Hobi Sekaligus Bangun Komunitas Ala Penggemar Bonsai
10 May 2025 |
06:00 WIB
Seni bonsai terus berkembang di Indonesia dengan cara unik. Mulai dari hobi hingga bertujuan kompetisi, komunitas bonsai pun bergerak menumbuhkan ekosistemnya dengan baik. Salah satu komunitas yang cukup berperan dalam dunia bonsai di Indonesia adalah Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) yang memiliki cabang di berbagai kota, termasuk di Kota Bogor.
Ketua PPBI Kota Bogor Citra Nurpahla atau yang akrab disapa Otis mengatakan, ekosistem bonsai tidak hanya menumbuhkan komunitas sebagai tempat berkumpul, tetapi juga berperan lebih besar untuk memperkenalkan bonsai kepada masyarakat dan menaikkan nilai pasar bonsai melalui kontes dan pameran.
Baca juga: Mendulang Cuan dari Bonsai, Seni Miniatur Tanaman Segala Zaman
Menurut Otis, kini kebanyakan komunitas bonsai memiliki 2 fokus utama yakni sebagai wadah untuk penghobi dan sebagai tempat untuk mempersiapkan bonsai untuk kontes. Namun dalam ekosistem komunitas, fokus utama dari komunitas bonsai lebih banyak untuk kontes. Dia menjelaskan bahwa di komunitas bonsai ada berbagai cara dan metode dalam pembuatan bonsai tergantung pada tujuan dan kategori yang dituju khususnya untuk kontes.
Di PPBI Kota Bogor, terdapat anggota mulai dari pemula hingga yang sudah mahir. Para anggota yang lebih berpengalaman cenderung memiliki tujuan untuk mengikuti kontes “Jadi ajang pameran ini adalah ajang untuk menaikan value sebuah pohon di pasar,” kata Otis.
Di dalam kontes bonsai, ada beberapa kriteria penilaian yang menjadi acuan juri dalam menilai kualitas sebuah pohon bonsai. Menurut Otis, PPBI memiliki kategori yang berbeda, baik berdasarkan jenis bonsai baik bahan atau jadi, maupun ukuran pohon dari kecil, sedang, hingga besar. Untuk kategori yang lebih rinci, bonsai dinilai dari prospek madya, pratama, dan bintang yang memiliki standar penilaian masing-masing yang akan mempengaruhi hasil akhir penilaian di kontes.
Kompetisi bonsai ini pun tidak hanya terbatas di tingkat lokal, tetapi juga menyasar tingkat nasional hingga internasional. Otis menyebut bahwa PPBI sendiri memiliki berbagai cabang di Indonesia dengan lebih dari 300 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Di tingkat PPBI Kota Bogor sendiri, ada sekitar 118 anggota yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan komunitas. Beberapa bonsai dari PPBI Kota Bogor juga sudah pernah berpartisipasi di kontes internasional.
Komunitas memang tak bisa lepas dari kontes. Penghobi yang berkumpul di komunitas turut menumbuhkan tren bonsai dan jenis bonsai yang diminati. Di Indonesia, Otis menjelaskan jenis bonsai kini didominasi oleh beberapa jenis pohon seperti Santigi dan Anting Putri. "Santigi memang pohonnya dari Indonesia. Ini sangat favorit gitu ya di kalangan pebonsai," kata Otis.
Selain itu, Otis juga menambahkan bahwa tren bonsai tropis sedang berkembang pesat dengan banyak pembuat bonsai yang mulai menyesuaikan pohon mereka dengan iklim tropis Indonesia. "Yang sekarang tren di Indonesia, yang sekarang lagi digalakan adalah bonsai tropical bonsai," ungkap Otis.
Tidak hanya sebagai hobi atau untuk kontes, bonsai juga menjadi salah satu bentuk investasi. Otis menjelaskan bahwa usia bonsai sangat mempengaruhi harga di mana bonsai yang sudah berusia panjang dan membutuhkan waktu serta keterampilan khusus dalam pembuatannya memiliki nilai yang lebih tinggi. "Karena mahalnya satu bonsai kan dihargainya karena pembentukannya yang cukup lama," jelasnya.
Untuk menjaring anggota baru, PPBI Kota Bogor mengadakan berbagai acara mulai dari pameran hingga edukasi bonsai yang rutin diadakan setiap 2 bulan sekali. Otis menyebutkan bahwa ketertarikan masyarakat untuk bergabung datang dari acara edukasi yang mereka selenggarakan di mana mereka bisa belajar langsung dari tokoh-tokoh bonsai terkenal.
Gerakan komunitas juga berkembang di Bekasi. Salah satu komunitas bonsai yang berkembang adalah Saung Bonsai yang didirikan oleh Benny Krismanto. Berdiri dengan semangat berbagi ilmu, komunitas ini tidak menutup diri untuk kalangan tertentu saja. Saung Bonsai mengajak semua orang untuk berkreasi dan menikmati keindahan bonsai.
Benny menjelaskan bahwa tujuan utama berdirinya Saung Bonsai adalah untuk berbagi ilmu tentang pemahaman botani dan seni bonsai. Salah satu misi besar dari komunitas ini adalah mengubah persepsi bahwa bonsai hanya bisa dimiliki oleh kalangan atas saja. Sebaliknya, di Saung Bonsai, siapa saja dapat mengkreasikan bonsai mereka sendiri, tidak terbatas pada kalangan tertentu.
Ketua PPBI Kota Bogor Citra Nurpahla atau yang akrab disapa Otis mengatakan, ekosistem bonsai tidak hanya menumbuhkan komunitas sebagai tempat berkumpul, tetapi juga berperan lebih besar untuk memperkenalkan bonsai kepada masyarakat dan menaikkan nilai pasar bonsai melalui kontes dan pameran.
Baca juga: Mendulang Cuan dari Bonsai, Seni Miniatur Tanaman Segala Zaman
Menurut Otis, kini kebanyakan komunitas bonsai memiliki 2 fokus utama yakni sebagai wadah untuk penghobi dan sebagai tempat untuk mempersiapkan bonsai untuk kontes. Namun dalam ekosistem komunitas, fokus utama dari komunitas bonsai lebih banyak untuk kontes. Dia menjelaskan bahwa di komunitas bonsai ada berbagai cara dan metode dalam pembuatan bonsai tergantung pada tujuan dan kategori yang dituju khususnya untuk kontes.
Di PPBI Kota Bogor, terdapat anggota mulai dari pemula hingga yang sudah mahir. Para anggota yang lebih berpengalaman cenderung memiliki tujuan untuk mengikuti kontes “Jadi ajang pameran ini adalah ajang untuk menaikan value sebuah pohon di pasar,” kata Otis.
Di dalam kontes bonsai, ada beberapa kriteria penilaian yang menjadi acuan juri dalam menilai kualitas sebuah pohon bonsai. Menurut Otis, PPBI memiliki kategori yang berbeda, baik berdasarkan jenis bonsai baik bahan atau jadi, maupun ukuran pohon dari kecil, sedang, hingga besar. Untuk kategori yang lebih rinci, bonsai dinilai dari prospek madya, pratama, dan bintang yang memiliki standar penilaian masing-masing yang akan mempengaruhi hasil akhir penilaian di kontes.
Kompetisi bonsai ini pun tidak hanya terbatas di tingkat lokal, tetapi juga menyasar tingkat nasional hingga internasional. Otis menyebut bahwa PPBI sendiri memiliki berbagai cabang di Indonesia dengan lebih dari 300 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Di tingkat PPBI Kota Bogor sendiri, ada sekitar 118 anggota yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan komunitas. Beberapa bonsai dari PPBI Kota Bogor juga sudah pernah berpartisipasi di kontes internasional.
Komunitas memang tak bisa lepas dari kontes. Penghobi yang berkumpul di komunitas turut menumbuhkan tren bonsai dan jenis bonsai yang diminati. Di Indonesia, Otis menjelaskan jenis bonsai kini didominasi oleh beberapa jenis pohon seperti Santigi dan Anting Putri. "Santigi memang pohonnya dari Indonesia. Ini sangat favorit gitu ya di kalangan pebonsai," kata Otis.
Selain itu, Otis juga menambahkan bahwa tren bonsai tropis sedang berkembang pesat dengan banyak pembuat bonsai yang mulai menyesuaikan pohon mereka dengan iklim tropis Indonesia. "Yang sekarang tren di Indonesia, yang sekarang lagi digalakan adalah bonsai tropical bonsai," ungkap Otis.
Tidak hanya sebagai hobi atau untuk kontes, bonsai juga menjadi salah satu bentuk investasi. Otis menjelaskan bahwa usia bonsai sangat mempengaruhi harga di mana bonsai yang sudah berusia panjang dan membutuhkan waktu serta keterampilan khusus dalam pembuatannya memiliki nilai yang lebih tinggi. "Karena mahalnya satu bonsai kan dihargainya karena pembentukannya yang cukup lama," jelasnya.
Untuk menjaring anggota baru, PPBI Kota Bogor mengadakan berbagai acara mulai dari pameran hingga edukasi bonsai yang rutin diadakan setiap 2 bulan sekali. Otis menyebutkan bahwa ketertarikan masyarakat untuk bergabung datang dari acara edukasi yang mereka selenggarakan di mana mereka bisa belajar langsung dari tokoh-tokoh bonsai terkenal.
Gerakan komunitas juga berkembang di Bekasi. Salah satu komunitas bonsai yang berkembang adalah Saung Bonsai yang didirikan oleh Benny Krismanto. Berdiri dengan semangat berbagi ilmu, komunitas ini tidak menutup diri untuk kalangan tertentu saja. Saung Bonsai mengajak semua orang untuk berkreasi dan menikmati keindahan bonsai.
Benny menjelaskan bahwa tujuan utama berdirinya Saung Bonsai adalah untuk berbagi ilmu tentang pemahaman botani dan seni bonsai. Salah satu misi besar dari komunitas ini adalah mengubah persepsi bahwa bonsai hanya bisa dimiliki oleh kalangan atas saja. Sebaliknya, di Saung Bonsai, siapa saja dapat mengkreasikan bonsai mereka sendiri, tidak terbatas pada kalangan tertentu.
Selain itu, Benny menekankan bahwa bonsai di Saung Bonsai juga dimaksudkan sebagai sarana untuk menghilangkan stres. Dengan demikian, anggota dapat merasa lebih rileks dan terhubung dengan alam melalui kegiatan berkebun dan merawat tanaman bonsai.
Saung Bonsai kini telah berkembang pesat dengan lebih dari 220 anggota aktif yang tergabung dalam grup WhatsApp komunitas. Komunitas Saung Bonsai juga menjangkau berbagai kalangan usia dari anak muda yang masih duduk di bangku SMA hingga orang dewasa berusia 50-60 tahun. Komunitas ini juga sering mengadakan pertemuan dan pameran untuk menarik minat lebih banyak orang untuk bergabung.
Awalnya, bonsai dipandang sebagai hobi pasif. Namun, dengan adanya kegiatan pertemuan dan pameran, banyak orang yang tertarik dan mulai bergabung. Pameran yang diadakan oleh Saung Bonsai meskipun kecil tetapi mampu menarik perhatian komunitas besar lainnya. Bahkan, pameran ini juga sering menjadi ajang pertemuan antar anggota dan memperkenalkan bonsai kepada masyarakat luas.
Saung Bonsai juga aktif dalam dunia kontes bonsai. Menurut Benny, tujuan dari banyak anggota Saung Bonsai adalah mengikuti kontes bonsai. Mereka sering mengadakan kontes bonsai dengan melibatkan juri-juri nasional sehingga memberikan kesempatan bagi anggota untuk menunjukkan hasil kreasinya.
Tidak hanya soal hobi, tren bonsai di Indonesia juga terus berkembang. Beberapa jenis bonsai yang kini menjadi tren di kalangan komunitas antara lain anting putri, kimeng, dan santigi. Benny menyoroti bahwa santigi yang termasuk salah satu pohon endemik Indonesia, kini banyak diburu oleh kolektor karena karakteristiknya yang unik.
Selain itu, jenis pohon yang makin banyak ditemukan di Indonesia juga membuat pasar bonsai makin berkembang. Benny menambahkan bahwa harga bonsai juga dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama usia dan kualitas perawatan.
Nadi komunitas juga berdenyut di Jepara, Jawa Tengah. Berbagi pandangannya mengenai perkembangan bonsai di kota yang terkenal dengan kerajinan ukirannya ini. Owner IB Bonsai Jepara Ibnu Afan menjelaskan, animo bonsai saat ini boleh dibilang sedikit menurun. “Dalam artian, untuk secara ekonomi, seperti transaksi itu memang sedang menurun karena ekonomi sedang kurang bagus,” katanya.
Meskipun ada penurunan dalam animo pasar, pameran bonsai di Indonesia tetap berlangsung dengan cukup meriah. Ibnu menjelaskan bahwa di Indonesia setiap bulan setidaknya ada 2 atau 3 event pameran bonsai. Misalnya di tahun ini, akan ada pameran nasional yang berlangsung di Gresik, Jawa Tengah. Selain itu, ada pameran internasional tingkat Asia Pasifik di Bali.
.
Saung Bonsai kini telah berkembang pesat dengan lebih dari 220 anggota aktif yang tergabung dalam grup WhatsApp komunitas. Komunitas Saung Bonsai juga menjangkau berbagai kalangan usia dari anak muda yang masih duduk di bangku SMA hingga orang dewasa berusia 50-60 tahun. Komunitas ini juga sering mengadakan pertemuan dan pameran untuk menarik minat lebih banyak orang untuk bergabung.
Awalnya, bonsai dipandang sebagai hobi pasif. Namun, dengan adanya kegiatan pertemuan dan pameran, banyak orang yang tertarik dan mulai bergabung. Pameran yang diadakan oleh Saung Bonsai meskipun kecil tetapi mampu menarik perhatian komunitas besar lainnya. Bahkan, pameran ini juga sering menjadi ajang pertemuan antar anggota dan memperkenalkan bonsai kepada masyarakat luas.
Saung Bonsai juga aktif dalam dunia kontes bonsai. Menurut Benny, tujuan dari banyak anggota Saung Bonsai adalah mengikuti kontes bonsai. Mereka sering mengadakan kontes bonsai dengan melibatkan juri-juri nasional sehingga memberikan kesempatan bagi anggota untuk menunjukkan hasil kreasinya.
Tidak hanya soal hobi, tren bonsai di Indonesia juga terus berkembang. Beberapa jenis bonsai yang kini menjadi tren di kalangan komunitas antara lain anting putri, kimeng, dan santigi. Benny menyoroti bahwa santigi yang termasuk salah satu pohon endemik Indonesia, kini banyak diburu oleh kolektor karena karakteristiknya yang unik.
Selain itu, jenis pohon yang makin banyak ditemukan di Indonesia juga membuat pasar bonsai makin berkembang. Benny menambahkan bahwa harga bonsai juga dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama usia dan kualitas perawatan.
Nadi komunitas juga berdenyut di Jepara, Jawa Tengah. Berbagi pandangannya mengenai perkembangan bonsai di kota yang terkenal dengan kerajinan ukirannya ini. Owner IB Bonsai Jepara Ibnu Afan menjelaskan, animo bonsai saat ini boleh dibilang sedikit menurun. “Dalam artian, untuk secara ekonomi, seperti transaksi itu memang sedang menurun karena ekonomi sedang kurang bagus,” katanya.
Meskipun ada penurunan dalam animo pasar, pameran bonsai di Indonesia tetap berlangsung dengan cukup meriah. Ibnu menjelaskan bahwa di Indonesia setiap bulan setidaknya ada 2 atau 3 event pameran bonsai. Misalnya di tahun ini, akan ada pameran nasional yang berlangsung di Gresik, Jawa Tengah. Selain itu, ada pameran internasional tingkat Asia Pasifik di Bali.
.
Jepara sendiri dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki prestasi cukup baik di dunia bonsai baik dalam hal kualitas bonsai maupun partisipasi dalam kontes. "Di Jepara sendiri, biasanya dalam satu kontes bonsai, maksimal pohon yang berkelas Bintang itu sekitar 30 pohon. Kami biasanya mengirimkan dua atau tiga pohon untuk kontes tersebut," kata Ibnu.
Namun demikian, meski ada penurunan dalam hal transaksi, dunia bonsai di Jepara tetap bertahan berkat kesadaran para pelaku bonsai yang lebih fokus pada pembudidayaan dan perawatan jangka panjang.
Dari segi penghobi, komunitasnya juga tetap hidup berkat banyaknya kontes. Menurut Ibnu, komunitas memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan bonsai baik dalam hal nilai pasar, pembudidayaan, dan pengembangan kualitas bonsai yang ada.
"Di Jepara hampir semua kecamatan memiliki komunitas kecil," ujar Ibnu. Tercatat, ada sekitar 12 kecamatan di Jepara yang memiliki komunitas bonsai yang aktif. Para anggota berkumpul dalam acara triwulan yang bertujuan sebagai ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Baca juga: Ichinogami, Hobi Melipat Kertas Jadi Cuan Ratusan Juta Per Bulan
Selain itu, keberadaan komunitas-komunitas bonsai ini memberi ruang bagi para pencinta bonsai untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Beberapa kategori yang berkembang dalam komunitas bonsai adalah petani, kolektor, trainer, dan pembolang alias pencari tanaman bonsai di alam, Menurut Ibnu, peran petani dalam komunitas bonsai Jepara sangat penting. "Di Jepara itu kebanyakan petani, jadi kami, para pebonsai itu membeli tanaman, dan nanti jika sudah mencapai umur 5-7 tahun, baru dijual,” katanya.
Di Jepara, ada beberapa jenis bonsai yang cukup populer di antaranya adalah Anting Putri, Sancang, Waru, dan Sianci. Selain itu, ada juga tanaman pesisir seperti Santigi yang sangat banyak peminat. Kini, pengambilan tanaman tersebut dari alam kini telah dilarang oleh pemerintah setempat. "Dulu orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengambil Santigi dari alam, sehingga sekarang pengambilannya dilarang," kata Ibnu.
Dia pun menekankan pentingnya budidaya bonsai yakni dengan menanam sendiri dan tidak merusak alam. Pebonsai bisa membudidayakannya dengan cara stek atau cangkok.
Namun demikian, meski ada penurunan dalam hal transaksi, dunia bonsai di Jepara tetap bertahan berkat kesadaran para pelaku bonsai yang lebih fokus pada pembudidayaan dan perawatan jangka panjang.
Dari segi penghobi, komunitasnya juga tetap hidup berkat banyaknya kontes. Menurut Ibnu, komunitas memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan bonsai baik dalam hal nilai pasar, pembudidayaan, dan pengembangan kualitas bonsai yang ada.
"Di Jepara hampir semua kecamatan memiliki komunitas kecil," ujar Ibnu. Tercatat, ada sekitar 12 kecamatan di Jepara yang memiliki komunitas bonsai yang aktif. Para anggota berkumpul dalam acara triwulan yang bertujuan sebagai ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Baca juga: Ichinogami, Hobi Melipat Kertas Jadi Cuan Ratusan Juta Per Bulan
Selain itu, keberadaan komunitas-komunitas bonsai ini memberi ruang bagi para pencinta bonsai untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Beberapa kategori yang berkembang dalam komunitas bonsai adalah petani, kolektor, trainer, dan pembolang alias pencari tanaman bonsai di alam, Menurut Ibnu, peran petani dalam komunitas bonsai Jepara sangat penting. "Di Jepara itu kebanyakan petani, jadi kami, para pebonsai itu membeli tanaman, dan nanti jika sudah mencapai umur 5-7 tahun, baru dijual,” katanya.
Di Jepara, ada beberapa jenis bonsai yang cukup populer di antaranya adalah Anting Putri, Sancang, Waru, dan Sianci. Selain itu, ada juga tanaman pesisir seperti Santigi yang sangat banyak peminat. Kini, pengambilan tanaman tersebut dari alam kini telah dilarang oleh pemerintah setempat. "Dulu orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengambil Santigi dari alam, sehingga sekarang pengambilannya dilarang," kata Ibnu.
Dia pun menekankan pentingnya budidaya bonsai yakni dengan menanam sendiri dan tidak merusak alam. Pebonsai bisa membudidayakannya dengan cara stek atau cangkok.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.