finansial mereka. (Sumber gambar: Karolina Grabowska/Pexels)

68 Persen Masyarakat Masih Optimistis Terhadap Masa Depan Keuangan Mereka

17 June 2025   |   12:56 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah tekanan ekonomi selama setahun terakhir, rupanya masyarakat Indonesia tetap memiliki sikap optimisme terhadap masa depan finansial mereka. Hal tersebut terungkap dalam hasil survei YouGov bertajuk Indonesia's Personal Finance Outlook 2025 yang dirilis pada 16 Juni 2025.
 
Laporan survei yang melibatkan 2.067 responden dewasa itu menunjukkan bahwa sebanyak 68 persen dari mereka memiliki sikap positif untuk menatap masa depan keuangan mereka, di tengah tekanan ekonomi selama setahun terakhir.
 
Persentase tersebut terdiri dari 28 persen responden yang mengaku tetap optimistis terhadap kondisi keuangan mereka, 26 persen lainnya memiliki harapan yang besar untuk masa depan mereka, 9 persen responden mengaku bahagia, serta 5 persen lainnya mengaku antusias terhadap masa depan mereka.

Baca juga: 4 Strategi Atur Keuangan Agar Tetap Aman saat Resesi Menurut Pakar
 
Masyarakat usia 35-44 tahun menjadi kelompok yang paling besar memiliki sikap positif terhadap masa depan keuangan sebagaimana diakui oleh 72 persen responden. Diikuti oleh kelompok usia 25-34 (68 persen), 55 tahun ke atas (67 persen) serta usia 18-24 dan 45-54 yang masing-masing sebesar 65 persen.
 
Di sisi lain, hasil survei yang dilakukan secara daring pada 17-21 April 2025 itu melaporkan sebanyak 24 persen responden justru memiliki sikap negatif terhadap masa depan keuangan mereka. Persentase itu terdiri dari adanya kekhawatiran sebagaimana diakui 17 persen responden, sedih (4 persen) dan pesimistis (3 persen).
 
Generasi muda tepatnya yang berusia 18-24 tahun menjadi kelompok yang paling besar memiliki sikap negatif terhadap masa depan keuangan sebagaimana diakui oleh 27 persen responden. Diikuti oleh kelompok usia 25-34 dan 45-54 yang masing-masing sebesar 24 persen, usia 35-44 (20 persen) serta usia 55 tahun ke atas sebesar 17 persen.
 
Pendapatan Stagnan
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden atau 46 persen mengaku mendapatkan penghasilan dengan jumlah yang stagnan selama setahun terakhir. Sementara itu, 36 persen lainnya mengaku mengalami peningkatan penghasilan, dan 18 persen lainnya menghadapi penurunan pendapatan.
 
Ada beberapa faktor yang menyebabkan pendapatan masyarakat stagnan selama setahun terakhir. Inflasi dan kondisi ekonomi menjadi faktor utama sebagaimana diakui oleh 40 persen responden. 
 
Diikuti oleh menurunnya pendapatan dari pekerjaan sampingan atau freelance (31 persen), penurunan pendapatan dari bisnis/wirausaha (28 persen) dan hilangnya pekerjaan tetap sebagaimana diakui oleh 25 persen responden.
 
Tren Pengeluaran Masyarakat
Di tengah pendapatan yang stagnan, nilai pengeluaran masyarakat justru meningkat sebagaimana diakui oleh 51 persen responden. Sementara 38 persen lainnya mengaku nilai pengeluaran mereka masih sama, dan 11 persen lainnya mengalami penurunan jumlah pengeluaran.
 
Kondisi itu pun membuat masyarakat lebih bijak dalam membelanjakan uang mereka, guna tetap mengamankan keuangan di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Belanja kebutuhan pokok menjadi pengeluaran utama mereka sebagaimana diakui oleh 34 persen responden.
 
Setelah kebutuhan sehari-hari terpenuhi, mereka langsung mengalokasikan pendapatan mereka untuk tabungan sebagaimana dipilih oleh 24 persen responden. Disusul dengan pemenuhan kebutuhan lainnya seperti pulsa/paket data (19 persen), tagihan listrik (18 persen) serta kecantikan & perawatan diri (15 persen).
Sementara itu, mereka justru mengurangi pengeluaran untuk beberapa hal seperti membeli pakaian (18 persen), hiburan (14 persen), makanan pesan-antar (11 persen) dan teknologi/gadget (10 persen). 
 
Edward Hutasoit, General Manager YouGov Indonesia, mengatakan temuan YouGov menunjukkan masyarakat Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa di tengah tekanan ekonomi.
 
Mereka, kata Edward, meninjau ulang pengeluaran rumah tangga, menyesuaikan gaya hidup, dan mengambil langkah finansial yang lebih hati-hati. "Semua ini menunjukkan bagaimana masyarakat belajar bertahan sekaligus bersiap menyambut masa depan, meski kondisi belum ideal," katanya.
 
Edward menambahkan temuan ini juga membuka wawasan baru tentang bagaimana masyarakat mengatur ulang prioritas mereka. Bagi pelaku usaha, institusi, maupun pengambil kebijakan, lanjutnya, ini adalah kesempatan untuk membangun pendekatan yang lebih relevan, empatik, dan berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. 
 
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

PBB Sebut Dampak AI Generatif Lebih Rentan Terhadap Perempuan

BERIKUTNYA

Timnas Indonesia U-23 Panggil 30 Pemain Jelang Asean U-23 Championship

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: