Ilustrasi endometriosis (Sumber gambar: Freepik)

Banyak Kasus Endometriosis Terlambat Ditangani, Waspadai Gejalanya Sejak Awal

30 April 2025   |   19:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Endometriosis merupakan kondisi kesehatan reproduksi yang sering luput dari perhatian. Kondisi ini terjadi ketika jaringan mirip lapisan rahim tumbuh di luar rahim, dan meski terdengar sepele bagi sebagian orang, dampaknya bisa besar, mulai dari gangguan sistem reproduksi, penurunan kesehatan mental, hingga menurunnya kualitas hidup.

Sayangnya, pembahasan seputar kesehatan reproduksi, termasuk endometriosis, masih dianggap tabu di banyak lingkungan. Ketabuan inilah yang menjadi penghambat utama dalam penanganan dini, membuat banyak perempuan menunda pemeriksaan atau bahkan tidak menyadari bahwa gejala yang mereka alami sebenarnya bisa ditangani dengan tepat jika diketahui lebih awal.
 
Misalnya saja, Founder Komunitas Endometriosis Indonesia Wenny Aurelia mengatakan, banyak perempuan yang masih menganggap nyeri saat haid sebagai hal yang wajar. Padahal bisa jadi itu merupakan gejala endometriosis.

Baca juga: Hypeprofil Aktivis Wenny Aurelia: Menciptakan Ruang Aman Bagi Pejuang Endometriosis

“Kadang denial, tidak mau terima bahwa kalau saya sakit haid. Anggapannya mungkin karena saya kecapekan, karena saya makan yang tidak bagus, tidur yang tidak cukup,” ujar Wenny. Dia menekankan pentingnya perempuan mengenali gejala sejak dini dan tidak mengabaikan tanda-tanda gangguan siklus menstruasi.
 
Endometriosis sendiri  bisa mengganggu 3 fungsi utama perempuan, mulai dari fungsi seksual, fungsi menstruasi, dan fungsi reproduksi. Banyak perempuan yang bahkan baru mengetahui dirinya mengidap endometriosis setelah bertahun-tahun menikah tetapi belum juga berhasil memiliki anak. Sayangnya, saat mereka memeriksakan diri, kondisi endometriosisnya sudah terlanjur parah.
 
Wenny mengatakan bahwa banyak perempuan terlambat mendapatkan diagnosis karena kurangnya pengetahuan dan informasi yang akurat mengenai penyakit ini. Tak jarang, mereka lebih dulu mempercayai informasi dari internet atau media sosial yang justru menyesatkan.
 
Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa penanganan endometriosis memerlukan komitmen jangka panjang. Ini bukan kondisi yang bisa sembuh dengan cepat, karena berkaitan dengan siklus hormonal bulanan yang terus berlangsung.

"Kalau tidak ditangani dari awal, maka akan semakin sulit sembuh. Jadi perlu komitmen jangka panjang,” kata Wenny.
 
Komunitas Endometriosis Indonesia hadir sebagai wadah untuk saling berbagi informasi, dukungan, dan edukasi yang benar mengenai kondisi ini. Karena pada akhirnya, kesadaran dan deteksi dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih serius di masa depan.
 
Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan mirip endometrium, lapisan dalam rahim yang luruh saat menstruasi, tumbuh di luar rahim. Jaringan ini bisa ditemukan di ovarium, tuba falopi, usus, bahkan kandung kemih. Setiap kali siklus menstruasi terjadi, jaringan ini akan ikut berdarah tetapi tidak bisa keluar dari tubuh, sehingga menimbulkan peradangan, nyeri hebat, perlengketan organ, dan berisiko menyebabkan infertilitas.
 
Menurut data WHO (2022), 1 dari 10 perempuan usia reproduksi berisiko mengalami endometriosis. Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Boy Abidin menjelaskan, banyak kasus baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun perempuan menderita dalam diam.
 
Boy mengatakan, keterlambatan diagnosis ini sering kali disebabkan oleh minimnya kesadaran dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Nyeri hebat saat menstruasi, nyeri saat berhubungan seksual, gangguan pencernaan seperti sembelit dan diare, kelelahan kronis, hingga kesulitan hamil adalah gejala umum endometriosis. Tapi, tak sedikit perempuan yang menormalisasi semua itu sebagai bagian dari siklus haid biasa.

“Normalisasi terhadap kondisi yang sebetulnya tidak normal merupakan sebuah stigma yang harus diluruskan,” ujar Boy.
 
Menurutnya, keterbukaan terhadap informasi dan akses yang mudah dipahami sangat krusial agar perempuan tidak lagi merasa tabu atau malu membicarakan isu kesehatan reproduksi. “Akses terhadap informasi tentang kesehatan reproduksi perempuan yang akurat dan mudah dipahami harus terus ditingkatkan,” kata Boy.
 
Dia menekankan bahwa edukasi tentang apa yang normal dan tidak dalam siklus haid sangat penting. Siklus haid rata-rata berlangsung selama 28 hari, tetapi variasi antara 21 hingga 35 hari masih dianggap normal. Volume darah menstruasi juga memiliki batas, yakni tidak lebih dari 80 cc per hari. Jika siklus atau volume darah jauh di luar batas itu, sudah sepatutnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
 
Diagnosis endometriosis umumnya dimulai dari identifikasi gejala dan pemeriksaan USG. Namun untuk konfirmasinya, diperlukan prosedur laparoskopi atau tindakan bedah minimal invasif yang memungkinkan dokter melihat langsung jaringan endometriosis di dalam tubuh.
 
Terkait penanganan, menurut Boy, ada beberapa pilihan tergantung tingkat keparahan dan keinginan pasien terkait kesuburan. Terapi bisa berupa pemberian hormon, operasi pengangkatan jaringan, atau perubahan gaya hidup seperti pengaturan pola makan dan olahraga teratur.

Baca juga: Kenali Gejala & Penanganan Tepat Endometriosis, Terjadi Pada 10% Perempuan Usia Produktif

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Kemenkes Luncurkan Rencana Aksi Nasional Guna Eliminasi Kanker Serviks

BERIKUTNYA

Bocoran Spesifikasi TV Xiaomi A Pro Series 2026, Meluncur 5 Mei 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga