Indahnya Bisnis Bonsai, Omzetnya Bisa Tembus Ratusan Juta
20 May 2025 |
11:30 WIB
Seni membentuk dan menghias tanaman dalam pot, Bonsai, sudah berjalan selama lebih dari 1.000 tahun dan telah berkembang menjadi bisnis yang menguntungkan. Tidak sekadar menciptakan tanaman kerdil yang menggambarkan keadaan di alam bebas dari sebuah pohon, keindahannya kerap memiliki nilai jual tinggi.
M Fatah Anugerah, salah seorang pegiat bonsai di Indonesia sesekali mendapatkan omzet ratusan juta dari hasil jualan tanaman berseni ini. “Sangat-sangat mungkin sekali omzetnya bisa ratusan juta,” ujarnya saat berbincang dengan Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Hobi Sekaligus Bangun Komunitas Ala Penggemar Bonsai
Di halaman Instagram miliknya, @drfatahbonsai, masih terpajang bonsai Sianci yang meraih prestasi pada festival bonsai nasional di Jawa Timur. Tertulis di sana harga satu pohon bonsai dengan tinggi kira-kira 1 meter itu bernilai ratusan juta rupiah, walau tidak disebutkan angka pastinya.
Nilai jual bonsai menurutnya tidak pernah turun dan sepi peminat. Bonsai katanya merupakan seni hidup selama berpuluh hingga ratusan tahun. “Bentuknya akan selalu makin bagus, makin mahal, kalau kita bisa merawatnya. Nah itu seninya,” ujar pria yang mulai belajar teknik menanam bonsai sejak 2010.
Dalam lima tahun terakhir, peminat bonsai katanya terus melonjak, terutama selama pandemi Covid karena banyak orang mencari kegiatan di rumah akibat adanya pembatasan aktivitas. Sejak saat itu, pasarnya kian ramai dengan harga jual yang cukup menjanjikan, sekalipun kondisi ekonomi negara kurang baik.
Seiring waktu, peminat bonsai datang dari kalangan anak muda, tidak lagi dikenal sebagai hobi para orang tua saja. Fatah lantas fokus menyasar pasar pemula yang didominasi anak muda ini. Alasannya, dia ingin menjaring para penggemar baru dan mengembangkan potensi dari bonsai itu sendiri di Tanah Air.
Tidak dipungkiri, pecinta bonsai aktif di Indonesia menurutnya baru ratusan ribu saja. Oleh karena itu, dia menargetkan masyarakat secara luas dengan mengenalkan seni tanaman ini ke orang awam di media sosial. “Target saya itu semua orang, satu rumah, punya satu bonsai,” ujarnya.
Dia menilai dengan semakin banyaknya pecinta bonsai, ekosistem bisnis tanaman ini dari hulu ke hilir tetap terjaga, mulai dari petani, pembudidaya, trainer, pengrajin pot, hingga jasa pengantaran. “Ini yang kita mau kembangkan di ekonomi kreatif Indonesia lewat bonsai,” tegas dokter yang memberanikan diri berjualan bonsai sejak 2018 itu.
Fatah menerangkan, berdasarkan beberapa penelitian, merawat bonsai dapat meningkatkan hormon endorfin dan menurunkan hormon kortisol. Hormon bahagia yang diciptakan menurutnya bisa menurunkan kadar stres sehingga risiko penyakit bisa dicegah.
Oleh karena itu, Fatah turut menyediakan bonsai dengan harga ramah kantong, mulai dari Rp200.000, selain tersedia puluhan hingga ratusan juta. Dia ingin bonsai bisa menjadi alternatif untuk menciptakan masayarakat yang lebih sehat.
Siapa sangka, dari niat sekadar coba-coba menjual hingga menjadi influencer untuk mengenalkan bonsai, kini Fatah memiliki kebun budidaya bonsai dan menjualnya ke sejumlah daerah. Fatah merasa terbantu dengan adanya media sosial, sebab dia melakukan pemasaran secara daring dan menjangkau pasar lebih luas, khususnya untuk para pemula.
Algoritma media sosial seperti TikTok, menurutnya cukup efektif untuk para penjual menemukan penggemar hingga pembeli baru. Sementara Facebook, lebih menjaring para kolektor karena di platform tersebut banyak akun komunitas bonsai. Fatah mengungkapkan pemasaran menggunakan media sosial dapat meningkatkan penjualan berkali-kali lipat dibandingkan cara konvensional.
Olah karena menjangkau pasar lebih luas, Fatah bisa menjual bonsainya ke seluruh Indonesia. Sejauh ini, pembelinya masih di dominasi dari wilayah Jakarta. Namun, tidak sedikit pula pembeli dari daerah berminat dengan tanaman yang dibudidayakannya.
“Sangat-sangat mungkin sesekali omzetnya bisa ratusan juta,” sebut pria yang mengatakan pekerjaan utamanya adalah pedagang bonsai, sementara dokter hanya bagian dari hobi dan prinsip membantu sesama itu.
Ke depannya, Fatah mengaku ingin mendalami pasar ekspor. Saat ini dia masih belum mampu melakukannya karena persiapannya terbilang harus matang lantaran banyaknya regulasi yang wajib dipenuhi. Belum lagi harus menjaga kondisi bonsai saat pengiriman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
M Fatah Anugerah, salah seorang pegiat bonsai di Indonesia sesekali mendapatkan omzet ratusan juta dari hasil jualan tanaman berseni ini. “Sangat-sangat mungkin sekali omzetnya bisa ratusan juta,” ujarnya saat berbincang dengan Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Hobi Sekaligus Bangun Komunitas Ala Penggemar Bonsai
Di halaman Instagram miliknya, @drfatahbonsai, masih terpajang bonsai Sianci yang meraih prestasi pada festival bonsai nasional di Jawa Timur. Tertulis di sana harga satu pohon bonsai dengan tinggi kira-kira 1 meter itu bernilai ratusan juta rupiah, walau tidak disebutkan angka pastinya.
Nilai jual bonsai menurutnya tidak pernah turun dan sepi peminat. Bonsai katanya merupakan seni hidup selama berpuluh hingga ratusan tahun. “Bentuknya akan selalu makin bagus, makin mahal, kalau kita bisa merawatnya. Nah itu seninya,” ujar pria yang mulai belajar teknik menanam bonsai sejak 2010.
Dalam lima tahun terakhir, peminat bonsai katanya terus melonjak, terutama selama pandemi Covid karena banyak orang mencari kegiatan di rumah akibat adanya pembatasan aktivitas. Sejak saat itu, pasarnya kian ramai dengan harga jual yang cukup menjanjikan, sekalipun kondisi ekonomi negara kurang baik.
Seiring waktu, peminat bonsai datang dari kalangan anak muda, tidak lagi dikenal sebagai hobi para orang tua saja. Fatah lantas fokus menyasar pasar pemula yang didominasi anak muda ini. Alasannya, dia ingin menjaring para penggemar baru dan mengembangkan potensi dari bonsai itu sendiri di Tanah Air.
Tidak dipungkiri, pecinta bonsai aktif di Indonesia menurutnya baru ratusan ribu saja. Oleh karena itu, dia menargetkan masyarakat secara luas dengan mengenalkan seni tanaman ini ke orang awam di media sosial. “Target saya itu semua orang, satu rumah, punya satu bonsai,” ujarnya.
Dia menilai dengan semakin banyaknya pecinta bonsai, ekosistem bisnis tanaman ini dari hulu ke hilir tetap terjaga, mulai dari petani, pembudidaya, trainer, pengrajin pot, hingga jasa pengantaran. “Ini yang kita mau kembangkan di ekonomi kreatif Indonesia lewat bonsai,” tegas dokter yang memberanikan diri berjualan bonsai sejak 2018 itu.
Fatah menerangkan, berdasarkan beberapa penelitian, merawat bonsai dapat meningkatkan hormon endorfin dan menurunkan hormon kortisol. Hormon bahagia yang diciptakan menurutnya bisa menurunkan kadar stres sehingga risiko penyakit bisa dicegah.
Oleh karena itu, Fatah turut menyediakan bonsai dengan harga ramah kantong, mulai dari Rp200.000, selain tersedia puluhan hingga ratusan juta. Dia ingin bonsai bisa menjadi alternatif untuk menciptakan masayarakat yang lebih sehat.
Siapa sangka, dari niat sekadar coba-coba menjual hingga menjadi influencer untuk mengenalkan bonsai, kini Fatah memiliki kebun budidaya bonsai dan menjualnya ke sejumlah daerah. Fatah merasa terbantu dengan adanya media sosial, sebab dia melakukan pemasaran secara daring dan menjangkau pasar lebih luas, khususnya untuk para pemula.
Algoritma media sosial seperti TikTok, menurutnya cukup efektif untuk para penjual menemukan penggemar hingga pembeli baru. Sementara Facebook, lebih menjaring para kolektor karena di platform tersebut banyak akun komunitas bonsai. Fatah mengungkapkan pemasaran menggunakan media sosial dapat meningkatkan penjualan berkali-kali lipat dibandingkan cara konvensional.
Olah karena menjangkau pasar lebih luas, Fatah bisa menjual bonsainya ke seluruh Indonesia. Sejauh ini, pembelinya masih di dominasi dari wilayah Jakarta. Namun, tidak sedikit pula pembeli dari daerah berminat dengan tanaman yang dibudidayakannya.
“Sangat-sangat mungkin sesekali omzetnya bisa ratusan juta,” sebut pria yang mengatakan pekerjaan utamanya adalah pedagang bonsai, sementara dokter hanya bagian dari hobi dan prinsip membantu sesama itu.
Ke depannya, Fatah mengaku ingin mendalami pasar ekspor. Saat ini dia masih belum mampu melakukannya karena persiapannya terbilang harus matang lantaran banyaknya regulasi yang wajib dipenuhi. Belum lagi harus menjaga kondisi bonsai saat pengiriman.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.