Still foto film GJLS: Ibuku Ibu-ibu (Sumber gambar: Amadeus Sinemagna)

Review Film GJLS: Ibuku Ibu-Ibu, Menertawakan Kekacauan Ala Monty Tiwa

12 June 2025   |   17:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Sutradara Monty Tiwa menjadikan film GJLS Ibuku Ibu-Ibu menjadi taman bermain yang ajaib. Alih-alih sekadar lucu, film ini jadi ladang ekspresimen gila-gilaan yang membongkar batas antara film dengan aktingnya dan dunia nyata dengan realitasnya.

GJLS Ibuku Ibu-Ibu jelas tak hanya melanjutkan tren ‘film dari IP podcast’, tapi membawa warna baru yang lebih absurd dan liar. Film ini tahu betul bahwa kadang cara terbaik untuk memotret kekacauan hidup adalah dengan menertawakannya.

Fokus film ini akan berkutat pada Tyo (diperankan oleh Bucek Depp), seorang juragan kos-kosan yang baru saja kehilangan istrinya. Namun, alih-alih larut dalam kesedihan, film ini langsung membelokkan suasana ke ranah komedi satir.

Baca Juga: Sutradara Monty Tiwa Singkirkan Teori Film saat Menggarap GJLS: Ibuku Ibu-Ibu
 

Still foto film GJLS: Ibuku Ibu-ibu (Sumber gambar: Amadeus Sinemagna)

Still foto film GJLS: Ibuku Ibu-ibu (Sumber gambar: Amadeus Sinemagna)


Ketiga anaknya, Rigen (Rigen Rakelna), Hifdzi (Hifdzi Khoir), dan Rispo (Rispo Ananta), justru memanfaatkan situasi ini untuk membujuk sang ayah menjual usaha kos-kosannya demi menambal masalah pribadi mereka.

Rigen sedang dilanda pusing karena harus mengganti mobil bosnya yang hilang, Hifdzi ingin segera menikahi pacarnya yang hamil, dan Rispo terjebak utang dari judi online dan terus ditagih-tagih dept collector.

Namun, twist muncul. Alih-alih menjual kos karena tak ada lagi yang mengurus semenjak istrinya meninggal, Tyo justru memilih mencari istri baru. Dia akhirnya bertemu Feni (Nadya Arina), SPG muda penghuni kosan. Konflik cerita pun dimulai dari sini.

Sejak menit pertama, Monty Tiwa telah membangun world building film ini dengan cukup rapi. Dia memulai menit-menit awal dengan perkenalan karakter dan konflik utama yang berjalan dengan mulus. Penonton diberi ruang yang cukup terhadap dunia cerita yang coba dibangunnya.

Meski sudah khatam dalam meramu komedi, Monty di film ini tampak legawa mundur setengah langkah demi memberi panggung total pada gaya komedi trio GJLS. Hasilnya, film ini jadi seperti showcase kebebasan kreatif mereka.

Film ini dibangun dengan struktur naratif yang tidak konvensional. Alih-alih membangun ketegangan dramatik linear, film ini menjahit fragmen-fragmen komedi lepas yang disatukan oleh konflik utama. Rasanya seperti menonton sketsa komedi, tapi punya cerita yang utuh.

 

 

 

 

Still foto film GJLS: Ibuku Ibu-ibu (Sumber gambar: Amadeus Sinemagna)

Still foto film GJLS: Ibuku Ibu-ibu (Sumber gambar: Amadeus Sinemagna)

 


Di luar itu, trio GJLS yang berasal dari komika juga banyak menyuguhkan teknik ala-ala stand-up yang terasa kental, dari delivery hingga pacing. Setiap punchline disusun acak, tapi ajaibnya tetap sampai. Ini bisa jadi karena chemistry antarpemain yang sudah terasah di luar kamera.

Kemudian, improvisasi komedi jadi tumpuan utama di film ini. Dialog di film ini terasa tidak skriptif, bahkan dalam banyak bagian seperti improvisasi langsung di lokasi.

Teknik ini jadi sajian kejutan yang menarik, tidak hanya bagi penonton, tapi tampaknya juga bagi para pemain di dalamnya. Sebab, improvisasi tersebut tak hanya membuat penonton tertawa, tetapi juga pemain di adegan tersebut.

Seringnya Rispo yang melakukan improvisasi ajaib, bisa gerakan, bisa celetukan. Hal itu membuat Hifdzi dan Rigen tertawa. Nadya Arina dan Bucek juga beberapa kali tertangkap kamera tertawa. Semua itu ada di tengah film, layaknya blooper yang masuk ke inti cerita.

Di dalam film, memang ada teori Breaking the fourth wall (mendobrak tembok keempat). Teknik ini terjadi saat karakter mengakui keberadaan penonton atau berbicara langsung ke kamera. 

Hal ini dapat menciptakan efek komedi, humor, atau bahkan kedalaman cerita dengan menjalin hubungan langsung antara karakter dan penonton. Namun, di film ini, lebih dari itu, Monty sendiri menyebutnya sebagai breaking the fifth wall saking absurdnya yang terjadi di layar.

Seolah, penonton diajak untuk melihat film bukan sebagai film, melainkan dunia nyata yang direkam. Meski banyak lucunya, film ini juga memang diam-diam memotret realitas getir dari apa yang terjadi sekarang.

Ketika banyak pejabat sibuk berbicara ndakik-ndakik soal generasi muda, terutama untuk menyongsong 2045, film ini justru memperlihatkan realitas yang lain.

Yakni, ada juga loh generasi muda yang mungkin terjebak oleh pinjaman online, judi online, generasi sandwich, hingga stigma meski dia menjalani pekerjaan yang halal. Belum lagi soal isu perebutan tanah dan manipulasi atas hal tersebut.

GJLS Ibuku Ibu-Ibu seperti tengah memberi nasehat bahwa sebelum berbicara yang tinggi tentang masa depan, alangkah penting juga untuk memperhatikan dan menyelesaikan masalah masa kini. Kemudian, gaya penyutradaraan Monty yang menabrak-nabrak kaidah sinema, termasuk meletakkan blooper di tengah adegan, barang kali juga jadi pesan penting bahwa segala sesuatu yang tidak semestinya dan dipaksakan dengan ditabrak-tabrak, hanya akan ditertawakan.
 

Still foto film GJLS: Ibuku Ibu-ibu (Sumber gambar: Amadeus Sinemagna)

Still foto film GJLS: Ibuku Ibu-ibu (Sumber gambar: Amadeus Sinemagna)


Meski komedinya sangat khas GJLS, film ini tidak menuntut penonton untuk mengenal mereka terlebih dahulu, bahkan mereka yang awam terhadap podcast-nya tetap bisa menikmati sajian konyol ini.

Daya tarik film tak semata karena fanbase, tapi karena kualitas humornya yang egaliter dan cair. Meski begitu, masih terdapat beberapa lelucon yang mungkin terasa kurang nyaman bagi sebagian penonton, termasuk yang bernuansa seksis.

Di luar itu, di tengah film-film yang mencoba berfokus pada formula agar bisa mengekor jadi box office, GJLS: Ibuku Ibu-Ibu mengingatkan kita bahwa kegilaan juga bisa jadi bentuk kejujuran sinematik yang juga layak punya tempat dan dirayakan bersama.

Terakhir, saat film produksi Amadeus Sinemagna yang bekerja sama dengan Legacy Pictures ini selesai, jangan buru-buru untuk keluar. Sebab, gelak tawa masih akan terjadi bahkan hingga credit tittle muncul.

Baca Juga: GJLS: Ibuku Ibu-ibu, Film Komedi Absurd Keluarga yang Siap Tayang 12 Juni 2025
 

SEBELUMNYA

Enggak Cuma Modal Kamera, Ini Berbagai Perlengkapan Fotografer Sport Dadakan

BERIKUTNYA

Cerita Marissa Anita Jadi Perempuan Sosialita di Film Netflix A Normal Woman

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga