Sajian kopi (Sumber: Hypeabis.id/Rachman)

Bisnis Kafe Tak Lagi Sama, Gen Z Ngopi dengan Cara Berbeda

08 June 2025   |   20:00 WIB
Image
Dika Irawan Asisten Konten Manajer Hypeabis.id

Minum kopi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia. Dari pegawai kantoran hingga mahasiswa, kopi menjadi teman setia dalam berbagai aktivitas. Namun, di tengah menjamurnya kedai kopi dan booming tren ngopi di media sosial, pola konsumsi kopi generasi Z ternyata tidak seklise yang dibayangkan.

Sebuah survei terbaru dari Jakpat yang melibatkan 1.155 responden Gen Z menunjukkan, hanya 16 persen dari mereka yang mengonsumsi kopi lebih dari sekali sehari. Sebaliknya, 31 persen hanya minum kopi satu hingga dua kali seminggu, dan 22 persen justru tidak minum kopi sama sekali. Ini menjadi sinyal bahwa, bagi Gen Z, kopi bukan rutinitas wajib, melainkan pilihan gaya hidup yang dinikmati sesuai kebutuhan dan suasana hati.

Baca juga: Deretan Kafe Viral di Kawasan Blok M, Referensi Nongkrong Kalcer

Temuan ini konsisten dengan laporan GoodStats tahun 2023 yang menyebutkan bahwa konsumsi kopi harian Gen Z justru lebih rendah dibandingkan milenial dan Gen X. Hanya 10 persen Gen Z yang rutin minum dua hingga tiga cangkir kopi per hari. Angka ini kalah jauh dari milenial sebesar 22 persen dan Gen X sebesar 37 persen.

Dalam memilih jenis kopi, efisiensi menjadi kunci. Sebanyak 57 persen Gen Z lebih memilih kopi instan beraroma, disusul kopi instan murni sebanyak 38 persen. Hanya 35 persen yang rutin membeli kopi dari kafe, dan 20 persen masih setia dengan kopi keliling atau "Starling". Bagi mereka, kafe bukan tempat ngopi harian, tetapi lebih sebagai destinasi sesekali untuk menikmati suasana.

Yang menarik, waktu favorit Gen Z untuk ngopi pun bergeser. Jika generasi sebelumnya lebih suka kopi pagi hari, kini 33 persen Gen Z justru memilih menikmati kopi antara pukul 18.00 hingga 21.00. Malam hari menjadi momen ngopi baru, entah untuk menemani kerja lembur, menikmati hiburan digital, atau sekadar bersantai. Kebiasaan ngopi pagi tetap bertahan, dengan 26 persen memilih waktu antara pukul 06.00 hingga 09.00.

Dari sisi pengeluaran, Gen Z juga terbilang realistis. Sekitar 48 persen hanya rela mengeluarkan kurang dari Rp10.000 untuk secangkir kopi. Sementara itu, 30 persen nyaman dengan harga Rp10.000 hingga Rp25.000, dan hanya 5 persen yang bersedia membayar lebih dari Rp50.000. Ini menegaskan bahwa meskipun kopi tetap menjadi bagian dari gaya hidup, mereka tidak segan memilih opsi hemat.

Tantangan Bisnis Kafe

Bagi pelaku bisnis kafe, pola konsumsi ini layak jadi perhatian. Kafe dengan harga tinggi dan konsep estetika semata bisa kehilangan pasar jika tidak mampu menawarkan nilai lebih. Dengan hampir 80 persen Gen Z hanya bersedia membayar di bawah Rp25.000, penting bagi pemilik usaha untuk menyediakan alternatif kopi yang lebih terjangkau. Misalnya, kopi botolan, paket hemat, hingga program membership.

Selain harga, waktu operasional juga perlu disesuaikan. Jika mayoritas Gen Z memilih ngopi malam, maka membuka kafe hingga malam hari, menghadirkan promo happy hour, atau menciptakan ambience santai di malam hari bisa menjadi strategi jitu.

Namun, bukan berarti Gen Z tidak menyukai kafe. Mereka tetap datang, tapi lebih untuk pengalaman. Maka, nilai tambah seperti live music, workshop kreatif, atau ruang kerja nyaman menjadi pembeda. Kafe yang hanya menawarkan kopi tanpa pengalaman pendukung berisiko ditinggalkan.

Peluang lain datang dari preferensi Gen Z terhadap kopi instan dan siap minum. Artinya, ekspansi ke produk grab-and-go atau varian kopi instan premium bisa menjadi diversifikasi bisnis yang relevan. Kopi tidak harus disajikan di tempat, cukup dikemas dan dijual untuk dinikmati di rumah atau saat bepergian.

Di era digital, Gen Z juga mengandalkan media sosial dalam mencari referensi. Konten kreatif, ulasan pelanggan, dan kolaborasi dengan influencer dapat memperkuat daya tarik brand kafe di mata mereka.

Kopi bagi Gen Z bukan soal gaya hidup semata, tapi refleksi dari nilai yang mereka pegang. Efisiensi, fleksibilitas, dan pengalaman. Mereka tahu kapan layak membeli kopi mahal, dan kapan cukup dengan kopi saset. Bagi pelaku usaha, memahami dinamika ini menjadi kunci agar tidak tertinggal dalam persaingan.

Bisnis kopi kini tidak lagi soal rasa, tapi bagaimana menyajikan rasa itu dalam kemasan, harga, dan momen yang pas. Karena bagi Gen Z, kopi bukan sekadar minuman, tapi bagian dari hidup yang harus relevan dan terasa personal.

Baca juga: 5 Rekomendasi Kafe di Jakarta yang Cocok untuk WFC

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

SEBELUMNYA

Slim Toast, Pilihan Sarapan Sehat yang Makin Diminati Generasi Muda

BERIKUTNYA

Sinopsis dan Fakta Menarik Film Tak Ingin Usai di Sini, Tayang 5 Juni di Bioskop

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga