Fujifilm Luncurkan Artbook Instaxnesia, Potret 35 Seniman Berkarya Pakai Instax
18 April 2025 |
08:30 WIB
Fujifilm Indonesia bekerja sama dengan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan Pear Press menerbitkan artbook berjudul Instaxnesia: A Nation of Creative Expression. Buku ini merupakan hasil kolektif dari kolaborasi antara medium fotografi instan (instax) dan 35 kreator seni lintas bidang dari berbagai penjuru Indonesia.
Buku Instaxnesia: A Nation of Creative Expression merupakan proyek perdana Fujifilm Corporation dalam ranah seni buku. Dengan sampul memikat berwarna merah muda dan biru, buku setebal 200 halaman ini menjadi bentuk penghormatan terhadap semangat kolaborasi seni lintas bidang.
Baca juga: Merawat Ingatan & Sejarah Melalui Arsip Buku Fotografi
Baca juga: Merawat Ingatan & Sejarah Melalui Arsip Buku Fotografi
Melibatkan 35 kreator dari berbagai daerah di Indonesia, karya-karya yang ditampilkan dalam buku ini terbagi ke dalam empat kategori utama. Pertama, Pekerja Visual, yang menampilkan karya dari seniman seperti Wastana Haikal, Karin Josephine, Hana Madness, dan lainnya. Kedua, kategori Karangan dan Pertunjukan yang diwakili oleh kreator seperti Lala Bohang, Miyu, dan Gina S. Noer.
Ketiga, kategori bidang Bebunyian dan Musik, yang menghadirkan kontribusi dari Ifa Fachir, Suneater, Laze, dan sejumlah musisi lainnya. Adapun, kategori keempat yakni Platform dan Kolektif, yang menampilkan karya dari nama-nama seperti TacTic Plastic, Grafis Nusantara, Special Hub Indo, serta berbagai kolektif kreatif lainnya yang turut meramaikan isi buku ini.
Koleksi foto dalam buku Instaxnesia menangkap beragam cerita kreatif dari para kreator Indonesia, menggunakan keajaiban kamera instan yang mampu mengabadikan momen dengan cepat. Tak hanya itu, di dalamnya pun terdapat upaya eksperimen untuk mengeksplorasi pesona kreatif Indonesia yang unik melalui fotografi instan.

Acara peluncuran buku Instaxnesia: A Nation of Creative Expression di Anthem Jakarta, Kamis (17/4/2025). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
General Manager Pear Press Namira Daufina menjelaskan proyek buku Instaxnesia digarap sejak tahun 2023. Kala itu, Fujifilm Indonesia mengajak kerja sama Pear Press untuk membuat buku tentang Instax yang melibatkan pelaku dan komunitas seni kreatif di Tanah Air. Agar distribusinya semakin luas, Pear Press pun akhirnya bekerja sama dengan KPG sebagai salah satu penerbit mayor di Indonesia.
Sementara itu, dalam memilih para kreator dan seniman yang terlibat dalam buku Instaxnesia, ada beberapa kriteria yang diajukan seperti memiliki prestasi baik di tingkat nasional ataupun internasional, mewakili suatu komunitas atau gerakan, hingga punya semangat inklusivitas.
"Waktu itu kita godok konsepnya dan segala macem, kita kasih beberapa list nama kolaborator. Kita rasa akan lebih baik kalau misalnya buku ini datang dari karya-karya dari kolaboratornya. Jadi bukan sudut pandang Instax gitu, tapi orang lain yang menggunakan Instax," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, Kamis (17/4/2025).
Nami menuturkan berbeda dari artbook lainnya, Instaxnesia merupakan hasil kolektif banyak seniman dan komunitas lintas bidang seni, sehingga menawarkan perspektif yang beragam untuk pembaca.
"Biasanya kan artbook dari satu perspektif misalnya artisnya atau kuratornya gitu. Jadi sebenarnya buku ini menampilkan sebuah medium berkarya yang dilakukan bersama-sama. Makanya kita juga enggak melimitasi. Sebenarnya masing-masing submission kolaborator itu adalah artbook-nya sendiri, jadi kita tidak menghilangkan apa yang mereka mau coba sampaikan," jelasnya.
Adapun, judul Instaxnesia: A Nation of Creative Expression dipilih mewakili beragam ekspresi kreatif dan budaya yang ada di dalam buku tersebut. Meski tidak melambangkan kebudayaan tradisional, karya-karya para seniman dan kreator dalam buku tersebut memiliki corak, ekspresi dan kreativitas yang beragam dari berbagai daerah di Indonesia.
"Nah kita rasa karena ini 35 orang, terus kemudian dari berbagai daerah dan bidangnya juga macam-macam, jadi kita ngerasa ini bisa sedikit mewakili sebagai suatu bangsa. Kita sebenarnya memiliki ragam ekspresi kreativitas yang beda-beda walaupun mediumnya satu, yaitu Instax," imbuhnya.

Buku Instaxnesia: A Nation of Creative Expression. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Direktur Utama Fujifilm Indonesia Masato Yamamoto menuturkan Instax bukan sekadar produk fotografi instan, melainkan jembatan yang menghubungkan manusia dengan budaya dan komunitas. Dengan lebih dari 100 juta unit Instax terjual secara global, lanjutnya, medium ini telah menjadi bagian dari ekspresi kreatif berbagai kalangan.
Dia menjelaskan peluncuran buku Instaxnesia juga menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial (CSR) Fujifilm Indonesia. Adapun, seluruh keuntungan dari penjualan buku akan disumbangkan ke 7 panti asuhan di berbagai daerah di Indonesia, guna menyediakan perlengkapan pendidikan dan kebutuhan pokok bagi anak-anak.
“Kami percaya bahwa kami harus berkontribusi kepada masyarakat, dan salah satu cara kami melakukannya adalah dengan menciptakan momen-momen yang bermakna bagi anak-anak yang membutuhkan," ungkap Yamamoto.
Buku Instaxnesia: A Nation of Creative Expression telah diterbitkan dan dijual di toko-toko buku seperti Gramedia sejak 7 Maret 2025, yang dibanderol dengan harga Rp280.000.
Baca juga: Instax Wide Evo, Kamera Instan Hybrid Terbaru dari Fujifilm
Baca juga: Instax Wide Evo, Kamera Instan Hybrid Terbaru dari Fujifilm
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.