Ilustrasi Burnout (Sumber foto: Anna Tarazevich/Pexels)

3 Tips Mengatasi Burnout ala Influencer Xaviera Putri & Biadonut

23 May 2025   |   08:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah gaya hidup yang serba cepat dan penuh tuntutan, burnout menjadi kondisi yang makin sering dialami generasi muda. Tanda-tandanya bisa muncul perlahan, mulai dari lelah terus-menerus, sulit fokus, bahkan kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai.

Jika tidak segera disadari, kondisi ini bisa berdampak pada produktivitas, kesehatan mental, hingga kualitas hubungan dengan orang lain. Burnout bukan hanya dialami oleh akademisi atau pekerja kantoran. Di era digital, tekanan untuk terus tampil aktif dan produktif juga dirasakan oleh para content creator. 

Influencer yang sering mengangkat topik kesehatan mental dan self-awareness di kalangan anak muda, Xaviera Putri dan Biadonut berbagi pengalaman mereka menghadapi burnout dengan cara yang sederhana yang bisa bermakna dan membantu Genhype. Yuk simak!

Baca juga: Awas, Generasi Sandwich Rentan Burnout hingga Depresi
 

Xaviera Putri dan Biadonut (Sumber gambar: Gushcloud)

Xaviera Putri dan Biadonut (Sumber gambar: Gushcloud)
 

1. Dengarkan Tubuh

Langkah awal untuk mengatasi burnout adalah dengan menyadari apa yang memicunya. Xaviera Putri percaya bahwa rasa lelah berkepanjangan tidak datang tanpa sebab. Diaa menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri apa yang menyebabkan burnout tersebut. Ambil waktu sejenak untuk mendengarkan keinginan tubuh sebelum mengambil jeda untuk istirahat.

Xaviera menekankan pentingnya tidur sebagai bentuk istirahat total yang menurutnya bisa membantu menyegarkan pikiran. Dipilihnya waktu istirahat justru dianggap lebih efektif dibanding terus memaksakan diri untuk produktif tanpa henti. “Setelah tidur, baru bisa mikir,” ucap Xaviera singkat. Ditekankan pula bahwa istirahat bukan kemunduran, tapi bagian penting dari menjaga ritme hidup yang sehat.


2.  Sesuaikan dengan Kapasitas

Di sisi lain, adik Xaviera yakni Biadonut menyoroti pentingnya mengevaluasi ulang standar yang diberlakukan pada diri sendiri. Menurut Biadonut, ekspektasi yang terlalu tinggi justru bisa menjadi pemicu tekanan mental. “Mungkin kita belum cukup kuat untuk itu,” ujarnya. Ini juga mengingatkan bahwa tidak semua harus sempurna, apalagi saat kondisi sedang stres.

Baginya, mengambil langkah mundur sesaat itu wajar saja dan tidak seharusnya dinilai sebagai kegagalan. Justru, mengevaluasi diri bisa menjadi cara untuk menjaga stabilitas. Ketika sebuah pekerjaan terasa terlalu berat, dia menyarankan untuk melihat ulang tujuan dan menyesuaikannya agar lebih realistis. Ditekankan pula bahwa kesehatan mental tidak kalah penting dibanding hasil kerja yang ingin dicapai.
 

3.  Pemulihan Bukan Kelemahan

Dari pengalaman Xaviera dan Biadonut, burnout tidak perlu dianggap sebagai kelemahan pribadi. Sebaliknya, kondisi ini bisa menjadi pengingat bahwa tubuh dan pikiran butuh jeda. Bagi keduanya, memberi waktu untuk pulih bukanlah tandamenyerah. Terlebih, ini menjadi cara menjaga fisik dan mental secara keberlanjutan.

Langkah-langkah sederhana seperti tidur cukup, mengenali batas, dan menyesuaikan ekspektasi menjadi kunci dalam proses pemulihan. Pulih juga dinilai keduanya sebagai metode merawat diri sendiri. Dengan begitu, energi dan semangat bisa kembali perlahan tanpa tekanan dan tanpa paksaan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Acer Luncurkan Monitor Terbaru yang Bikin Pengalaman Gaming Lebih Imersif & Mulus

BERIKUTNYA

88SEOUL Hadirkan Hangatnya Masakan Korea Rumahan ke Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: