Ilustrasi stroke (Sumber Foto: Freepik)

Perbedaan Stroke Iskemik dan Hemoragik: Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

26 May 2025   |   22:19 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Stroke merupakan salah satu kondisi darurat medis. Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mengurangi kerusakan otak dan meningkatkan peluang pemulihan. Menurut National Health Service (NHS) di Inggris, stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terputus, yang dapat memengaruhi kemampuan berbicara, bergerak, dan memerlukan waktu lama untuk pemulihan.

Berdadarkan informasi Kementerian Kesehatan RI, stroke menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian di Indonesia, yakni sebesar 11,2 persen dari total kecacatan, dan 18,5 persen dari total kematian. Menurut data Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.

Baca juga: Mengenal Stroke Hemoragik yang Disebut Jadi Penyebab Meninggalnya Suami Najwa Shihab

Stroke juga merupakan salah satu penyakit katastropik dengan pembiayaan tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, yaitu mencapai Rp5,2 triliun pada 2023. Adapun stroke dibagi menjadi dua, yakni stroke iskemik dan hemoragik, kenali perbedaannya mulai dari penyebab, gejala, sampai penanganannya.


Penyebab Stroke 

Berdasarkan penyebabnya, stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah di otak oleh gumpalan darah atau plak lemak, yang menghambat aliran darah dan oksigen ke jaringan otak. Penyumbatan ini bisa berasal dari trombosis di mana gumpalan darah terbentuk langsung di pembuluh darah otak dan dari emboli di mana gumpalan darah terbentuk di bagian tubuh lain misalnya jantung dan berpindah ke otak.

Sementara stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak yang menyebabkan perdarahan di dalam atau sekitar otak. Penyebab umumnya meliputi hipertensi alias tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, aneurisma alias pelebaran atau penonjolan dinding pembuluh darah yang lemah, bisa juga karena malformasi arteriovenosa (AVM) atau kelainan bawaan pada pembuluh darah otak.


Gejala Stroke 

Stroke iskemik dan stroke hemoragik sama-sama menunjukkan gejala utama berupa kelemahan mendadak pada wajah, lengan, atau kaki, terutama di satu sisi tubuh, serta kesulitan berbicara dan gangguan penglihatan. Namun, keduanya memiliki ciri khas yang berbeda.

Gejala stroke iskemik cenderung muncul lebih halus dan bertahap, kadang disertai kebingungan, pusing, atau kehilangan koordinasi, tetapi pasien umumnya tetap sadar. Sebaliknya, stroke hemoragik sering diawali dengan sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba, disertai mual, muntah menyembur, penurunan kesadaran, bahkan kejang.

Stroke hemoragik juga lebih mungkin terjadi saat pasien sedang beraktivitas berat atau mengalami tekanan emosional tinggi, sementara stroke iskemik sering terjadi saat istirahat atau tidur. Selain itu, kejang dan kaku leher sering terjadi pada stroke hemoragik, terutama jika terjadi perdarahan di ruang sekitar otak.


Penanganan Stroke 

Penanganan stroke iskemik dan hemoragik berbeda secara signifikan karena penyebabnya pun beda. Mengutip National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), stroke iskemik yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah di otak memerlukan tindakan cepat untuk mengembalikan aliran darah. Terapi utamanya adalah pemberian obat trombolitik seperti tissue plasminogen activator (tPA) dalam waktu 3 hingga 4,5 jam setelah gejala muncul untuk melarutkan bekuan darah.

Jika tPA tidak dapat diberikan, alternatifnya adalah pemberian antikoagulan seperti aspirin untuk mencegah pembentukan gumpalan baru. Dalam kasus tertentu, prosedur mekanis seperti trombektomi dilakukan untuk mengangkat bekuan darah secara langsung dari pembuluh darah otak. 

Baca juga: Serangan Stroke Tak Kenal Usia, Ikuti Cara Sederhana Kurangi Risiko di Usia Produktif

Sebaliknya, stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak, sehingga penanganannya fokus pada menghentikan perdarahan dan mengurangi tekanan dalam otak. Langkah awal meliputi stabilisasi kondisi pasien dan pengendalian tekanan darah untuk mencegah perdarahan lebih lanjut. Jika pasien menggunakan obat pengencer darah, tindakan untuk membalikkan efek obat tersebut mungkin diperlukan.

Dalam beberapa kasus, pembedahan dilakukan untuk mengangkat darah yang terkumpul atau memperbaiki pembuluh darah yang rusak. Penanganan cepat dan tepat sangat penting pada kedua jenis stroke untuk meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan peluang pemulihan.

SEBELUMNYA

Menbud Fadli Zon Klarifikasi Soal Pemasangan Chairlift di Candi Borobudur

BERIKUTNYA

Daftar Harga Tiket Fan Meeting Hyeri di Jakarta Mulai Rp800.000-an

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: