Cerita Kreator Sejarah Sulap Stigma Bosan Jadi Berkesan
16 June 2025 |
20:30 WIB
Siapa bilang wisata sejarah membosankan? Wisata sejarah perlahan menunjukkan taring kembali berkat faktor pendekatan pada era digital. Dari yang semula dianggap kaku dan membosankan, wisata peninggalan masa lampau ini bisa tampil lebih segar dan menarik berkat peran kreator konten.
Spot-spot bersejarah yang dulunya sepi pengunjung, kini ramai dijadikan latar foto Instagram, objek video TikTok, hingga bahan narasi Youtube. Transformasi ini didorong oleh hadirnya para kreator konten yang menggabungkan visual menarik dengan storytelling yang relevan bagi audiens masa kini.
Baca juga: 3 Kisah Inspiratif Kreator yang Menyulut Semangat Membaca di Era Digital
Salah satu kreator yang aktif mengangkat konten sejarahadalah Rizky Ramadhani. Dia mulai membuat konten sekitar 2 tahun yang lalu, tetapi baru fokus ke tema sejarah dalam setahun terakhir. Awalnya, Rizky mendapatkan audiens yang masih umum. Namun seiring waktu, minat pribadi terhadap sejarah dan respons positif dari audiens mendorong Rizky lebih fokus ke tema sejarah.
Konten bertema asal-usul Betawi menjadi salah satu karya awal yang mendapat sambutan luas di media sosialnya. Saat itu, Rizky masih menggunakan pendekatan naratif dan belum melibatkan eksplorasi langsung ke lokasi. Proses eksplorasi ke lokasi sejarahbaru dilakukan setelahnya yang dimulai dari kawasan Jakarta Selatan dan sekitarnya.
Dalam pembuatan kontennya, Rizky berpendapat bahwa aspek naratif selalu dijadikan pusat. Storytelling dianggap lebih efektif dalam menarik perhatian audiens dibanding visual semata.
Rizky melakukan riset sebelum dan setelah mengunjungi lokasi untuk mempersiapkan naskah dan konten dengan matang. “Cerita-cerita lokal yang memiliki kaitan dengan isu masa kini bisa membangun keterikatan emosional penonton,” kata Rizky
Dalam proses kreatifnya, sudut pandang dan keterkaitan dengan isu kekinian selalu menjadi pertimbangan utama dalam konten-konten yang dibuat Rizky. Misalnya, narasi tentang banjir masa kini bisa ditautkan dengan keberadaan kanal zaman dahulu. Hal semacam ini dinilainya mampu menciptakan koneksi antara sejarahdan problem urban masa kini.
Kreativitas juga diarahkan berdasarkan karakter audiens dari tiap platform. Rizky berpendapat, Instagram dinilai memiliki demografi pengguna yang lebih dewasa dan menyukai tampilan visual yang rapi. Sementara TikTok lebih cair dan cepat menyebar apabila narasi yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari penonton.
Dalam rangkaian proses pembuatan konten, Rizky menilai pembuatan narasi sebagai proses yang paling memakan waktu. Dia harus menemukan sudut pandang yang informatif, sekaligus menyentuh nilai-nilai yang bisa dimaknai audiens.
Menanggapi stigma soal wisata sejarah yang dianggap membosankan, Rizky berpendapat sebetulnya konten sejarah memiliki pasarnya sendiri jika pendekatannya dibuat lebih segar. Disampaikan bahwa sejarah memang tidak bisa dinikmati semua orang, tapi bagi Rizky, jika seseorang sudah tertarik, maka minat tersebut akan bertahan kuat bahkan lintas usia.
“Di kalangan muda sendiri, ketertarikan pada sejarah mulai tumbuh kembali, terlihat dari tren-tren seperti museum date yang kini populer di kota-kota besar,” katanya.
Menurutnya, mungkin hampir semua tempat sejarah bisa terlihat membosankan bila tidak diketahui konteks dan ceritanya. Namun jika cerita di baliknya digali, maka tempat-tempat tersebut bisa menjadi sangat menarik dan penuh makna. Saat narasi yang kuat disandingkan dengan visual yang mendukung, konten yang disukai audiens bahkan bisa menjangkau jutaan penonton, kata Rizky.
Beberapa institusi, khususnya di Jakarta, disebut telah mulai merangkul kreator sejarah melalui kolaborasi. Dalam program-program tersebut, akomodasi dan akses difasilitasi oleh pihak museum atau dinas terkait. Meski begitu, di wilayah luar Jakarta, kolaborasi serupa masih sangat terbatas.
Baca juga: Kiat Sukses Teh Gina Kimbab Family Jadi Konten Kreator
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah sulitnya akses ke bangunan atau situs bersejarah yang dikuasai pihak swasta, militer, atau lembaga negara lain.
Rizky menilai diperlukan dukungan administratif dari pemerintah untuk mempermudah izin dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi kreator konten bertema sejarah. Ini juga bisa menjadi langkah aktif untuk mulai melibatkan kreator dalam program edukasi sejarah publik.
Jika dikemas dengan baik, bagi Rizky, konten sejarahbisa menjadi jembatan antara generasi muda dengan masa lalu bangsanya. Sejarah tidak harus selalu berat dan akademik, tetapi bisa hadir dalam bentuk narasi ringan bahkan dikemas dengan perjalanan menyenangkan.
Spot-spot bersejarah yang dulunya sepi pengunjung, kini ramai dijadikan latar foto Instagram, objek video TikTok, hingga bahan narasi Youtube. Transformasi ini didorong oleh hadirnya para kreator konten yang menggabungkan visual menarik dengan storytelling yang relevan bagi audiens masa kini.
Baca juga: 3 Kisah Inspiratif Kreator yang Menyulut Semangat Membaca di Era Digital
Salah satu kreator yang aktif mengangkat konten sejarahadalah Rizky Ramadhani. Dia mulai membuat konten sekitar 2 tahun yang lalu, tetapi baru fokus ke tema sejarah dalam setahun terakhir. Awalnya, Rizky mendapatkan audiens yang masih umum. Namun seiring waktu, minat pribadi terhadap sejarah dan respons positif dari audiens mendorong Rizky lebih fokus ke tema sejarah.
Konten bertema asal-usul Betawi menjadi salah satu karya awal yang mendapat sambutan luas di media sosialnya. Saat itu, Rizky masih menggunakan pendekatan naratif dan belum melibatkan eksplorasi langsung ke lokasi. Proses eksplorasi ke lokasi sejarahbaru dilakukan setelahnya yang dimulai dari kawasan Jakarta Selatan dan sekitarnya.
Dalam pembuatan kontennya, Rizky berpendapat bahwa aspek naratif selalu dijadikan pusat. Storytelling dianggap lebih efektif dalam menarik perhatian audiens dibanding visual semata.
Rizky melakukan riset sebelum dan setelah mengunjungi lokasi untuk mempersiapkan naskah dan konten dengan matang. “Cerita-cerita lokal yang memiliki kaitan dengan isu masa kini bisa membangun keterikatan emosional penonton,” kata Rizky
Dalam proses kreatifnya, sudut pandang dan keterkaitan dengan isu kekinian selalu menjadi pertimbangan utama dalam konten-konten yang dibuat Rizky. Misalnya, narasi tentang banjir masa kini bisa ditautkan dengan keberadaan kanal zaman dahulu. Hal semacam ini dinilainya mampu menciptakan koneksi antara sejarahdan problem urban masa kini.
Kreativitas juga diarahkan berdasarkan karakter audiens dari tiap platform. Rizky berpendapat, Instagram dinilai memiliki demografi pengguna yang lebih dewasa dan menyukai tampilan visual yang rapi. Sementara TikTok lebih cair dan cepat menyebar apabila narasi yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari penonton.
Dalam rangkaian proses pembuatan konten, Rizky menilai pembuatan narasi sebagai proses yang paling memakan waktu. Dia harus menemukan sudut pandang yang informatif, sekaligus menyentuh nilai-nilai yang bisa dimaknai audiens.
Wisata Sejarah Bisa Cerah
“Di kalangan muda sendiri, ketertarikan pada sejarah mulai tumbuh kembali, terlihat dari tren-tren seperti museum date yang kini populer di kota-kota besar,” katanya.
Menurutnya, mungkin hampir semua tempat sejarah bisa terlihat membosankan bila tidak diketahui konteks dan ceritanya. Namun jika cerita di baliknya digali, maka tempat-tempat tersebut bisa menjadi sangat menarik dan penuh makna. Saat narasi yang kuat disandingkan dengan visual yang mendukung, konten yang disukai audiens bahkan bisa menjangkau jutaan penonton, kata Rizky.
Beberapa institusi, khususnya di Jakarta, disebut telah mulai merangkul kreator sejarah melalui kolaborasi. Dalam program-program tersebut, akomodasi dan akses difasilitasi oleh pihak museum atau dinas terkait. Meski begitu, di wilayah luar Jakarta, kolaborasi serupa masih sangat terbatas.
Baca juga: Kiat Sukses Teh Gina Kimbab Family Jadi Konten Kreator
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah sulitnya akses ke bangunan atau situs bersejarah yang dikuasai pihak swasta, militer, atau lembaga negara lain.
Rizky menilai diperlukan dukungan administratif dari pemerintah untuk mempermudah izin dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi kreator konten bertema sejarah. Ini juga bisa menjadi langkah aktif untuk mulai melibatkan kreator dalam program edukasi sejarah publik.
Jika dikemas dengan baik, bagi Rizky, konten sejarahbisa menjadi jembatan antara generasi muda dengan masa lalu bangsanya. Sejarah tidak harus selalu berat dan akademik, tetapi bisa hadir dalam bentuk narasi ringan bahkan dikemas dengan perjalanan menyenangkan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.