Opening Indonesia Fashion Week (IFW) 2025, Wamendag Serukan Gerakan Kamis Pakai Lokal
28 May 2025 |
13:54 WIB
Pekan mode Indonesia Fashion Week (IFW) 2025, hari pertama berlangsung pada 28 Mei 2025 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan. Acara dibuka oleh Teater Abang None Jakarta yang menampilkan tarian diiringi musik Betawi, Gambang Kromong, lalu penampilan Difki Khalif yang membawakan lagu Si Paling.
Mengusung tema Ronakultura yang merupakan gabungan dari kata Ronak (semarak) dan Kultura (budaya). Tema ini menggambarkan semangat Jakarta sebagai kota dinamis, terus bergerak, dan penuh warna sebagai tempat budaya tradisional dan gaya hidup kontemporer saling bersilangan.
"Tahun ini menandai penyelenggaraan ke-12 IFW sebagai perhelatan fesyen terbesar di Indonesia yang menampilkan lebih dari 200 desainer dan tenants," ujar Poppy Dharsono, Ketua Umum APPMI dan Presiden Indonesia Fashion Week, dalam pembukaan IFW 2025.
Baca juga: Indonesia Fashion Week (IFW) 2025 Angkat Tema Ronakultura Jakarta
Acara akan berlangsung selama lima hari ke depan, mulai 28 Mei sampai 1 Juni 2025. Selain menampilkan ragam koleksi busana dari para desainer di ajang fesyen show, acara ini juga mencakup pameran, talkshow, pertunjukan hiburan, dan bazaar kuliner.
Turut hadir di IFW 2025, Dyah Roro Esti, Wakil Menteri Perdagangan Indonesia yang menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pekan mode tersebut. Baginya tema Ronakultura Jakarta mencerminkan dinamika masyarakat Ibu Kota yang penuh energi serta terus bertransformasi dalam lanskap budaya dan perdagangan.
"Jakarta sebagai pusat bisnis dan perdagangan menjadi cerminan perdagangan berbudaya yang terus bergerak dan berinovasi. Tema Ronakultura mencerminkan bagaimana para desainer Indonesia memadukan elemen tradisional dengan desain modern yang kreatif," ujar Dyah Roro Esti.
Menurutnya, Indonesia Fashion Week tidak hanya menjadi ajang pameran mode, tetapi juga platform strategis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa fesyen Indonesia lebih dari sekadar tren, melainkan juga representasi nilai-nilai budaya yang hidup.
Dalam sambutannya, Wamen Perdagangan juga mengajak seluruh pelaku industri untuk berkolaborasi dalam memajukan sektor fashion tanah air. Dia menekankan bahwa kekayaan budaya dan pasar domestik Indonesia merupakan kombinasi unggul yang harus dioptimalkan. Salah satu langkah konkret yang dilakukan Kementerian Perdagangan adalah mendorong kampanye cinta produk dalam negeri, yang diwujudkan dalam Gerakan Kamis Pakai Lokal.
"Gerakan ini mengajak masyarakat untuk memakai produk lokal dari ujung kepala hingga kaki. Tujuannya bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga untuk menciptakan multiplier effect bagi para perajin dan pelaku UMKM di sektor kreatif," jelasnya.
Lebih jauh, Dyah Roro Esti menyoroti pentingnya perluasan pasar ekspor untuk produk fashion Indonesia. Melalui diplomasi perdagangan internasional dan promosi ekspor, Kementerian Perdagangan telah mengoptimalkan keberadaan 46 perwakilan perdagangan di luar negeri, termasuk 19 Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di berbagai negara.
"Platform ini dapat dimanfaatkan oleh para pelaku industri fesyen Indonesia untuk menjalin kerja sama dan memperluas pasar. Ketika desainer ingin mengekspor, kami siap membantu," tambahnya.
Dia juga menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar global. Inovasi dan adaptasi menjadi kunci sukses UMKM untuk menjawab permintaan pasar luar negeri. Hingga awal Mei 2025, Kementerian Perdagangan mencatat telah terlaksananya 240 kegiatan business matching yang melibatkan 709 UMKM dengan total transaksi mencapai 57,6 juta USD.
"Ini adalah langkah nyata bagaimana gerakan kecil bisa berdampak besar. Dengan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045, kita punya peluang besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia," tutup Dyah Roro Esti.
Baca juga: Menengok Sejarah Tren Fashion Bohemian yang Ekspresif dan Berjiwa Bebas
Setelah sambutan-sambutan, dilanjutkan dengan sesi fesyen show yang menampilkan enam ikon IFW 2025 yakni Jindan Salim, Kayla, Matthew Reuben, Vebby Aurelia, Dwiki Lian, dan Sophia Rogan.
Para ikon tersebut dipilih melalui ajang Icon Search 2025, yang menjaring lebih dari 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi ketat, dipilihlah enam individu sebagai representasi keberagaman ras dan suku di Indonesia.
