Ilustrasi lupus (Sumber gambar: Thirdman/Pexels)

Mengapa Lupus Dijuluki Penyakit 1.000 Wajah? Kenali Gejala dan Tanda-Tandanya

13 May 2025   |   19:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Lupus masih menjadi perhatian di antara berbagai penyakit yang menyerang imunitas. Lupus sendiri merupakan salah satu jenis dari lebih dari 80 penyakit autoimun yang telah dikenal dalam dunia medis. Ini sekaligus menjadikannya sebagai penyakit autoimun yang paling umum.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan The Lupus Foundation mencatat diperkirakan ada 5 juta pengidap lupus di dunia. Secara prevalensinya, laporan yang dipublikasi di National Library of Medicine memperkirakan sebanyak 5,4 dari 100.000 orang terjangkit penyakit ini setiap tahunnya. Sebagaimana penyakit autoimun umumnya, jenis penyakit ini memiliki berbagai jenis yang dapat menyerang organ tubuh yang berbeda-beda, sehingga penanganannya pun sangat bervariasi.

Baca juga: Berisiko Tinggi, Simak Cara Deteksi Dini Gejala Lupus Pada Anak

Di Indonesia, penyakit autoimun masih dianggap tabu. Bahkan, penyakit ini mendapat julukan sebagai ‘Penyakit 1.000 Wajah’ akibat gejalanya yang tidak khas dan spesifik, serta bisa menyerupai gejala penyakit apa saja.
 
Penting untuk diketahui bahwa lupus memang termasuk dalam kelompok penyakit autoimun, tetapi  tidak semua penyakit autoimun adalah lupus. Namun, penelitian Mediterranean Journal of Rheumatology mencatat angka yang tinggi untuk kejadian lupus di antara penyakit autoimun lainnya dengan angka kejadian mencapai 0,5-1% total penduduk dewasa.
 
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Fenda Adita, lupus atau dalam istilah medis disebut Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit autoimun yang kompleks dan sering kali tidak terdeteksi dini.

"Lupus itu adalah penyakit, yang mana penyakit tersebut berisi imunitas atau kekebalan tubuh yang menyerang diri sendiri," jelas Fenda dalam Siaran Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Penyakit ini muncul akibat sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan patogen lain, justru keliru menyerang jaringan tubuh yang sehat.
 
Yang menjadikan lupus begitu membingungkan adalah karena dia bisa menyerang berbagai organ, mulai sendi, otot, kulit, ginjal, paru, jantung, saraf, bahkan darah. Salah satu tantangan besar dalam penanganan lupus adalah kurangnya kesadaran masyarakat.

Hal ini membuat banyak pasien tidak menyadari bahwa mereka mengidap lupus, hingga akhirnya datang dalam kondisi yang sudah berat atau komplikatif.
 
Di RS Karyadi, Semarang saja, Fenda mencatat ada 22.000 kasus lupus  dalam satu tahun terakhir dengan catatan hampir 2.000 pasien per bulan. “Mungkin seperti fenomena gunung es. Yang kita lihat sedikit, tapi yang belum terdiagnosis bisa jauh lebih banyak,” katanya.
 
Lupus hanyalah satu bagian dari spektrum penyakit autoimun. Ada autoimun organ spesifik seperti penyakit tiroid, pankreas, hingga ginjal. Di sisi lain, lupus termasuk dalam kelompok autoimun sistemik yang berarti menyerang lebih dari satu organ, juga dikenal sebagai connective tissue disorder.
 
Menurut Fenda, terdapat 3 faktor utama yang memicu lupus, pertama adalah faktor genetik, kemudian ada juga faktor hormonal, dimana lupus lebih sering menyerang wanita karena kadar estrogen yang lebih tinggi. Selanjutnya, ada faktor lingkungan seperti infeksi virus, paparan bahan kimia, stres, dan gaya hidup tidak sehat bisa menjadi pencetus penyakit ini.
 
Karena lupus menyerang banyak organ, gejalanya sangat bervariasi dan sering menyerupai penyakit lain. Di antaranya, nyeri sendi di pagi hari atau malam, ruam merah di wajah terutama setelah terpapar sinar matahari, hingga penurunan jumlah trombosit, sel darah putih, atau anemia tanpa sebab jelas.

Selain itu, ada juga masalah pembengkakan pada kedua kaki akibat kebocoran protein dari ginjal, cairan di paru atau jantung, serta gejala  saraf seperti kejang atau stroke di usia muda tanpa riwayat hipertensi atau diabetes.
 
Selain itu, kata Fenda, gejala lainnya juga bisa muncul di sistem pencernaan dan berbagai bagian tubuh lainnya. Oleh karena itu, lupus memang sangat sulit didiagnosis tanpa pemeriksaan medis menyeluruh.

Diagnosis lupus harus mengacu pada kriteria medis seperti tes darah untuk antibodi autoimun, pemeriksaan fungsi organ yang terkena, pemeriksaan urin untuk deteksi kebocoran protein, hingga biopsi bila diperlukan
 
Fenda mengajak masyarakat untuk lebih sadar akan penyakit ini. "Semakin cepat terdiagnosis, semakin cepat diobati, maka komplikasi bisa dicegah," pesannya. Dia juga menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan perlindungan terhadap sinar UV bagi penderita lupus termasuk penggunaan sunblock dan mencukupi vitamin D3.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

NCT Dream Umumkan Jadwal Konser TDS 4 di Jakarta 27-28 September 2025

BERIKUTNYA

Study Group Kembali, Musim Kedua Siap Mengguncang dengan Cerita Lebih Intens

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga