Jajaran tanaman bonsai (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Mendulang Cuan dari Bonsai, Seni Miniatur Tanaman Segala Zaman

07 May 2025   |   21:43 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Tren bonsai di Indonesia terus menunjukkan peningkatan minat yang signifikan. Beberapa waktu terakhir mulai banyak anak muda yang tertarik menggeluti hobi yang juga bernilai ekonomi tinggi ini. Seni merawat 'pohon kerdil' itu juga tetap digandrungi di tengah silih bergantinya tren tanaman hias.

Salah satu pegiat yang menggelutinya adalah Budi Setiawan (21). Setiap pagi dan sore hari, lelaki asal Purbalingga, Jawa Tengah itu bakal 'bermesraan' dengan puluhan tanaman bonsai yang dia rawat di daerah Jakarta Barat. Termasuk menyiram, mengganti sekam, atau memangkas daun dan ranting (pruning).

"Para pembeli [bonsai] biasanya dipasang untuk taman dan interior. Pehobi biasanya yang beli, jarang yang nggak. Sebab, tidak banyak yang tahu juga," katanya belum lama ini saat ditemui Hypeabis.id. 

Baca juga: Badai Dagang AS-China Menerpa, Ini 5 Peluang Cuan Buat Pengusaha Indonesia

Hampir sewindu Budi melakoni hobi sekaligus kerja itu. Selepas lulus SMA, sang paman mengajaknya merantau ke Tangerang. Di kota satelit inilah Budi mengenal seni mengkerdilkan tanaman itu. Kepiawaiannya merawat tanaman, kemudian membawanya ke K'Bon Bonsai.
 

.

Salah satu tanaman bonsai yang dirawat Budi di K'bon Bonsai (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Merawat bonsai membutuhkan ketelatenan tinggi. Namun hobi ini menurut Budi bisa dilakukan semua orang. Bagi yang ingin mengggelutinya dia menyarankan jenis pohon yang mudah dirawat, salah satunya lohansung (Podocarpus macrophyllus).

Hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan lupa menyiram. Lain dari itu, pehobi juga harus sering-sering mengecek kondisi batang hingga bentuk daun. Bila warnanya tidak hijau cerah, misalnya, kemungkinan besar kekurangan nutrisi atau terkena hama.

"Saat ini juga sudah banyak informasi di internet. Jadi bisa dipelajari di situ. Misal terkena kutu, atau bentuknya kurang bagus, tinggal beli obat dan dikawatin," imbuhnya.


Hobi Tua

Seni miniaturisasi tanaman, alias bonsai bukanlah hobi kemarin sore. Dalam sejarahnya kegiatan ini sudah dilakukan sejak era dinasti Tsin dan semakin diminati pada masa dinasti Tang. Sejak berabad silam, seni menanam bonsai juga terus mengalami evolusi, tak terkecuali di Tanah Air.

Kendati kembang kempis, hobi bonsai di Indonesia sepertinya masih menjanjikan. Momen ini juga tak bisa dilepaskan dari perkembangan arsitektur dan dekorasi interior rumah, terutama gaya hidup urban yang menekankan estetika hijau dan keberlanjutan. Tak pelak, bonsai masih diminati.

Selain Budi, salah satu yang mengunduh pundi-pundi uang dari hobi ini adalah Fajar (23). Lelaki asal Sukabumi, Jawa Barat, ini adalah rekan Budi dalam merawat bonsai. Walakin dia merawat di tempat berbeda, dengan koleksi bonsai yang diklaim lebih mahal dibandingkan yang ada di tempat Budi.
 

(sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Salah satu tanaman bonsai yang dirawat Budi di K'bon Bonsai  (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Fajar menjelaskan, dia memang masih terbilang baru di hobi ini. Namun dari sanalah dia mengaku dapat hidup sebagai perantau di Jakarta, meski memulai klangenan bonsai secara otodidak. "Saya masuk ke dunia bonsai pada 2023, tapi alhamdulillah seenggaknya bisa hidup dari sini," katanya.

Menurut Fajar selain pola perawatan, salah satu yang menuntut kecermatan pehobi bonsai adalah proses pembentukan pohon. Pasalnya pada proses inilah insting seseorang bermain. Alih-alih membentuknya secara manasuka, seseorang harus mengikuti bentuk dan alur asli dari pohon.


Proses Jadi Kunci

Setali tiga uang, Budi juga mengamini apa yang diucapkan Fajar. Menurutnya salah satu yang membuat hobi ini terbilang 'mahal' karena proses pembentukan, baik batang maupun akarnya membutuhkan waktu yang lama. Di tempatnya  bekerja bahkan ada pohon Kimeng, yang 20 tahun dibentuk belum juga jadi.

"Proses pengembangan batang saja 5 tahun belum jadi apa-apa. Sebab, ada beberapa pohon yang kadang juga digabungin. Jadi tidak cuma satu. Pohon kimeng yang di samping pintu masuk itu bahkan sampai 20 tahun," kata Budi.

Kendati begitu, proses memang selalu tak pernah menghianati hasil. Sebelum pindah ke K'Bon Bonsai, Budi mengklaim pernah menjual bonsai dengan harga yang cukup fantastis, yakni Rp400 juta. Hal itu terjadi beberapa tahun silam, saat dia masih menjalani hobi tersebut di Tangerang. Budi bahkan mengirim fotonya via WA. 

Baca juga: Kreativitas Dekorasi, Ladang Cuan Tak Terduga

Sudah bukan menjadi rahasia umum memang, pohon bonsai yang sudah jadi dan matang (berusia puluhan tahun) bisa berharga jutaan hingga ratusan juta rupiah. Terlebih jika jenis pohon yang diminiatirkan itu tergolong langka atau sulit dibentuk. Walhasil harganya akan melambung tinggi di kalangan pegila bonsai.

"Hobi bonsai ini cukup segmented, tren naik-turun. Jadi tergantung orangnya. Biasanya yang beli juga bagian dari komunitas bonsai yang mayoritas kalangan menengah ke atas. Walhasil susah juga nyari pasarnya,"jelasnya.

SEBELUMNYA

Ini Alasan Indonesia Jadi Tempat Uji Coba Vaksin TBC dari Bill Gates

BERIKUTNYA

Fakta Menarik Kunjungan Bill Gates di Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: