Suasana pelaksanaan UTBK-SNBT. (Sumber gambar: Politeknik Negeri Ketapang)

Sederet Kecurangan di UTBK-SNBT 2025, Curi Soal Ujian hingga Pakai Joki

05 May 2025   |   18:57 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Hari ini, Senin (5/5/2025), menjadi hari terakhir pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Sayangnya, pelaksanaan UTBK-SNBT tahun ini dibayangi sejumlah dugaan kecurangan yang beragam yang mencederai proses seleksi nasional dan merugikan banyak pihak.

Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mencatat per 29 April 2025, ada sebanyak 13 pusat UTBK yang terlibat dalam praktik kecurangan UTBK-SNBT 2025. Sementara itu, tercatat ada 50 peserta dan sekitar 10 joki yang terlibat dalam melakukan kecurangan.

Baca juga: Hypereport: Tantangan Menjaga Kualitas Pendidikan di Era Serba Instan

Salah satu kecurangan yang cukup disorot dan menjadi perbincangan di media sosial ialah adanya dugaan soal UTBK-SNBT 2025 yang tersebar atau bocor. Namun, panitia SNPMB memastikan bahwa kasus tersebut bukan merupakan kebocoran soal yang berasal dari kelalaian internal.

Hal tersebut terjadi lantaran adanya praktik kecurangan oknum peserta yang merekam soal di sesi pertama hari pertama UTBK dengan menggunakan alat bantu elektronik.

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Eduart Wolok memastikan paket soal UTBK yang diujiankan tahun ini tidak mungkin bocor, lantaran jumlah set soal yang disiapkan melebihi dari jumlah sesi yang diujikan.

"Jadi kalau ada 23 sesi ujian, itu soal yang kami siapkan adalah 23 set plus cadangan yang dibutuhkan. Dan itu terus terang kami menyimpannya tidak terkoneksi dengan internet. Jadi kalau ada yang mengatakan akan mengakses bocoran soal, itu tidak mungkin dan kami memiliki integritas untuk itu," katanya dalam acara konferensi pers di Jakarta.

Eduart menjelaskan soal UTBK-SNBT yang bocor tahun ini merupakan kecurangan oknum peserta yang mengambil soal dengan berbagai cara, mulai dari memfoto layar PC peserta dengan perangkat yang disembunyikan, merekam (record) desktop PC peserta dengan memasang aplikasi record, hingga remote desktop PC peserta dengan aplikasi remote, sebagai proxy agar bisa komunikasi ke jaringan luar.

Meski sebelum memasuki ruang ujian setiap peserta di-scan menggunakan metal detector, oknum peserta tetap membawa alat tertentu yang berhasil tidak terdeteksi untuk melakukan kecurangan dalam mengambil soal.

Panitia menemukan sejumlah peserta yang membawa alat bantu kecurangan berupa kamera yang dipasang pada behel gigi, kuku, ikat pinggang dan kancing yang tidak terdeteksi menggunakan metal detector. Tindakan tersebut bertujuan untuk memperoleh soal secara tidak sah yang jelas bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 

"Tapi melalui pengawasan yang ketat, kita bisa melihat keanehan dan kecurigaan, itu setelah kita cek dan tindak lanjuti memang ada kecurangan-kecurangan yang dilakukan. Misalnya berusaha memasang handphone di bagian tubuh yang tidak terlihat, ditutupi dan sebagainya, dan itu bisa ditemukan," paparnya.

Eduart menyampaikan terkait kecurangan dalam mengambil soal, diduga dilakukan dengan keterlibatan pihak internal dari penyelenggara di lokasi UTBK yang bersangkutan. "Saat ini sudah kita dapati namanya dan sudah kita lakukan tindakan lebih lanjut," imbuhnya.


Menggunakan Joki untuk Mengerjakan Ujian

Praktik kecurangan lainnya yang ditemukan oleh panitia SNPMB ialah menggantikan peserta mengerjakan ujian di dalam ruang ujian alias menggunakan joki. Ada dua modus joki yang digunakan. Pertama, mengganti foto peserta dengan foto pelaku joki saat membuat akun SNPMB. Kedua, memalsukan dokumen seperti KTP, copy ijazah, dan Surat Keterangan Kelas 12.

"Jadi untuk kecurangan ini, peserta yang sebenarnya tidak ada di ruang ujian. Yang masuk dalam ruangan adalah jokinya dan ini sudah kita temukan," kata Eduart.

Selain modus tersebut, ditemukan juga kecurangan penggunaan joki dengan cara memberikan jawaban ke peserta yang sedang berada di ruang ujian. Hal ini dilakukan dengan memasang alat di badan peserta ujian sebagai receiver juga transmitter untuk komunikasi transfer jawaban. "Jadi si peserta ini tetap mengoperasikan PC-nya dengan jawaban yang dikirim dari luar," kata Eduart.

Modus lainnya yakni melakukan remote PC peserta dari luar dan mengendalikan sekaligus menjawab ujiannya. Kecurangan lainnya termasuk mengambil alih akses perangkat jaringan untuk melakukan setting tertentu pada perangkat tersebut.  "Jadi pesertanya enggak ngapa-ngapain, karena berusaha komputernya yang di-hack dan dioperasikan dari luar," terangnya.

Eduart juga menyampaikan bahwa praktik kecurangan yang terjadi dalam UTBK tahun ini melibatkan jaringan perjokian lintas provinsi, salah satu lembaga bimbingan belajar (LBB) di Yogyakarta yang memobilisasi peserta, pihak internasl di lokasi pusat UTBK, lokasi kecurangan di pusat UTBK lain dari asal daerah peserta, serta mayoritas pilihan prodinya ialah Fakultas Kedokteran.

Dia menambahkan bahwa sejumlah permasalahan yang ditemukan oleh panitia SNPMB dalam proses pelaksanaan UTBK tahun ini bukan lagi dikategorikan hanya sebagai  kecurangan, melainkan disinyalir merupakan tindakan kriminal yang terorganisir.

"Tetapi yang berhak untuk menentukan dan memutuskan itu adalah aparat yang berwajib. Meskipun di beberapa pusat UTBK yang terjadi kecurangan tadi dan sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib, memang penanganan masalahnya sudah ke arah sana," imbuh Eduart.

Sebagai tambahan informasi, UTBK-SNBT merupakan ujian seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (PTN) yang diselenggarakan menggunakan komputer di lokasi-lokasi tertentu yang telah ditentukan oleh panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB). 

Berbeda dengan SNBP atau SNMPTN, seleksi UTBK-SNBT dilakukan berdasarkan nilai tes dan bukan berdasarkan prestasi atau nilai rapor dari semester 1-5 siswa SMA/SMK/MA Sederajat. Jadi, para siswa kelas 12 yang belum lolos masuk PTN melalui SNBP ataupun lulusan gap year (lulusan 2023/2024), bisa masuk ke perguruan tinggi impian mereka melalui jalur seleksi ini. 

Dalam UTBK, setiap peserta diharuskan mengerjakan soal dengan materi tes berupa tes potensi skolastik (TPS) yang mencakup penalaran umum, pengetahuan dan pemahaman umum, pemahaman bacaan dan menulis, dan pengetahuan kuantitatif, serta tes literasi yang mencakup literasi dalam bahasa Indonesia, literasi dalam bahasa Inggris, dan penalaran matematika.

Baca juga: Duh, Ternyata 45% Mahasiswa di Indonesia Memanipulasi Data Skripsi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Syarat & Ketentuan untuk Menukarkan Railpoin dengan Tiket Kereta Lewat Fitur Flexy Poin

BERIKUTNYA

Kisah Sukses BIsnis Skincare Anak Expert Care, dari Kebutuhan Klinik ke Produk Konsumen

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga