Maria Grazia Chiuri Mundur Sebagai Direktur Kreatif Dior, Cek Profil dan Rekam Jejaknya
31 May 2025 |
20:58 WIB
Maria Grazia Chiuri secara resmi mengundurkan diri dari posisinya sebagai Direktur Kreatif Dior setelah menjabat selama sembilan tahun sejak 2016. Dia mencatat sejarah sebagai wanita pertama yang memimpin koleksi haute couture, ready-to-wear, dan aksesori wanita di rumah mode asal Prancis tersebut.
"Setelah sembilan tahun, saya meninggalkan Dior dengan rasa bahagia karena telah diberi kesempatan luar biasa ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Monsieur Arnault (CEO LVMH) atas kepercayaannya kepada saya, dan kepada Delphine (CEO Dior) atas dukungannya," tulis Chiuri dalam unggahannya di Instagram.
Baca juga: Pierpaolo Piccioli Ditunjuk Jadi Direktur Kreatif Balenciaga, Gantikan Demna Gvasalia
Lebih lanjut, dia juga mengucap terima kasih atas kerja keras tim dan para perajin di atelier. Bakat dan keahlian mereka mendukungnya dalam mewujudkan visi membangun mode wanita yang penuh komitmen, dalam dialog yang erat dengan berbagai generasi seniman wanita.
"Bersama-sama, kami telah menulis sebuah babak yang luar biasa dan penuh makna yang sangat saya banggakan," katanya.
Mengutip Vogue, selama masa kepemimpinannya, Chiuri dikenal karena pendekatan feminis yang kuat dalam desainnya. Debut koleksinya pada musim semi/panas 2017 menampilkan kaus dengan slogan We Should All Be Feminists, yang menjadi simbol dari visinya.
Dia juga berkolaborasi dengan berbagai seniman perempuan dan menghidupkan kembali item ikonik seperti Saddle Bag yang pertama kali dirancang oleh John Galliano pada 2000. Dalam koleksi musim gugur/dingin 2018-2019, dia memperkenalkan kembali tas tersebut dengan sentuhan modern, termasuk variasi monokrom, rumbai, dan patchwork.
Di bawah arahannya, Dior mengalami pertumbuhan signifikan, dengan penjualan couture meningkat dari €2,2 miliar pada 2017 menjadi puncaknya €9,5 miliar pada 2023. Namun, pada 2024, terjadi penurunan menjadi €8,7 miliar seiring dengan melambatnya pasar.
Chiuri menutup masa jabatannya sebagai Direktur Kreatif Dior dengan menampilkan koleksi terakhirnya, Resort 2026 dalam sebuah pertunjukan malam yang memukau di Villa Albani Torlonia, Roma, pada 27 Mei 2025.
Gaun renda transparan, mantel panjang berpotongan tegas, serta jaket militer dan trench coat berwarna merah dan hitam velvet menjadi sorotan utama. Inspirasi dari sinema dan teater Italia terlihat jelas dalam nuansa desain yang megah dan dramatis.
Pemilihan Roma sebagai lokasi pertunjukan bukan hanya karena kota ini adalah tempat kelahiran Chiuri, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap hubungan budaya yang kuat antara Italia dan rumah mode Dior. Chiuri telah lama menjadikan Roma sebagai sumber inspirasi, dan pertunjukan ini menjadi bentuk penghargaan atas akar budayanya.
Sampai saat ini, Dior belum mengumumkan pengganti resmi untuk posisi tersebut. Namun, terdapat spekulasi bahwa Jonathan Anderson, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur kreatif Loewe dan telah ditunjuk sebagai direktur artistik Dior Men pada April 2025, mungkin akan mengambil alih peran tersebut.
Sebagai Direktur Kreatif Dior, Chiuri pernah menambahkan wastra Indonesia ke dalam koleksi-koleksinya. Salah satu karya paling populer adalah penggunaan kain Endek Bali dalam koleksi musim semi/panas 2021 yang ditampilkan pada Paris Fashion Week 2020. Dia memilih kain Endek karena ingin mengangkat nilai budaya serta keahlian para penenun perempuan di Bali.
Selain itu, Chiuri juga memasukkan kain tenun ikat Indonesia dalam koleksi yang sama. Koleksi tersebut menampilkan busana dengan siluet longgar dan garis-garis halus, mencerminkan gaya hidup baru yang lebih intim selama pandemi COVID-19.
Chiuri menyatakan, dalam wawancaranya dengan W Magazine bahwa kolaborasi dengan pengrajin di Indonesia bertujuan untuk merayakan teknik ikat dan chiné, yang merupakan bagian dari warisan Dior.
Adapun Ikat adalah teknik pewarnaan yang berasal dari Indonesia dan telah digunakan selama lebih dari 5.000 tahun. Dalam proses ini, benang-benang diikat pada bagian-bagian tertentu untuk mencegah penyerapan pewarna, kemudian dicelupkan ke dalam pewarna.
Baca juga: Donatella Versace Mundur dari Posisi Direktur Kreatif Versace
Setelah proses pewarnaan selesai, benang-benang tersebut ditenun menjadi kain dengan pola yang telah direncanakan. Teknik ini menghasilkan motif dengan tepi yang sedikit kabur, memberikan efek visual yang khas.
Sementara Chiné adalah teknik tekstil yang berasal dari Prancis pada abad ke-18. Dalam metode ini, benang lungsin dicetak atau diwarnai dengan pola sebelum proses penenunan. Setelah ditenun hasilnya adalah kain dengan motif yang tampak kabur atau samar, memberikan efek visual yang lembut dan elegan.
"Setelah sembilan tahun, saya meninggalkan Dior dengan rasa bahagia karena telah diberi kesempatan luar biasa ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Monsieur Arnault (CEO LVMH) atas kepercayaannya kepada saya, dan kepada Delphine (CEO Dior) atas dukungannya," tulis Chiuri dalam unggahannya di Instagram.
Baca juga: Pierpaolo Piccioli Ditunjuk Jadi Direktur Kreatif Balenciaga, Gantikan Demna Gvasalia
Lebih lanjut, dia juga mengucap terima kasih atas kerja keras tim dan para perajin di atelier. Bakat dan keahlian mereka mendukungnya dalam mewujudkan visi membangun mode wanita yang penuh komitmen, dalam dialog yang erat dengan berbagai generasi seniman wanita.
"Bersama-sama, kami telah menulis sebuah babak yang luar biasa dan penuh makna yang sangat saya banggakan," katanya.
Mengutip Vogue, selama masa kepemimpinannya, Chiuri dikenal karena pendekatan feminis yang kuat dalam desainnya. Debut koleksinya pada musim semi/panas 2017 menampilkan kaus dengan slogan We Should All Be Feminists, yang menjadi simbol dari visinya.
Dia juga berkolaborasi dengan berbagai seniman perempuan dan menghidupkan kembali item ikonik seperti Saddle Bag yang pertama kali dirancang oleh John Galliano pada 2000. Dalam koleksi musim gugur/dingin 2018-2019, dia memperkenalkan kembali tas tersebut dengan sentuhan modern, termasuk variasi monokrom, rumbai, dan patchwork.
Di bawah arahannya, Dior mengalami pertumbuhan signifikan, dengan penjualan couture meningkat dari €2,2 miliar pada 2017 menjadi puncaknya €9,5 miliar pada 2023. Namun, pada 2024, terjadi penurunan menjadi €8,7 miliar seiring dengan melambatnya pasar.
Chiuri menutup masa jabatannya sebagai Direktur Kreatif Dior dengan menampilkan koleksi terakhirnya, Resort 2026 dalam sebuah pertunjukan malam yang memukau di Villa Albani Torlonia, Roma, pada 27 Mei 2025.
Gaun renda transparan, mantel panjang berpotongan tegas, serta jaket militer dan trench coat berwarna merah dan hitam velvet menjadi sorotan utama. Inspirasi dari sinema dan teater Italia terlihat jelas dalam nuansa desain yang megah dan dramatis.
Pemilihan Roma sebagai lokasi pertunjukan bukan hanya karena kota ini adalah tempat kelahiran Chiuri, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap hubungan budaya yang kuat antara Italia dan rumah mode Dior. Chiuri telah lama menjadikan Roma sebagai sumber inspirasi, dan pertunjukan ini menjadi bentuk penghargaan atas akar budayanya.
Sampai saat ini, Dior belum mengumumkan pengganti resmi untuk posisi tersebut. Namun, terdapat spekulasi bahwa Jonathan Anderson, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur kreatif Loewe dan telah ditunjuk sebagai direktur artistik Dior Men pada April 2025, mungkin akan mengambil alih peran tersebut.
Maria Grazia Chiuri dan Wastra Nusantara dalam Koleksi Dior
Sebagai Direktur Kreatif Dior, Chiuri pernah menambahkan wastra Indonesia ke dalam koleksi-koleksinya. Salah satu karya paling populer adalah penggunaan kain Endek Bali dalam koleksi musim semi/panas 2021 yang ditampilkan pada Paris Fashion Week 2020. Dia memilih kain Endek karena ingin mengangkat nilai budaya serta keahlian para penenun perempuan di Bali. Selain itu, Chiuri juga memasukkan kain tenun ikat Indonesia dalam koleksi yang sama. Koleksi tersebut menampilkan busana dengan siluet longgar dan garis-garis halus, mencerminkan gaya hidup baru yang lebih intim selama pandemi COVID-19.
Chiuri menyatakan, dalam wawancaranya dengan W Magazine bahwa kolaborasi dengan pengrajin di Indonesia bertujuan untuk merayakan teknik ikat dan chiné, yang merupakan bagian dari warisan Dior.
Adapun Ikat adalah teknik pewarnaan yang berasal dari Indonesia dan telah digunakan selama lebih dari 5.000 tahun. Dalam proses ini, benang-benang diikat pada bagian-bagian tertentu untuk mencegah penyerapan pewarna, kemudian dicelupkan ke dalam pewarna.
Baca juga: Donatella Versace Mundur dari Posisi Direktur Kreatif Versace
Setelah proses pewarnaan selesai, benang-benang tersebut ditenun menjadi kain dengan pola yang telah direncanakan. Teknik ini menghasilkan motif dengan tepi yang sedikit kabur, memberikan efek visual yang khas.
Sementara Chiné adalah teknik tekstil yang berasal dari Prancis pada abad ke-18. Dalam metode ini, benang lungsin dicetak atau diwarnai dengan pola sebelum proses penenunan. Setelah ditenun hasilnya adalah kain dengan motif yang tampak kabur atau samar, memberikan efek visual yang lembut dan elegan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.