Selanjutnya peragaan busana dari para desainer luar negeri, yakni Lilit Melikyan dan Angelina Kamalyan asal Armenia, RAJAREZZA asal Malaysia, lalu desainer perwakilan APPMI Misan Kopaka dan Nanie Rachmat.
Mengusung tema Ronakultura yang merupakan gabungan dari kata Ronak (semarak) dan Kultura (budaya). Tema ini menggambarkan semangat Jakarta sebagai kota dinamis, terus bergerak, dan penuh warna sebagai tempat budaya tradisional dan gaya hidup kontemporer saling bersilangan.
"Tahun ini menandai penyelenggaraan ke-12 IFW sebagai perhelatan fesyen terbesar di Indonesia yang menampilkan lebih dari 200 desainer dan tenants," ujar Poppy Dharsono, Ketua Umum APPMI dan Presiden Indonesia Fashion Week, dalam pembukaan IFW 2025.
Baca juga: Indonesia Fashion Week (IFW) 2025 Angkat Tema Ronakultura Jakarta
Acara akan berlangsung selama lima hari ke depan, mulai 28 Mei sampai 1 Juni 2025. Selain menampilkan ragam koleksi busana dari para desainer di ajang fesyen show, acara ini juga mencakup pameran, talkshow, pertunjukan hiburan, dan bazaar kuliner.
Turut hadir di IFW 2025, Dyah Roro Esti, Wakil Menteri Perdagangan Indonesia yang menyampaikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan pekan mode tersebut. Baginya tema Ronakultura Jakarta mencerminkan dinamika masyarakat Ibu Kota yang penuh energi serta terus bertransformasi dalam lanskap budaya dan perdagangan.
"Jakarta sebagai pusat bisnis dan perdagangan menjadi cerminan perdagangan berbudaya yang terus bergerak dan berinovasi. Tema Ronakultura mencerminkan bagaimana para desainer Indonesia memadukan elemen tradisional dengan desain modern yang kreatif," ujar Dyah Roro Esti.
Menurutnya, Indonesia Fashion Week tidak hanya menjadi ajang pameran mode, tetapi juga platform strategis untuk menunjukkan kepada dunia bahwa fesyen Indonesia lebih dari sekadar tren, melainkan juga representasi nilai-nilai budaya yang hidup.
Dalam sambutannya, Wamen Perdagangan juga mengajak seluruh pelaku industri untuk berkolaborasi dalam memajukan sektor fashion tanah air. Dia menekankan bahwa kekayaan budaya dan pasar domestik Indonesia merupakan kombinasi unggul yang harus dioptimalkan. Salah satu langkah konkret yang dilakukan Kementerian Perdagangan adalah mendorong kampanye cinta produk dalam negeri, yang diwujudkan dalam Gerakan Kamis Pakai Lokal.
"Gerakan ini mengajak masyarakat untuk memakai produk lokal dari ujung kepala hingga kaki. Tujuannya bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga untuk menciptakan multiplier effect bagi para perajin dan pelaku UMKM di sektor kreatif," jelasnya.
Lebih jauh, Dyah Roro Esti menyoroti pentingnya perluasan pasar ekspor untuk produk fashion Indonesia. Melalui diplomasi perdagangan internasional dan promosi ekspor, Kementerian Perdagangan telah mengoptimalkan keberadaan 46 perwakilan perdagangan di luar negeri, termasuk 19 Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di berbagai negara.
"Platform ini dapat dimanfaatkan oleh para pelaku industri fesyen Indonesia untuk menjalin kerja sama dan memperluas pasar. Ketika desainer ingin mengekspor, kami siap membantu," tambahnya.
Dia juga menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas UMKM agar mampu bersaing di pasar global. Inovasi dan adaptasi menjadi kunci sukses UMKM untuk menjawab permintaan pasar luar negeri. Hingga awal Mei 2025, Kementerian Perdagangan mencatat telah terlaksananya 240 kegiatan business matching yang melibatkan 709 UMKM dengan total transaksi mencapai 57,6 juta USD.
"Ini adalah langkah nyata bagaimana gerakan kecil bisa berdampak besar. Dengan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045, kita punya peluang besar menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia," tutup Dyah Roro Esti.
Baca juga: Menengok Sejarah Tren Fashion Bohemian yang Ekspresif dan Berjiwa Bebas
Setelah sambutan-sambutan, dilanjutkan dengan sesi fesyen show yang menampilkan enam ikon IFW 2025 yakni Jindan Salim, Kayla, Matthew Reuben, Vebby Aurelia, Dwiki Lian, dan Sophia Rogan.
Para ikon tersebut dipilih melalui ajang Icon Search 2025, yang menjaring lebih dari 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi ketat, dipilihlah enam individu sebagai representasi keberagaman ras dan suku di Indonesia.
Selanjutnya peragaan busana dari para desainer luar negeri, yakni Lilit Melikyan dan Angelina Kamalyan asal Armenia, RAJAREZZA asal Malaysia, lalu desainer perwakilan APPMI Misan Kopaka dan Nanie Rachmat.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.