Asal-Usul Telur Identik dengan Perayaan Paskah & Makna dari Warna-Warnanya
20 April 2025 |
08:55 WIB
Paskah merupakan perayaan penting bagi umat Kristiani di seluruh dunia untuk memperingati kebangkitan Yesus Kristus pada hari ketiga setelah penyaliban-Nya. Tidak hanya dirayakan dengan beribadah di gereja dan berkumpul bersama keluarga, Hari Paskah juga diwarnai dengan pernak-pernik unik salah satunya telur.
Biasanya, telur dihias dengan berbagai macam warna yang indah dan menarik saat perayaan Paskah. Di berbagai negara, kegiatan berburu telur Paskah bahkan menjadi acara keluarga yang dinanti-nantikan. Lantas, mengapa perayaan Paskah identik dengan telur?
Baca juga: Kumpulan Twibbon & Ucapan Paskah 2025 yang Menyentuh Hati
Dilansir dari Catholic Exchange, telur dipercaya melambangkan kehidupan dan kesuburan baru, layaknya burung bertelur yang menandakan kehidupan baru muncul saat musim semi tiba. Asal usul telur Paskah didasarkan pada pengetahuan tentang kesuburan ras Indo-Eropa.
Bagi para leluhur umat Kristiani, melihat makhluk hidup baru muncul dari benda yang tampaknya mati adalah peristiwa yang sangat mengejutkan. Bagi mereka, telur menjadi simbol musim semi.
Namun, seiring waktu, umat Kristiani mulai memandang telur Paskah sebagai simbol "makam kosong", tempat Yesus Kristus dibangkitkan. Telur sebagai simbol musim semi dan kehidupan baru, melambangkan kehidupan baru yang menang atas kematian atau bangkit dari "makam". Sama seperti pemahaman tentang kehidupan rohani yang baru.
Menurut beberapa catatan, merebus telur Paskah melambangkan perlindungan "makam", dan memecahkan telur rebus melambangkan kemenangan Kristus atas kematian dan kebangkitan-Nya dari makam. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa orang menyebut telur Paskah sebagai telur "kebangkitan".
Pada abad-abad yang lalu, umat Kristen tidak hanya berpuasa daging selama masa Prapaskah, tetapi mereka juga berpuasa mengonsumsi telur. Ketika Minggu Paskah tiba setelah berpuasa cukup lama, mereka menikmati makan daging dan telur.
Banyak yang merayakannya dengan mewarnai telur dengan pewarna makanan biasa, dan menghiasnya dengan desain dan simbol yang elegan. Menghias telur merupakan cara umat Kristen menandai berakhirnya masa Prapaskah dengan berpuasa, dengan perayaan dan keindahan.
Tradisi mewarnai telur juga dipercaya berasal dari kisah Kebangkitan Yesus Kristus itu sendiri. Konon, ketika Maria Magdalena mengunjungi makam Kristus pada pagi Paskah, dia membawa sekeranjang telur. Sesampainya di makam, telur-telur itu berubah menjadi merah.
Versi lain dari kisah ini menuliskan bahwa Maria Magdalena mendatangi kaisar di Roma dengan membawa telur di tangannya untuk mengumumkan Kebangkitan Tuhan, dengan menggunakan simbol kehidupan baru yang muncul dari telur yang tampaknya "mati".
Kaisar menolaknya dengan mengatakan bahwa Yesus tidak mungkin bangkit dari kematian, sama seperti telur di tangannya tidak mungkin berubah menjadi merah. Seketika, telur itu berubah menjadi merah, dan kaisar terkejut. Tradisi-tradisi ini menjelaskan mengapa ada ikon-ikon yang menggambarkan Maria Magdalena memegang telur merah.
Sementara itu, di ajaran Kristen Ortodoks, umat saling memberikan telur merah tua untuk menghormati darah Kristus. Di beberapa bagian Eropa Timur, telah menjadi tradisi untuk membuat desain rumit pada telur dengan lilin atau benang sebelum diwarnai yang disebut pysanki.
Telur-telur khusus tersebut disimpan dari tahun ke tahun seperti pusaka simbolis dan dapat dilihat secara musiman di toko-toko Ukraina. Sementara di Jerman dan negara-negara lain, telur-telur ditusuk dan dibuat berongga sehingga dapat digantung di semak-semak dan pohon-pohon selama Minggu Paskah, seperti hiasan di pohon Natal.
Telur Paskah biasanya hadir dengan berbagai warna, seperti ungu, merah muda, merah, hitam, putih, emas, dan hijau. Dikutip dari Southern Living, warna-warna tersebut telah ditetapkan sejak akhir tahun 1100-an oleh Paus Innocent III, untuk digunakan selama prosesi liturgi tertentu, salah satunya Paskah.
Setiap warna pun memiliki makna dan melambangkan peristiwa-peristiwa bersejarah dan penting dari ajaran Kristen. Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
1. Ungu
Warna ungu dikaitkan dengan Prapaskah, periode keagamaan puasa, penebusan dosa, sedekah, dan doa yang dimulai pada Rabu Abu dan berlangsung selama 40 hari menjelang Paskah, perayaan Kebangkitan Kristus.
Selama masa ini, para anggota pendeta mengenakan jubah ungu, begitupun altar, mimbar, dan mimbar dihiasi dengan kain ungu di gereja-gereja Kristen. Warna ungu dalam konteks ini berkaitan dengan makna penyesalan, kenangan, kebangsawanan, dan kekayaan spiritual.
2. Merah Muda
Penggunaan warna merah muda juga bersifat simbolis pada perayaan Paskah. Merah muda melambangkan awal baru yang penuh kegembiraan dan harapan yang penuh suka cita. Warna ini mengingatkan pada warna merah muda yang ditemukan di langit saat fajar pada hari baru.
3. Merah
Warna merah dipercaya melambangkan darah Yesus Kristus, yang dalam konteks Paskah, ditumpahkan demi kemanusiaan. Warna ini melambangkan cinta, penderitaan, dan pengorbanan tertinggi. Dalam tradisi Ortodoks Yunani, telur Paskah biasanya diwarnai merah.
Merah juga dikaitkan dengan Pekan Suci, hari-hari yang dimulai dengan Minggu Palma dan berakhir pada Minggu Paskah. Pekan Suci merefleksikan hari-hari menjelang kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus, dimulai dengan Minggu Palma, yang memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem.
Selain itu, merah juga merupakan warna Pentakosta, hari ke-50 dan terakhir dari masa Paskah. Merah melambangkan api Roh Kudus dan memperingati turunnya Roh Kudus atas para pengikut setelah Penyaliban, Kebangkitan, dan Kenaikan Yesus Kristus. Pada hari Minggu Pentakosta, yang dikenal sebagai hari ulang tahun gereja Kristen, gereja-gereja dihiasi dengan warna merah, yang juga dikenakan oleh pendeta dan kaum awam.
4. Hitam
Warna hitam digunakan sebagai simbol berkabung dan dikaitkan dengan puasa, belas kasihan, dan penebusan dosa, yang khususnya dilakukan selama masa Prapaskah. Tempat-tempat suci sering kali ditutupi dengan warna hitam pada Jumat Agung, hari muram yang menandai penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib.
Baca juga: 7 Tradisi Unik Paskah di Berbagai Negara, Spanyol sampai Jerman
5. Putih
Pada hari Paskah, warna putih melambangkan kemurnian, keanggunan, termasuk Kebangkitan Yesus Kristus yang merupakan puncak penuh sukacita dari musim Paskah.
Saat Paskah, biasanya hadir bunga lili berwarna putih dipajang di gereja-gereja dan rumah-rumah, melambangkan kemurnian Kristus dan mewakili terompet yang menyampaikan pesan bahwa Yesus telah bangkit. Putih juga dikaitkan dengan Kamis Putih, peringatan Perjamuan Terakhir yang terjadi sehari sebelum Jumat Agung.
6. Emas
Warna emas yang berkilauan melambangkan kemuliaan dan kemenangan, khususnya Kebangkitan Yesus dan kemenangan atas kematian, yang dirayakan selama musim Paskah. Emas sering digunakan dengan warna putih dalam kebaktian Paskah dan ditampilkan pada jubah dan dekorasi gereja.
7. Hijau
Hijau melambangkan pertumbuhan, simbolisme yang sangat tepat selama musim Paskah ketika tema pengorbanan, kebangkitan, dan awal yang baru berlimpah. Di gereja Kristen, hijau adalah warna yang digunakan selama Masa Biasa, yang jatuh di luar musim Advent hingga Epifani dan Prapaskah hingga Pentakosta. Periode ini berfokus pada peristiwa lain dalam kehidupan Kristus.
Menurut Konferensi Waligereja Katolik Amerika Serikat, Masa Biasa adalah periode yang berfokus pada pertumbuhan, pendewasaan, dan menghayati kehidupan Kristus.
Biasanya, telur dihias dengan berbagai macam warna yang indah dan menarik saat perayaan Paskah. Di berbagai negara, kegiatan berburu telur Paskah bahkan menjadi acara keluarga yang dinanti-nantikan. Lantas, mengapa perayaan Paskah identik dengan telur?
Baca juga: Kumpulan Twibbon & Ucapan Paskah 2025 yang Menyentuh Hati
Dilansir dari Catholic Exchange, telur dipercaya melambangkan kehidupan dan kesuburan baru, layaknya burung bertelur yang menandakan kehidupan baru muncul saat musim semi tiba. Asal usul telur Paskah didasarkan pada pengetahuan tentang kesuburan ras Indo-Eropa.
Bagi para leluhur umat Kristiani, melihat makhluk hidup baru muncul dari benda yang tampaknya mati adalah peristiwa yang sangat mengejutkan. Bagi mereka, telur menjadi simbol musim semi.
Namun, seiring waktu, umat Kristiani mulai memandang telur Paskah sebagai simbol "makam kosong", tempat Yesus Kristus dibangkitkan. Telur sebagai simbol musim semi dan kehidupan baru, melambangkan kehidupan baru yang menang atas kematian atau bangkit dari "makam". Sama seperti pemahaman tentang kehidupan rohani yang baru.
Menurut beberapa catatan, merebus telur Paskah melambangkan perlindungan "makam", dan memecahkan telur rebus melambangkan kemenangan Kristus atas kematian dan kebangkitan-Nya dari makam. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa orang menyebut telur Paskah sebagai telur "kebangkitan".
Sejarah Telur Identik dengan Paskah
Pada abad-abad yang lalu, umat Kristen tidak hanya berpuasa daging selama masa Prapaskah, tetapi mereka juga berpuasa mengonsumsi telur. Ketika Minggu Paskah tiba setelah berpuasa cukup lama, mereka menikmati makan daging dan telur.Banyak yang merayakannya dengan mewarnai telur dengan pewarna makanan biasa, dan menghiasnya dengan desain dan simbol yang elegan. Menghias telur merupakan cara umat Kristen menandai berakhirnya masa Prapaskah dengan berpuasa, dengan perayaan dan keindahan.
Tradisi mewarnai telur juga dipercaya berasal dari kisah Kebangkitan Yesus Kristus itu sendiri. Konon, ketika Maria Magdalena mengunjungi makam Kristus pada pagi Paskah, dia membawa sekeranjang telur. Sesampainya di makam, telur-telur itu berubah menjadi merah.
Versi lain dari kisah ini menuliskan bahwa Maria Magdalena mendatangi kaisar di Roma dengan membawa telur di tangannya untuk mengumumkan Kebangkitan Tuhan, dengan menggunakan simbol kehidupan baru yang muncul dari telur yang tampaknya "mati".
Kaisar menolaknya dengan mengatakan bahwa Yesus tidak mungkin bangkit dari kematian, sama seperti telur di tangannya tidak mungkin berubah menjadi merah. Seketika, telur itu berubah menjadi merah, dan kaisar terkejut. Tradisi-tradisi ini menjelaskan mengapa ada ikon-ikon yang menggambarkan Maria Magdalena memegang telur merah.
Sementara itu, di ajaran Kristen Ortodoks, umat saling memberikan telur merah tua untuk menghormati darah Kristus. Di beberapa bagian Eropa Timur, telah menjadi tradisi untuk membuat desain rumit pada telur dengan lilin atau benang sebelum diwarnai yang disebut pysanki.
Telur-telur khusus tersebut disimpan dari tahun ke tahun seperti pusaka simbolis dan dapat dilihat secara musiman di toko-toko Ukraina. Sementara di Jerman dan negara-negara lain, telur-telur ditusuk dan dibuat berongga sehingga dapat digantung di semak-semak dan pohon-pohon selama Minggu Paskah, seperti hiasan di pohon Natal.

Ilustrasi telur Paskah. (Sumber gambar: Dannyel Spasov/Unsplash)
Makna Warna-Warna pada Telur Paskah
Telur Paskah biasanya hadir dengan berbagai warna, seperti ungu, merah muda, merah, hitam, putih, emas, dan hijau. Dikutip dari Southern Living, warna-warna tersebut telah ditetapkan sejak akhir tahun 1100-an oleh Paus Innocent III, untuk digunakan selama prosesi liturgi tertentu, salah satunya Paskah. Setiap warna pun memiliki makna dan melambangkan peristiwa-peristiwa bersejarah dan penting dari ajaran Kristen. Berikut adalah penjelasan lengkapnya.
1. Ungu
Warna ungu dikaitkan dengan Prapaskah, periode keagamaan puasa, penebusan dosa, sedekah, dan doa yang dimulai pada Rabu Abu dan berlangsung selama 40 hari menjelang Paskah, perayaan Kebangkitan Kristus.
Selama masa ini, para anggota pendeta mengenakan jubah ungu, begitupun altar, mimbar, dan mimbar dihiasi dengan kain ungu di gereja-gereja Kristen. Warna ungu dalam konteks ini berkaitan dengan makna penyesalan, kenangan, kebangsawanan, dan kekayaan spiritual.
2. Merah Muda
Penggunaan warna merah muda juga bersifat simbolis pada perayaan Paskah. Merah muda melambangkan awal baru yang penuh kegembiraan dan harapan yang penuh suka cita. Warna ini mengingatkan pada warna merah muda yang ditemukan di langit saat fajar pada hari baru.
3. Merah
Warna merah dipercaya melambangkan darah Yesus Kristus, yang dalam konteks Paskah, ditumpahkan demi kemanusiaan. Warna ini melambangkan cinta, penderitaan, dan pengorbanan tertinggi. Dalam tradisi Ortodoks Yunani, telur Paskah biasanya diwarnai merah.
Merah juga dikaitkan dengan Pekan Suci, hari-hari yang dimulai dengan Minggu Palma dan berakhir pada Minggu Paskah. Pekan Suci merefleksikan hari-hari menjelang kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus, dimulai dengan Minggu Palma, yang memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem.
Selain itu, merah juga merupakan warna Pentakosta, hari ke-50 dan terakhir dari masa Paskah. Merah melambangkan api Roh Kudus dan memperingati turunnya Roh Kudus atas para pengikut setelah Penyaliban, Kebangkitan, dan Kenaikan Yesus Kristus. Pada hari Minggu Pentakosta, yang dikenal sebagai hari ulang tahun gereja Kristen, gereja-gereja dihiasi dengan warna merah, yang juga dikenakan oleh pendeta dan kaum awam.
4. Hitam
Warna hitam digunakan sebagai simbol berkabung dan dikaitkan dengan puasa, belas kasihan, dan penebusan dosa, yang khususnya dilakukan selama masa Prapaskah. Tempat-tempat suci sering kali ditutupi dengan warna hitam pada Jumat Agung, hari muram yang menandai penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib.
Baca juga: 7 Tradisi Unik Paskah di Berbagai Negara, Spanyol sampai Jerman
5. Putih
Pada hari Paskah, warna putih melambangkan kemurnian, keanggunan, termasuk Kebangkitan Yesus Kristus yang merupakan puncak penuh sukacita dari musim Paskah.
Saat Paskah, biasanya hadir bunga lili berwarna putih dipajang di gereja-gereja dan rumah-rumah, melambangkan kemurnian Kristus dan mewakili terompet yang menyampaikan pesan bahwa Yesus telah bangkit. Putih juga dikaitkan dengan Kamis Putih, peringatan Perjamuan Terakhir yang terjadi sehari sebelum Jumat Agung.
6. Emas
Warna emas yang berkilauan melambangkan kemuliaan dan kemenangan, khususnya Kebangkitan Yesus dan kemenangan atas kematian, yang dirayakan selama musim Paskah. Emas sering digunakan dengan warna putih dalam kebaktian Paskah dan ditampilkan pada jubah dan dekorasi gereja.
7. Hijau
Hijau melambangkan pertumbuhan, simbolisme yang sangat tepat selama musim Paskah ketika tema pengorbanan, kebangkitan, dan awal yang baru berlimpah. Di gereja Kristen, hijau adalah warna yang digunakan selama Masa Biasa, yang jatuh di luar musim Advent hingga Epifani dan Prapaskah hingga Pentakosta. Periode ini berfokus pada peristiwa lain dalam kehidupan Kristus.
Menurut Konferensi Waligereja Katolik Amerika Serikat, Masa Biasa adalah periode yang berfokus pada pertumbuhan, pendewasaan, dan menghayati kehidupan Kristus.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.