Garin Nugroho Perkenalkan Proyek Spirit of Kantil di Cannes Market 2025
20 May 2025 |
07:53 WIB
Sineas gaek Indonesia, Garin Nugroho, kembali memperkenalkan proyek film terbarunya bertajuk Spirit of Kantil di ajang bergengsi Cannes Film Market (Marche du Film) 2025. Film yang memiliki judul asli Bedoyo ini tengah dalam fase pengembangan.
Dalam film ini, Garin akan bertindak sebagai produser sekaligus penulis naskah skenario. Sementara itu, kursi sutradara akan dipercayakan kepada sineas muda Robby Ertanto, yang belakangan disorot berkat film Yohanna yang meraih kemenangan besar di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2024.
Baca juga: Sutradara Garin Nugroho: Indonesia Punya 3 Misi Penting di Festival Film Cannes 2025
Film tersebut mampu meraih penghargaan Best Film, Best Director, Best Storytelling, Best Performance (Laura Basuki, Kirana Putri Grasela, Iqua Tahlequa), dan Best Cinematography.
Spirit of Kantil akan menjadi karya yang melanjutkan jejak Garin dalam mengeksplorasi tradisi, spiritualitas, dan kompleksitas budaya Jawa dengan kemasan sinematik yang puitis dan metaforis. Di Cannes Market, proyek ini diperkenalkan kepada para distributor, investor, dan festival programmer sebagai bagian dari upaya pencarian pendanaan dan kolaborator internasional.
Film yang akan diproduksi oleh Summerland Film Production ini menawarkan drama sensual yang berakar kuat pada tradisi mistik Jawa. Film ini juga akan mengeksplorasi hubungan rumit antara keindahan, kekuasaan, dan tradisi di Indonesia dengan setting medio 1950-an.
Fokus film Spirit of Kantil akan tertuju pada tiga karakter utama, yakni Adista, seorang wanita kaya yang menguasai seni esoterik melalui bunga kantil, lalu Citresa, seorang penari bedoyo yang sangat cantik yang lahir di bawah pohon kantil, dan Kripala, suami Citresa dan seorang komposer yang sedang berjuang.
Saat Adista menarik Citresa ke dunianya yang penuh ritual dan upacara kuno, hubungan mereka semakin dalam sementara Kripala terjerumus ke dalam kecemburuan dan kemarahan yang merusak.
“Berakar pada dunia esoteris ritual dan metafisika Jawa, ini adalah eksplorasi kekuatan yang mengatur keindahan dan kepemilikan,” kata Ertanto dikutip dari Variety.
Sementara itu, Garin menggambarkan proyek ini sebagai sebuah penghormatan terhadap warisan budaya Jawa sekaligus sebuah kritik terhadap kondisi masyarakat modern. Dia menyoroti secara paradoks Indonesia pada era 1950-an, yang sering dianggap sebagai masa tradisional.
Namun, masa itu justru menunjukkan penghargaan yang lebih besar terhadap fleksibilitas gender dan kebebasan berekspresi dibandingkan norma sosial yang lebih kaku di zaman sekarang.
Dengan estimasi biaya pengembangan proyek sekitar US$30.000 dan total anggaran produksi mencapai sekitar US$1 juta, tim produksi tengah berupaya menggalang dana melalui kombinasi modal swasta, hibah film, serta kerja sama produksi internasional.
Presentasi di Pasar Film Cannes menjadi langkah strategis penting untuk mendapatkan mitra pendanaan. Sementara itu, proses pengambilan gambar utama direncanakan akan dimulai pada Januari 2027.
Dengan proyek ini, Garin kembali menegaskan perannya sebagai sosok penting dalam dunia perfilman Indonesia bahkan di kancah Asia Tenggara. Sebagai produser, Garin telah membantu melahirkan gelombang baru sineas Indonesia dengan mendukung film-film penting.
Dimulai dari Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) karya Mouly Surya dan Yang Terlihat dan Tak Terlihat (2017) karya Kamila Andini. Hal tersebut sekaligus melanjutkan komitmennya dalam membimbing talenta muda untuk melestarikan nilai-nilai budaya dalam sisi naratif mereka.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam film ini, Garin akan bertindak sebagai produser sekaligus penulis naskah skenario. Sementara itu, kursi sutradara akan dipercayakan kepada sineas muda Robby Ertanto, yang belakangan disorot berkat film Yohanna yang meraih kemenangan besar di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2024.
Baca juga: Sutradara Garin Nugroho: Indonesia Punya 3 Misi Penting di Festival Film Cannes 2025
Film tersebut mampu meraih penghargaan Best Film, Best Director, Best Storytelling, Best Performance (Laura Basuki, Kirana Putri Grasela, Iqua Tahlequa), dan Best Cinematography.
Spirit of Kantil akan menjadi karya yang melanjutkan jejak Garin dalam mengeksplorasi tradisi, spiritualitas, dan kompleksitas budaya Jawa dengan kemasan sinematik yang puitis dan metaforis. Di Cannes Market, proyek ini diperkenalkan kepada para distributor, investor, dan festival programmer sebagai bagian dari upaya pencarian pendanaan dan kolaborator internasional.
Film yang akan diproduksi oleh Summerland Film Production ini menawarkan drama sensual yang berakar kuat pada tradisi mistik Jawa. Film ini juga akan mengeksplorasi hubungan rumit antara keindahan, kekuasaan, dan tradisi di Indonesia dengan setting medio 1950-an.
Fokus film Spirit of Kantil akan tertuju pada tiga karakter utama, yakni Adista, seorang wanita kaya yang menguasai seni esoterik melalui bunga kantil, lalu Citresa, seorang penari bedoyo yang sangat cantik yang lahir di bawah pohon kantil, dan Kripala, suami Citresa dan seorang komposer yang sedang berjuang.
Saat Adista menarik Citresa ke dunianya yang penuh ritual dan upacara kuno, hubungan mereka semakin dalam sementara Kripala terjerumus ke dalam kecemburuan dan kemarahan yang merusak.
“Berakar pada dunia esoteris ritual dan metafisika Jawa, ini adalah eksplorasi kekuatan yang mengatur keindahan dan kepemilikan,” kata Ertanto dikutip dari Variety.
Sementara itu, Garin menggambarkan proyek ini sebagai sebuah penghormatan terhadap warisan budaya Jawa sekaligus sebuah kritik terhadap kondisi masyarakat modern. Dia menyoroti secara paradoks Indonesia pada era 1950-an, yang sering dianggap sebagai masa tradisional.
Namun, masa itu justru menunjukkan penghargaan yang lebih besar terhadap fleksibilitas gender dan kebebasan berekspresi dibandingkan norma sosial yang lebih kaku di zaman sekarang.
Dengan estimasi biaya pengembangan proyek sekitar US$30.000 dan total anggaran produksi mencapai sekitar US$1 juta, tim produksi tengah berupaya menggalang dana melalui kombinasi modal swasta, hibah film, serta kerja sama produksi internasional.
Presentasi di Pasar Film Cannes menjadi langkah strategis penting untuk mendapatkan mitra pendanaan. Sementara itu, proses pengambilan gambar utama direncanakan akan dimulai pada Januari 2027.
Dengan proyek ini, Garin kembali menegaskan perannya sebagai sosok penting dalam dunia perfilman Indonesia bahkan di kancah Asia Tenggara. Sebagai produser, Garin telah membantu melahirkan gelombang baru sineas Indonesia dengan mendukung film-film penting.
Dimulai dari Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) karya Mouly Surya dan Yang Terlihat dan Tak Terlihat (2017) karya Kamila Andini. Hal tersebut sekaligus melanjutkan komitmennya dalam membimbing talenta muda untuk melestarikan nilai-nilai budaya dalam sisi naratif mereka.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.