Salah satu candi di KCBN Muaro Jambi. (Sumber gambar: Instagram Candi Muara Jambi)

Membangkitkan Potensi Wisata dari Pemugaran Situs Buddha Tertua di Asia Tenggara

04 June 2025   |   10:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Peradaban agama Buddha di Nusantara begitu kental dengan peninggalan situs-situs sejarah seperti candi. Bangunan suci yang biasa digunakan sebagai tempat keagamaan ini tidak hanya tersebar di Pulau Jawa saja, namun juga wilayah Sumatra.

Sejauh ini, Borobudur menjadi candi Buddha yang terbesar di dunia dan populer bagi para pelancong, terutama para penganut agama yang diajarkan Siddharta Gautama itu. Akan tetapi, jika beranjak ke tepi Sungai Batanghari di Provinsi Jambi, di sana terdapat kawasan cagar budaya yang diyakini menjadi pusat pendidikan Buddhisme tertua dan terluas di Asia Tenggara pada masanya.

Baca juga: Trowulan, Laboratorium Majapahit yang Menanti Pengakuan Dunia

“Posisi Muaro Jambi ini penting di dalam titik-titik jaringan peradaban Buddha,” ujar Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah V, Agus Widiatmoko, saat berbincang dengan Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.

Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi yang dibangun sekitar abad ke-7 hingga ke-12 Masehi, diketahui memiliki letak strategis sebagai tempat penyebaran agama Buddha di Nusantara melalui jalur perdagangan. Kala itu, Muaro Jambi menjadi jantungnya perdagangan melalui pelayaran di Selat Malaka.

Kapal pedangan China yang ingin ke India maupun sebaliknya, pasti singgah di Nusantara, tepatnya di pantai timur Sumatra. Kapal-kapal tersebut juga kerap ditumpangi para biku yang ingin menyebarkan agama Buddha, baik dari China maupun India. 

Memang, KCBN Muaro Jambi tidak begitu tersohor seperti Borobudur maupun candi peninggalan Buddha lainnya di Pulau Jawa. Menurut Agus, hal ini terjadi lantaran kawasan kompleks percandian Muaro Jambi sebelumnya kurang mendapat perhatian dan publikasi, bahkan sejak era pemerintahan di tangan Belanda.

Pada 1990-an, barulah pemerintah memperhatikan kawasan ini. Kawasan percandian Muaro Jambi pun ditetapkan sebagai warisan budaya nasional melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 259/M/2013 dan dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia sejak 2009. 

Untuk mendapat pengakuan UNESCO, pada 2022 program revitalisasi KCBN Muaro Jambi pun dimulai, meliputi pemugaran, perencanaan pemugaran, normalisasi parit keliling, dan penataan lingkungan. Dalam kompleks percandian ini, sembilan bangunan telah dipugar dan menampilkan corak ajaran Buddha, antara lain adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Terbaru, kawasan ini juga dilakukan Pembangunan Museum, Pemugaran Candi Kotomahligai dan Candi Paritduku, Perencanaan Pemugaran Candi Sialang dan Candi Alun-Alun, dan Penataan Lingkungan Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong, dan Candi Astano, serta normalisasi parit dan kolam.

Agus menerangkan konsep revitalisasi adalah mengangkat kembali nilai penting dari jejak-jejak sejarah situs Muaro Jambi yang menjadi bagian dari peradaban dunia. Bangunan-bangunan yang sebelumnya runtuh bahkan tertutup lebatnya hutan, kini ditemukan dan dilakukan pemugaran.

Dalam proses penggalian, para arkeolog katanya tidak sekadar menemukan bangunan, namun juga prasasti, arca, perkakas rumah tangga dan artefak keramik lainnya dari beberapa dinasti asal China yang berkuasa pada masanya,

Guna memajang temuan para arkeologi, memberikan narasi, dan menunjukkan tradisi-tradisi yang ada di kawasan ini, pemerintah pun memutuskan untuk membangun museum di kawasan Muaro Jambi. “Karena di balik tradisi-tradisi ini juga menyimpan memori kolektif tentang kejadian-kejadian masa lalu,” jelas Agus.

Pemerintah juga berupaya melakukan penataan lingkungan untuk melindungi situs-situs bersejarah yang ada di sana agar tidak terdesak oleh pemukiman, perkebunan sawit, hingga aktivitas pertambangan batubara. Tepatnya di Candi Teluk 1 yang di sekitarnya menjadi tempat penampungan batu bara.

Agus menyebut pemerintah berupaya melakukan konservasi di kawasan tersebut secara bertahap. Upaya pembebasan lahan dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis di sekitar candi. Namun, semua butuh proses karena menyangkut kebijakan lintas sektoral. “Masih banyak PR yang harus kita kerjakan karena penetapan kawasan 3981 hektare ini tentu butuh waktu, tenaga, pikiran,” tegasnya.

Kondisi perekonomian juga menjadi pertimbangan dalam upaya revitalisasi dan konservasi. Setidaknya, pihaknya menargetkan 4 situs yang bisa direvitalisasi atau konservasi setiap tahunnya.


Kolaborasi dengan Masyarakat

Dalam menjaga kompleks cagar budaya ini, komunitas dan masyarakat setempat juga sangat membantu. Paguyuban dari 8 desa di sekitarnya sudah terbentuk untuk bersama-sama melakukan pelestarian, mulai dari perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. 

Masyarakat sekitar menurut Agus memiliki kesadaran dan kepedulian yang sangat tinggi terhadap situs Muaro Jambi setelah diberi edukasi dan pelatihan. Bahkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) bangkit seiring tumbuhnya aktivitas pariwisata dan penelitian di sana.

Ibu-ibu sekitar menawarkan menu gastronomi berbasis pangan lokal. Ada pula yang menawarkan kerajinan dengan memanfaatkan sumber daya alam, penginapan rumah warga, hingga ekowisata seperti jelajah kanal dengan perahu kuno. 

Kolaborasi pengelola dan masyarakat berbuah manis untuk menghadirkan wisata lestari minim pencemaran untuk menjaga warisan budaya. “Ujung tombak itu sebenarnya ada di masyarakat sekitarnya. Mereka sudah siap betul membangkitkan pariwisata,” tutur Agus.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Kipas Leher JisuLife Meluncur di Indonesia, Bisa Dipake Buat Ngonser & Olahraga

BERIKUTNYA

Dukung Wisata Lokal, Pemerintah Gelontorkan Stimulus Liburan Rp1,59 T

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga