Tradisi pengolahan pala di Fakfak (Sumber Foto: contentro)

Cerita Mama Siti dan 118 Perempuan Adat Fakfak Lakukan Tradisi Pengolahan Pala

23 April 2025   |   15:00 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Jauh di balik hutan lebat Papua Barat, lebih dari 100 perempuan adat asal Fakfak, Papua Barat mengubah buah pala yang merupakan warisan leluhur mereka menjadi komoditas bernilai tinggi. Buah pala tersebut kini tengah dikembangkan menjadi prototipe parfum yang dilirik oleh merek mewah dunia seperti Chanel dan Hermes.

Dipimpin oleh Mama Siti, para petani perempuan asal Fakfak mempertahankan tradisi, memperjuangkan kelestarian hutan dan meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka melalui inovasi berkelanjutan.

Baca juga: Intip 6 Fakta Menarik tentang Rempah Pala dari Papua

“Pohon pala di hutan desa dusun pala, Desa Pangwadar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat rata-rata sudah banyak, jadi tugas laki-laki biasanya hanya memanjat pohon untuk mengambil buah yang sudah matang," kata Mama Siti, dikutip dari keterangan resminya, Rabu (23/4/2025).

Mama Siti adalah petani pala sekaligus dewan pengawas anggota koperasi yang dipimpin oleh perempuan adat di Papua Barat. Perempuan berusia 52 tahun tersebut menjadi teladan dalam menerapkan keterampilan dan ketelatenan serta memimpin para petani perempuan dalam mengolah pala menjadi produk siap jual.

Sejauh ini sudah ada 118 perempuan adat yang mengolah pala, mulai dari membersihkan buah pala, memisahkan daging dan bijinya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari.

Bagi masyarakat adat Papua Barat, pohon pala melambangkan kehidupan itu sendiri. Mereka menganggapnya sebagai penjelmaan perempuan. Pohon pala memainkan peran penting dalam menopang masyarakat, karenanya menebang pohon-pohon ini menjadi hal yang tabu dan dilarang keras.

Rasa hormat yang mendalam terhadap pohon pala telah melahirkan tradisi unik. Dua bulan sebelum musim panen, masyarakat adat akan duduk bersama dan berdiskusi atau dalam bahasa lokalnya dikenal dengan wewowo.
 

Mama Siti, perempuan adat asal Fakfak (Sumber Foto: contentro)

Mama Siti, perempuan adat asal Fakfak (Sumber Foto: contentro)


Selama waktu ini, orang-orang melakukan tradisi kera-kera untuk mengatur kapan dan bagaimana pala dapat dipanen. Mereka secara simbolis memasangkan kain pada pohon pala sebagai tanda. Dengan demikian pala tidak akan dipanen sebelum waktunya. Ini bertujuan agar pohonnya bisa tetap produktif dan menghasilkan buah berkualitas tinggi. 

Sayangnya, harga jual pala yang rendah dan siklus panen yang hanya dua kali setahun membuat para petani kesulitan secara ekonomi. Banyak di antara mereka yang hanya memiliki pekerjaan musiman dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

“Harga pala seringkali fluktuatif dan tidak menentu tergantung musim. Ketika harga turun, pendapatan dari pala hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat musim panen berakhir, banyak dari kami terpaksa harus beralih profesi untuk menunjang kebutuhan keluarga masing-masing.” tambah Mama Siti.

Pohon pala Tomandin bukan sekadar pohon bagi masyarakat setempat. Ini adalah warisan dari nenek moyang yang hidup dari generasi ke generasi untuk memberikan kehidupan. 
 

Inisiatif Wewowo Lestari untuk Pengolahan Pala 

Di tengah tantangan tersebut, muncul sebuah inisiatif bernama Wewowo Lestari yang digagas oleh Kaleka. Program ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah pala Papua, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, perempuan petani diajarkan teknik pengolahan pala yang lebih baik.

Asisten Badan Eksekutif Kaleka, Venticia Hukom mengungkapkan, Kaleka berupaya memberdayakan para petani dengan memberikan edukasi dan pelatihan dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas panen secara efisien. 

"Hal ini dilakukan dengan menerapkan SOP yang baik dalam setiap tahap produksi, mulai dari pengumpulan buah hingga pengeringan pala menggunakan solar dryer, yang pada akhirnya berhasil meningkatkan 13-40% pendapatan penjualan pala,” katanya.

Peran Kaleka tidak hanya berhenti pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga berupaya membuka pasar yang lebih luas. Pihaknya secara aktif bekerja sama dengan laboratorium Association Francaise des Dieteticiens Nutritionnistes (AFDN) asal Prancis untuk melakukan riset lanjutan terhadap hasil olah pala dalam mengembangkan prototipe produk parfum yang akan diajukan kepada perusahaan-perusahaan ternama di dunia parfum, seperti Hermes dan Chanel. 

"Orang biasanya menghiraukan pala Papua karena oil extraction rate yang sangat rendah, namun penelitian secara berkala berhasil membuahkan hasil dalam meningkatkan oil extraction rate pala Papua yang tadinya 1 persen menjadi 3,5 persen sehingga bisa dikembangkan menjadi produk turunan lain seperti parfum dan kosmetik," jelas Venticia.
 

Produk Olahan Pala (Sumber Foto: contentro)

Produk Olahan Pala (Sumber Foto: contentro)


Keberhasilan dari penemuan penelitian lanjut tersebut membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, pala Papua memiliki potensi yang sangat besar untuk bersaing di pasar internasional. 

Inisiatif Wewowo Lestari juga berdampak pada peningkatan pendapatan petani, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan. Melalui Koperasi Mery Tora Qpohi, badan usaha yang didirikan dari dan untuk petani pala, petani mendapatkan tambahan pendapatan sebesar 11-40 persen sesuai dengan jenis dan kualitas pala dijualbelikan. Jumlah ini lebih tinggi dibanding pendapatan yang didapatkan petani jika menjual pala ke pengepul atau tengkulak lokal. 

Kabupaten Fakfak di Papua Barat adalah rumah bagi 908.850 hektar hutan di mana sekitar 26.927 masyarakat adat bergantung pada 56 pohon pala per hektar hutan untuk mata pencaharian mereka. Pala bukan sekadar komoditas, bagi masyarakat adat, pala adalah kehidupan.

“Dengan menerapkan kearifan lokal dalam pengolahan pala secara berkelanjutan, kami dapat mempertahankan mata pencaharian yang stabil tanpa harus mengorbankan lingkungan dan memberikan insentif bagi kami untuk senantiasa menjaga kelestarian hutan, sehingga tidak bergantung pada industri ekstraktif yang merusak hutan,” kata Mama Siti.

Pemanfaatan seluruh bagian pala, termasuk kulit dan biji, juga menghasilkan produk turunan makanan dan minuman yang baru seperti sirup, manisan untuk supermarket dan kafe di Fakfak sampai produk kosmetik seperti minyak atsiri. Hal ini semakin meningkatkan nilai ekonomis komoditas ini.

“Kami terus berupaya memanfaatkan semua bagian dari pala untuk meminimalisir sampah dari penggunaannya yang biasa menumpuk saat difungsikan menjadi bahan masak," lanjut Mama Siti.

Saat ini, perempuan adat Fakfak sudah menjual kurang lebih 500 botol sari buah yang berbahan dasar daging buah pala yang selama ini hanya ditinggalkan di bawah pohon pala sampai membusuk.

Keberhasilan inisiatif Wewowo Lestari memberikan harapan baru bagi petani pala di Papua. Melalui pendekatan ekonomi restoratif, Wewowo Lestari mendorong pembelajaran bersama berlandaskan bukti yang diharapkan dapat mendorong advokasi perubahan kebijakan pengelolaan lingkungan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis komunitas, program ini menjaga tradisi dan kekayaan alam Papua sebagai pondasi ekonomi lokal. 

Venticia menambahkan, dalam lima tahun ke depan, dia membayangkan sebuah usaha sosial fungsional yang dipimpin oleh masyarakat adat yang dapat menjual pala mereka dengan nilai tinggi, seperti halnya komoditas berkelanjutan lainnya yang diproduksi di Papua Barat seperti rumput laut, kepiting, dan nilam, yang dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat adat. 

Selanjutnya dalam sepuluh tahun ke depan, Kaleka menargetkan hutan adat untuk mendapatkan pengakuan di tingkat nasional, dan beberapa kebijakan dalam perlindungan hutan dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia. 

"Dalam lima belas tahun, kita akan melihat industri klaster parfum, minyak atsiri, dan produk perikanan di Fakfak, Papua Barat,” kata Venticia.

Baca juga: Potensi Ekspor ke Pasar Asia Tenggara Menggiurkan, Skincare hingga Kopi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Sinopsis Eddington, Film Terbaru Sutradara Ari Aster

BERIKUTNYA

Cek Deretan Fitur Edits, Aplikasi Editing Terbaru dari Meta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga