AI Jadi Peluang Atau Ancaman? Begini Tanggapan Fotografer Muda Mikael Aldo
16 May 2025 |
00:09 WIB
Meruyaknya akal imitasi (AI) ke dalam kehidupan sehari-hari turut berpengaruh pada kerja kreatif di berbagai bidang. Dunia fotografi adalah salah satu sektor yang mulai memanfaatkan teknologi ini, baik dalam proses penciptaan gambar, pengeditan, hingga distribusi dan konsumsi karya.
Fotografer muda Mikael Aldo mengatakan, seiring pesatnya perkembangan teknologi, pekerja kreatif dihadapkan pada tantangan dan peluang baru yang tak bisa dihindari. Sebagai sebuah teknologi, AI juga memiliki potensi yang sangat luas untuk digali, baik dalam sudut pandang positif ataupun negatif.
Baca juga: Sambut Satu Dekade Berkarya, Fotografer Mikael Aldo Gelar Pameran Tunggal di Artsphere Gallery
Menurut Aldo, hadirnya AI memang menyulut pro dan kontra. Namun, seperti halnya teknologi lain, AI juga memiliki dua sisi mata uang. Jika digunakan secara bijak dan beretika, teknologi ini justru bisa meringankan kerja kreatif, mendorong efisiensi, dan memperluas jangkauan ekspresi visual.
"Namun AI juga perlu digunakan dengan hati-hati, sebab ada banyak aspek teknikal yang terlibat di dalamnya, seperti hak cipta dan yang lain," katanya saat ditemui Hypeabis.id, belum lama ini di Jakarta.
Sebagai teknologi termutakhir, AI juga memiliki potensi yang sangat luas untuk digali. Oleh karena itu, penting bagi para pekerja kreatif untuk memperlakukan AI bukan hanya sebagai alat, melainkan juga sebagai bagian dari lanskap kreatif yang harus dipahami secara menyeluruh.
Menurut Aldo, hadirnya AI telah menjadi lompatan besar dalam dunia fotografi. Teknologi ini bahkan mampu membuka potensi kreatif baru, seperti manipulasi visual yang sebelumnya sulit dicapai, sekaligus menghemat waktu dalam proses pascaproduksi.
Di sisi lain, AI juga menjadikan akses terhadap alat-alat fotografi canggih menjadi lebih demokratis, atau tidak lagi terbatas pada studio besar. Meski demikian, Aldo mengingatkan bahwa adaptasi ini juga harus dibarengi dengan pemahaman atas etika.
"Aku rasa seniman manapun yang percaya pada kekuatan seni pasti akan menghargai hak cipta. Hal lain juga perlu dilihat adalah saat menggunakan AI mesti di-approach dengan etis,” imbuhnya.
Lebih lanjut, dia mengungkap, kehadiran AI juga menimbulkan isu baru seputar hak cipta, manipulasi gambar, hingga potensi disinformasi melalui foto palsu (deepfake). Oleh karena itu, perlu ada transparansi dan regulasi yang jelas dalam ekosistem ini.
Transparansi dan regulasi tersebut dilakukan agar AI tidak menyingkirkan nilai-nilai dasar dari seni fotografi. Hal tersebut perlu dilakukan agar ada dialog yang terbuka antara teknologi dan manusia, serta dengan mengedepankan kode etik yang berlaku.
Dengan segala potensinya, papar Aldo, AI dalam fotografi sejatinya bukan musuh, tetapi mitra baru yang harus dikenali, dikelola lewat pendekatan etis. Sebab, dalam konteks seni dan ekspresi visual, nilai personal yang muncul dari proses manual tetap memiliki tempat yang penting.
“Dengan pola tersebut kita bisa bergerak ke arah yang tidak mengurangi value dari pekerjaan tangan manusia. Sebab untuk fotografi, dan kesenian lain, kita tetap memerlukan sentuhan tangan manusia,” tegasnya.
Sebagai tambahan informasi, Mikael Aldo adalah seniman visual asal muda yang karya-karyanya mengeksplorasi kompleksitas dan kedalaman emosional dari pengalaman manusia melalui fotografi konseptual dan portrait.
Perjalanan artistiknya dimulai pada tahun 2012 lewat 366 Project, sebuah proyek foto harian selama satu tahun yang diunggah ke Flickr, yang memperoleh pengakuan internasional dari Adobe Photoshop serta My Modern Met.
Terbaru, Aldo juga menggelar pameran tunggal bertajuk Prophecy, di Artsphere Gallery, Jakarta. Seteleng tunggalnya itu akan berlangsung dari 14 sampai 20 Mei 2025, yang mengetengahkan tema emosi, hasil karya-karya pilihan sang fotografer selama satu dekade terakhir.
Baca juga: Getty Images dan Shutterstock Merger, Apa Dampaknya Bagi Fotografer?
Fotografer muda Mikael Aldo mengatakan, seiring pesatnya perkembangan teknologi, pekerja kreatif dihadapkan pada tantangan dan peluang baru yang tak bisa dihindari. Sebagai sebuah teknologi, AI juga memiliki potensi yang sangat luas untuk digali, baik dalam sudut pandang positif ataupun negatif.
Baca juga: Sambut Satu Dekade Berkarya, Fotografer Mikael Aldo Gelar Pameran Tunggal di Artsphere Gallery
Menurut Aldo, hadirnya AI memang menyulut pro dan kontra. Namun, seperti halnya teknologi lain, AI juga memiliki dua sisi mata uang. Jika digunakan secara bijak dan beretika, teknologi ini justru bisa meringankan kerja kreatif, mendorong efisiensi, dan memperluas jangkauan ekspresi visual.
"Namun AI juga perlu digunakan dengan hati-hati, sebab ada banyak aspek teknikal yang terlibat di dalamnya, seperti hak cipta dan yang lain," katanya saat ditemui Hypeabis.id, belum lama ini di Jakarta.
Sebagai teknologi termutakhir, AI juga memiliki potensi yang sangat luas untuk digali. Oleh karena itu, penting bagi para pekerja kreatif untuk memperlakukan AI bukan hanya sebagai alat, melainkan juga sebagai bagian dari lanskap kreatif yang harus dipahami secara menyeluruh.
Menurut Aldo, hadirnya AI telah menjadi lompatan besar dalam dunia fotografi. Teknologi ini bahkan mampu membuka potensi kreatif baru, seperti manipulasi visual yang sebelumnya sulit dicapai, sekaligus menghemat waktu dalam proses pascaproduksi.
Di sisi lain, AI juga menjadikan akses terhadap alat-alat fotografi canggih menjadi lebih demokratis, atau tidak lagi terbatas pada studio besar. Meski demikian, Aldo mengingatkan bahwa adaptasi ini juga harus dibarengi dengan pemahaman atas etika.
"Aku rasa seniman manapun yang percaya pada kekuatan seni pasti akan menghargai hak cipta. Hal lain juga perlu dilihat adalah saat menggunakan AI mesti di-approach dengan etis,” imbuhnya.
Lebih lanjut, dia mengungkap, kehadiran AI juga menimbulkan isu baru seputar hak cipta, manipulasi gambar, hingga potensi disinformasi melalui foto palsu (deepfake). Oleh karena itu, perlu ada transparansi dan regulasi yang jelas dalam ekosistem ini.
Transparansi dan regulasi tersebut dilakukan agar AI tidak menyingkirkan nilai-nilai dasar dari seni fotografi. Hal tersebut perlu dilakukan agar ada dialog yang terbuka antara teknologi dan manusia, serta dengan mengedepankan kode etik yang berlaku.
Dengan segala potensinya, papar Aldo, AI dalam fotografi sejatinya bukan musuh, tetapi mitra baru yang harus dikenali, dikelola lewat pendekatan etis. Sebab, dalam konteks seni dan ekspresi visual, nilai personal yang muncul dari proses manual tetap memiliki tempat yang penting.
“Dengan pola tersebut kita bisa bergerak ke arah yang tidak mengurangi value dari pekerjaan tangan manusia. Sebab untuk fotografi, dan kesenian lain, kita tetap memerlukan sentuhan tangan manusia,” tegasnya.
Sebagai tambahan informasi, Mikael Aldo adalah seniman visual asal muda yang karya-karyanya mengeksplorasi kompleksitas dan kedalaman emosional dari pengalaman manusia melalui fotografi konseptual dan portrait.
Perjalanan artistiknya dimulai pada tahun 2012 lewat 366 Project, sebuah proyek foto harian selama satu tahun yang diunggah ke Flickr, yang memperoleh pengakuan internasional dari Adobe Photoshop serta My Modern Met.
Terbaru, Aldo juga menggelar pameran tunggal bertajuk Prophecy, di Artsphere Gallery, Jakarta. Seteleng tunggalnya itu akan berlangsung dari 14 sampai 20 Mei 2025, yang mengetengahkan tema emosi, hasil karya-karya pilihan sang fotografer selama satu dekade terakhir.
Baca juga: Getty Images dan Shutterstock Merger, Apa Dampaknya Bagi Fotografer?
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.