Enggak Cuma Modal Kamera, Ini Berbagai Perlengkapan Fotografer Sport Dadakan
12 June 2025 |
17:00 WIB
Fotografer sport dadakan menjadi tren di tengah semaraknya event car free day (CFD) dan maraton di tengah-tengah kota. Kehadiran mereka cukup membantu masyarakat terutama para runners, untuk mengabadikan momen terbaiknya saat sedang berolahraga atau berada di race.
Layaknya fotografer profesional, persiapan fotografer sport dadakan ini terbilang matang. Tidak sekedar bersiaga sejak pukul 05.00 WIB dengan mencari spot terbaik, peralatan yang dibawa pun cukup mumpuni.
Baca juga: Pameran Prophecy: Visualisasi Emosi Mikael Aldo Lewat Fotografi
Layaknya fotografer profesional, persiapan fotografer sport dadakan ini terbilang matang. Tidak sekedar bersiaga sejak pukul 05.00 WIB dengan mencari spot terbaik, peralatan yang dibawa pun cukup mumpuni.
Baca juga: Pameran Prophecy: Visualisasi Emosi Mikael Aldo Lewat Fotografi
Kamera DSLR menjadi senjata utama, ditambah lensa yang bisa menangkap mimik wajah dengan detail. Djonet Sugiarto, salah satu fotografer sport dadakan mengatakan bahwa para runners biasanya menyukai hasil foto dengan latar blur. "Pelari suka foto yang bokeh. Jadi rata-rata pada pakai lensa dengan bukaan besar," ujarnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Saat memotret pelari di CFD maupun event maraton, Djonet mengandalkan lensa fix 85mm dan lensa tele dengan rentang fokus 70-200mm. Lensa tele dibutuhkan terutama saat maraton. Pasalnya, fotografer tidak bisa mendekat race dan akan sulit mendapatkan detail dengan lensa biasa.
Untuk kamera, Djonet menggunakan Canon R6 Mark II. Hasil kamera ini menurutnya menghasilkan skin tone yang menarik dipandang dan memiliki autofocus yang cepat. "Teknologi mirrorlessnya ngebantu banget autofocusnya jadi lebih cepat," imbuhnya.
Canon R6 Mark II dilengkapi dengan EOS iTR AF X (Intelligent Tracking & Recognition Autofocus), yang membuat kamera secara akurat mendeteksi dan melacak subjek saat pengguna fokus untuk mendapatkan komposisi terbaik. Kamera ini juga dapat melacak tubuh, kepala, atau mata manusia saat mereka bergerak, meskipun terhalang, dengan akurasi tinggi.
EOS R6 Mark II bahkan memberi opsi untuk memilih mata yang akan dilacak melalui Pelacakan Prioritas Mata Kiri/Kanan yang akan sangat membantu dalam menangkap objek bergerak secara close-up. Dilengkapi dengan 5-sumbu In-Body Image Stabilizer, kamera mirrorless ini memberikan stabilisasi gambar hingga 8 stop sehingga pengguna dapat membidik dengan menggenggam kamera bahkan dalam kondisi minim cahaya.
Kamera Canon ini memiliki fitur Blazing Fast. Pengguna dapat mengunci subjek dalam sekejap mata dengan kecepatan fokus otomatis 0,03 detik. Ditambah dengan kecepatan pemotretan beruntun hingga 40fps dalam rana elektronik dan hingga 12 fps dalam rana mekanis dengan pelacakan AF/AE, EOS R6 Mark II dapat menangkap gerakan berkecepatan tinggi dengan akurasi yang sangat tinggi.
Selain kamera dan lensa, untuk memotret momen CFD atau maraton, Djonet menyebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dibawa. Paling utama yakni menjaga etika.
Fotografer sport dadakan harus menyapa para runners untuk mendapat ekspresi terbaik mereka. Sapaan ini juga penting dalam menetapkan standar etika, agar mengetahui apakah pelari bersedia untuk difoto atau tidak.
Kemudian, pilih spot foto. Djonet biasanya mencari latar gedung tinggi yang biasa dilewati para runners. Dia juga memanfaatkan latar halte Transjakarta atau jembatan penyeberangan orang (JPO) yang saat ini tampil menarik.
Djonet menyarankan untuk mencari tempat teduh agar wajah runners nantinya tidak belang terkena sinar langsung matahari. Tripod juga dibutuhkan untuk menjaga hasil foto tidak goyang, ketika sudah lelah memegang kamera. Begitu pula dengan bangku kecil untuk bersandar saat menunggu pelari datang. Mengingat waktu memotret yang cukup lama, sekitar 3 jam, Djonet menyarankan membawa payung untuk mengantisipasi cuaca terik maupun hujan.
Lantas bagaimana dengan foto yang sudah dihasilkan? Djonet biasanya menaruh hasil foto jepretannya di aplikasi Fotoyu. Platform marketplace dokumentasi pribadi ini dilengkapi dengan teknologi privasi AI, yang mempertemukan fotografer (kreator) dengan user.
Fotoyu memiliki 2 teknologi utama yakni teknologi pengenalan wajah (face recognition) dan data lokasi. Adapun sistem robot pengenal wajah yang ada di aplikasi FotoYu disebut RoboYu.
Sistem ini meningkatkan akurasi dan privasi pengguna dalam mencari foto dokumentasi. Hanya user yang dapat mengendalikan RoboYu masing-masing untuk melihat foto dokumentasi yang ditangkap para fotografer.
Djonet menyebut kreator dapat menentukan harga foto yang diunggahnya. "Dikenakan potongan aplikasi 10 persen jika foto terjual," jelasnya.
Khoirunnisa, wanita yang kerap berolahraga lari di CFD dan beberapa kali ikut ajang maraton ini sangat terbantu dengan kehadiran para fotografer sport dadakan dan aplikasi Fotoyu. Sebagai pelari pemula, dia membutuhkan dokumentasi untuk diunggah di media sosial.
Menurutnya hasil jepretan para fotografer sport dadakan ini sangat bagus. Nisa pun selalu menyesuaikan dengan menampilkan ekspresi terbaik ketika melintas di depan mereka.
Kendati demikian, dia berharap agar foto yang dijual dalam aplikasi Fotoyu bisa lebih ramah kantong. “Standar jual di Fotoyu Rp75.000-Rp100.000. Itu biasanya background-nya bagus, ikonik. Saya selalu pulih di bawah Rp50.000,” tutur Nisa.
Baca juga: Cek Spesifikasi dan Harga Xiaomi 15 Series yang Bawa Kemampuan Fotografi Profesional
Baca juga: Cek Spesifikasi dan Harga Xiaomi 15 Series yang Bawa Kemampuan Fotografi Profesional
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.