Ilustrasi perang nuklir. (Sumber gambar: AI/Freepik)

Ilmuan Temukan Sumber Pangan yang Cocok Ditanam Usai Perang Nuklir

08 May 2025   |   20:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Bencana lingkungan yang berujung pada terbatasnya akses pangan bisa saja terjadi dalam waktu dekat. Perubahan iklim yang membuat suhu bumi semakin panas, ditambah ketegangan yang terjadi di berbagai belahan dunia, terbaru antara India dan Pakistan dengan risiko perang nuklir, menjadi pemicu terbesarnya. 

Ya, perang nuklir memiliki efek yang sangat merusak bagi kehidupan manusia. Mengutip laporan Nuclear Famine (2022), perang nuklir antara India dan Pakistan dapat membunuh hingga sepertiga umat manusia di bumi, dengan suhu global rata-rata turun sekitar 1,3 derajat Celsius.

Baca  juga: Gaya Hidup Modern Kian Menantang, Konsumen Makin Cermat Pilih Produk Pangan Bergizi

Dalam studi terbaru di jurnal PLOS One yang terbit pada 7 Mei 2025, disebutkan bahwa nuclear winter bisa menyebabkan banyak orang kelaparan. Musim dingin nuklir, istilah ini merujuk pada fenomena dampak iklim jangka pendek dan panjang akibat perang nuklir yang merusak lingkungan.

Di tengah risiko ini, para ilmuan lantas membuat penelitian untuk mencegah bencana kelaparan. Mereka menemukan ada sejumlah tanaman yang bisa menjadi sumber pangan jika perang nuklir terjadi, terutama bagi penduduk yang tinggal di pusat kota maupun sekitarnya. 

Dalam penelitian terebut, bercocok tanam bayam, sugar bit atau bit gula, gandum, dan wortel di daerah perkotaan dan dekat perkotaan, dapat memenuhi kebutuhan pangan penduduk kota berukuran sedang di dunia pasca-apokaliptik.

Studi tersebut meneliti dua skenario jika terjadi bencana, yakni apa yang akan ditanam di dalam dan di sekitar kota dalam kondisi iklim normal, dan apa yang akan ditanam jika terjadi nuclear winter. 

Skenario pertama, tanaman yang paling cocok untuk ditanam di kota beriklim sedang dalam kondisi normal ternyata adalah kacang-kacangan sederhana seperti kacang polong. "Kacang polong adalah makanan berprotein tinggi. Kacang polong tumbuh dengan baik di lingkungan pertanian perkotaan," kata Matt Boyd, pendiri dan direktur penelitian Adapt Research, yang menjadi penulis utama penelitian ini. 

Kendati demikian, tanaman kacang polong tidak tahan beku. Diketahui, nuclear winter, letusan gunung berapi dahsyat, atau hantaman asteroid besar, membuat suhu bumi turun dan mempersulit tanaman untuk melakukan fotosintesis, lantaran sinar matahari yang minim. Dalam skenario ini, peneliti lantas melihat bayam dan sugar bit atau bit gula menjadi pilihan pangan terbaik.

Boyd dan rekan penulisnya Nick Wilson, profesor kesehatan masyarakat di Universitas Otago, Wellington, menggunakan data dari meta-analisis penelitian pertanian perkotaan. Mereka menganalisis hasil panen berbeda di puluhan kota di seluruh dunia. 

Palmerston North di Selandia Baru dengan populasi sekitar 90.000 jiwa, menjadi salah satu contoh kota berukuran sedang di dunia yang diteliti. Para ilmuwan menggunakan citra Google Palmerston North untuk menghitung jumlah total ruang hijau yang tersedia yang dapat digunakan untuk menanam tanaman, seperti halaman depan, halaman belakang, dan taman. 

Boyd menyebut, bila makanan hanya ditanam di dalam batas kota, lahan yang tersedia dapat memberi makan sekitar 20 persen penduduk dengan tanaman yang memaksimalkan protein dan energi per kaki persegi dalam kondisi iklim normal. Angka itu menyusut menjadi sekitar 16 persen selama musim dingin nuklir.

Untuk memberi makan penduduk lainnya, orang-orang akan membutuhkan lahan di luar kota untuk menanam tanaman tambahan yang efisien. Dalam kasus Palmerston North, 2.817 hektar ditambah 272 hektar lahan kanola berisiko diubah menjadi biodiesel guna bahan bakar traktor dan mesin pertanian lainnya.

Sementara merujuk pada lahan di luar kota, penelitian menemukan bahwa kentang ideal untuk skenario iklim normal. Kombinasi 97 persen gandum dan 3 persen wortel merupakan rasio optimal selama musim dingin nuklir karena kentang memiliki toleransi lebih tinggi terhadap suhu dingin. 

“Bahkan ada banyak sekali lahan pertanian di kota yang dapat digunakan untuk menanam makanan," ujar Theresa Nogeire-McRae, ahli ekologi lanskap di American Farmland Trust dan fakultas afiliasi di Oregon State University, dikutip dari Live Science, Kamis (8/5/2025). 

Sementara itu, Boyd mencatat ada sejumlah hal yang akan memengaruhi hasil panen di dunia pasca perang nuklir. Kualitas tanah merupakan variabel besar, karena tanah dengan kualitas yang lebih rendah akan menghasilkan lebih sedikit panen. Hal lain yakni kualitas air.

Baca juga: Sejarah dan Tema Hari Pangan Sedunia 2024, Akses Makanan Bergizi untuk Semua Orang

SEBELUMNYA

Pemerintah Minta Klarifikasi Promotor Terkait Pengaduan Penonton Konser DAY6

BERIKUTNYA

GT World Challenge Asia 2025 Siap Digelar, Mandalika Tampil Prima di Mata Dunia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga