Cara Menjaga Skin Microbiome Menurut Dermatolog untuk Perlindungan Kulit Maksimal
12 June 2025 |
16:30 WIB
Dalam beberapa tahun terakhir, skin barrier menjadi salah satu topik hangat di dunia kecantikan karena berperan sangat penting sebagai pelindung utama kulit. Rupanya, fungsi skin barrier sangat dipengaruhi oleh keseimbangan skin microbiome, kumpulan mikroorganisme yang secara alami hidup di permukaan kulit.
Dermatolog Dokter Anesia Tania mengatakan ibarat sebuah kastil, skin barrier adalah benteng yang melindungi kulit dari gangguan, sementara skin microbiome adalah prajurit yang melindungi benteng tersebut supaya tetap kuat.
Baca juga: Mengenal Skin Microbiome, Kunci Kulit Cantik dan Sehat dari Dalam
Baca juga: Mengenal Skin Microbiome, Kunci Kulit Cantik dan Sehat dari Dalam
Dia menjelaskan ekosistem skin microbiome yang terganggu akan berdampak langsung terasa pada menurunnya fungsi skin barrier, dimana kulit jadi lebih sensitif, mudah terpapar agresor lingkungan, serta rentan mengalami kondisi seperti kulit kering, kusam, jerawat, eksim, hingga iritasi.
Sebaliknya, skin microbiome yang seimbang dapat memperkuat skin barrier sehingga mempercepat regenerasi kulit, menghasilkan asam laktat atau lactic acid yang bermanfaat untuk menjaga keseimbangan ekosistem kulit, hingga membantu menjaga keseimbangan pH kulit.
"Untuk itu, menjaga keseimbangan skin microbiome menjadi kunci penting dalam merawat kesehatan kulit secara menyeluruh. Salah satunya menggunakan produk skincare dengan kandungan prebiotik yang berfungsi sebagai ‘makanan’ bagi mikroba baik sekaligus pengontrol pertumbuhan mikroba jahat," katanya dalam acara diskusi BeautyFest Asia 2025 di Mal Kota Kasablanka, baru-baru ini.
Perawatan Kulit untuk Menjaga Skin Microbiome
Perawatan Kulit untuk Menjaga Skin Microbiome
Membuat kumpulan mikroorganisme baik yang hidup di permukaannya bahagia dan berkembang biak dengan pesat bisa dilakukan dengan menjaga kondisi kulit wajah tetap terhidrasi, lembab, dan sehat. Penting untuk menjaga kondisi kulit wajah dengan melakukan rutinitas perawatan kulit wajah pada pagi dan malam hari, dengan menggunakan produk-produk yang sesuai dengan jenis kulit
Anes mengatakan untuk menjaga skin microbiome, bisa dimulai dengan perawatan dasar yakni cleansing. Saat cleansing seperti mencuci muka, disarankan untuk menggunakan produk yang gentle sehingga tidak membuat kulit terasa keset atau seperti ketarik.
"Karena keset itu sebenarnya berarti lapisan lipid kulit kita udah keganggu. Oromatis skin mikrobiumnya juga pasti keganggu," ucapnya.
Setelah cleansing, lakukan perawatan moisturizing yang bertujuan untuk melembabkan kulit. Anes mengatakan kulit rentan kering sekalipun tipenya berminyak karena beberapa faktor seperti terpapar panas matahari, berada di ruangan AC dalam waktu yang lama, atau kondisi cuaca panas ekstrem.
Semua faktor tersebut pada akhirnya dapat merusak skin barrier, sehingga dibutuhkan produk pelembab kulit. Adapun, perawatan yang tak kalah penting ialah menggunakan sunscreen untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari.
"Kita cari moisturizer yang memang menunjang skin barrier. Karena ada pelembab yang kalau kita pakai, lembab sih, tapi setengah jam kemudian udah enggak berasa lembab. Atau enggak ada efek jangka panjangnya, enggak ada efek repair-nya. Cari pelembab dengan zat-zat yang memang fungsinya tuh mengganti fungsi-fungsi sel kulit," jelasnya.
Fungsi Skin Microbiome
Melansir dari La Roche Posay, microbiome adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komunitas mikroorganisme berupa jamur, bakteri, dan virus yang hidup di dalam dan di permukaan tubuh manusia salah satunya kulit.
Pada kulit, microbiome menjadi bagian dari lapisan penghalang kulit yang melindungi kulit dari agresor lingkungan seperti sinar UV, polusi dan sebagainya. Berikut adalah beberapa fungsi dari skin microbiome.
1. Melawan infeksi
Beberapa jenis mikroorganisme di permukaan kulit dapat berfungsi sebagai antibiotik alami. Selain itu, mereka juga membantu menjaga kadar pH kulit tetap asam, kondisi yang tidak disukai oleh kuman penyebab infeksi.
2. Membantu fungsi sistem imunitas tubuh
Sebagai bagian dari lapisan terdepan, mikroorganisme di kulit akan memberi peringatan kepada sistem imunitas tubuh jika ada bakteri dan kuman berbahaya yang menyerang dari lingkungan. Walau prosesnya masih belum diketahui, tapi ekosistem mikrobiom di kulit juga berperan dalam cara sel-sel kulit merespon paparan sinar UV dari lingkungan agar tidak terjadi kerusakan.
3. Membantu penyembuhan luka & mengontrol peradangan di kulit
Fungsi ini masih berkaitan dengan kemampuan mikroorganisme dari mikrobiom untuk memberi sinyal ke sistem imunitas tubuh, sehingga masalah-masalah ini bisa langsung dikontrol dan diatasi agar tidak memburuk.
4. Membantu melindungi kulit yang sensitif
Kemampuan mikroorganisme untuk membantu mengontrol peradangan di kulit ini sangat bermanfaat bagi kulit yang sensitif. Ini membuat orang-orang yang memiliki kulit sensitif mempertimbangkan untuk menjaga lingkungan mikrobioma di kulit agar spesies mikroorganisme bisa semakin beragam dan jumlahnya bertambah.
Faktor Perusak Skin Microbiome
Pengaruh kehidupan modern membuat lingkungan mikrobiom di kulit terganggu dan keragaman mikroorganisme yang terdapat di permukaan kulit menjadi berkurang. Terganggunya mikrobiom sering dikaitkan dengan rusaknya lapisan penghalang dan fungsinya tidak optimal. Ini membuat kulit menjadi kering dan tanda-tanda penuaan bermunculan.
Berikut adalah beberapa hal yang berpotensi mempengaruhi eksosistem mikrobiom di kulit.
- Produksi minyak yang berlebih di kulit, misalnya akibat perubahan hormon pada masa remaja.
- Paparan sinar UV, terutama UVB yang dapat membunuh bakteri.
- Konsumsi alkohol berlebihan karena dapat melemahkan mikroorganisme.
- Pola makan yang tidak sehat sehingga tubuh kurang asupan nutrisi yang penting bagi mikroorganisme di ekosistem mikrobiom.
- Cara merawat kulit wajah yang tidak tepat, misalnya mencuci wajah terlalu sering.
- Penggunaan produk perawatan kulit yang tidak sesuai jenis kulit.
- Konsumsi obat-obatan.
Saat ekosistem mikrobiom di kulit terganggu dan mengalami disbiosis, maka berbagai masalah kulit dapat muncul. Masalah utama adalah terganggunya fungsi lapisan penghalang kulit, membuat kulit menjadi lebih sensitif dan agresor dari lingkungan dapat menyerang kulit dengan mudah.
Masalah-masalah kulit lainnya yang sering dikaitkan dengan terganggunya kondisi ekosistem mikrobiom adalah infeksi dan peradangan di kulit seperti jerawat, eksim, dermatitis seboroik, psoriasis, dan rosacea.
Baca juga: Tren Skincare Telur Ceplok, Metode Perawatan Kulit yang Playful dengan Face Oil
Baca juga: Tren Skincare Telur Ceplok, Metode Perawatan Kulit yang Playful dengan Face Oil
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.