Resign (Sumber gambar: Unsplash/ Nick Fewings)

Hypereport: Fenomena Musim Resign Setelah Lebaran 2025

14 April 2025   |   13:19 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Tren pengunduran diri karyawan atau kerap disebut musim resign diperkirakan bakal meningkat tahun ini. Di Indonesia, fenomena ini terjadi salah satunya didorong oleh momen paska Lebaran, yang sering kali memang menjadi periode resign massal.

Namun, dalam kacamata yang lebih luas, dinamika serupa juga tercermin dalam lanskap ketenagakerjaan global. Tahun ini, tampaknya banyak tenaga kerja di berbagai negara mulai meninjau ulang prioritas hidup, keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi, hingga makna dari rutinitas yang mereka jalani. 

Survei Hopes and Fears 2024 yang PricewaterhouseCoopers (PwC) telah memprediksi dalam setahun ke depan, fenomena musim resign atau gelombang pekerja yang berhenti bekerja diprediksi akan meningkat. 

Gelombang resign pekerja ini bahkan disebutkan bukan hanya meningkat secara signifikan, melainkan juga akan jadi yang tertinggi dalam dekade terakhir, melampaui fenomena great resignation yang terjadi 2022 lalu.

Baca juga laporan terkait:  Dalam survei tersebut, sekitar 28 persen dari lebih 56 pekerja yang disurvei PwC mengatakan mereka sangat atau sangat mungkin pindah pekerjaan dari perusahaan mereka tahun ini. Padahal, pada 2022, tercatat angka pekerja yang ingin resign hanya 19 persen, lalu pada 2023 hanya 26 persen.

Tingkat keinginan untuk berpindah kerja bervariasi menurut wilayah. Negara-negara seperti Qatar tercatat punya persentase yang lebih tinggi, yakni 52 persen, kemudian Mesir 46 persen, dan India 43 persen.

Namun, beberapa negara Eropa seperti Belgia, Prancis, dan Rumania masing-masing berada di angka 20 persen dan Republik Ceko 15 persen. Variasi juga terlihat berdasarkan sektor pekerjaan. Karyawan di industri manajemen aset dan kekayaan punya niat lebih tinggi untuk resign dengan angka mencapai 42 persen serta teknologi 39 persen.

Sebaliknya, pekerja di sektor pemerintahan dan layanan publik menunjukkan kecenderungan lebih rendah untuk berpindah kerja, yakni 17 persen. Adapun bidang kesehatan juga kecil, yakni 22 persen.

Tak jauh berbeda, Resume Templates juga menemukan data serupa saat melakukan survei pada 1.258 pekerja di Amerika Serikat Oktober lalu. Survei menemukan lebih dari separuh pekerja, yakni 56 persen, berencana mencari pekerjaan baru pada 2025.

Di antara mereka, sekitar 27 persen sudah aktif mencari, sedangkan 13 persen berencana memulai, dan 16 persen lainnya akan menyusun rencana tersebut. Sementara itu, hanya 44 persen pekerja yang tidak memiliki rencana mengejar peluang baru.

Hal menariknya, mayoritas pekerja yang ingin berpindah kantor yakin akan mendapatkan peluang tersebut. Sekitar delapan dari 10 pekerja merasa yakin dengan kemampuan mereka untuk mendapatkan posisi baru, dengan perincian 32 persen sangat yakin dan 50 persen agak yakin. Sebaliknya, 16 persen tidak terlalu yakin dan 2 persen sisanya sama sekali tidak yakin.

Terkait perpindahan industri, 21 persen pekerja berencana untuk pindah bidang, 31 persen belum memutuskan, dan 49 persen berniat untuk bertahan di industri mereka saat ini. Karyawan di sektor ritel, pemerintahan, layanan/perhotelan, dan manufaktur adalah yang paling mungkin mempertimbangkan untuk pindah industri.

Di Indonesia, kecenderungan orang untuk berpindah kerja juga makin tinggi. Laporan dari State of the Global Workplace 2024 yang dilakukan Gallup, sebanyak 52 persen responden Indonesia tercatat tengah aktif mencari pekerja baru.

Angka ini menjadi yang tertinggi keempat secara regional di ASEAN. Filipina menduduki posisi pertama dengan 64 persen responden yang sedang aktif mencari pekerjaan baru. Myanmar menyusul di urutan kedua dengan 58 persen, diikuti Laos dengan 57 persen.


Alasan Pekerja Resign 

Ada banyak faktor yang mendorong pekerja untuk resign dan mencari kantor baru pada tahun ini. Dalam survei yang dilakukan PwC, diketahui bahwa 13 persen pekerja secara global tidak puas dengan pekerjaan mereka saat ini.

Kemudian, sebanyak 41 persen karyawan juga ingin berpindah kerja karena meningkatnya beban kerja yang signifikan. Lalu, ada kecenderungan para pekerja ini merasa keterampilan mereka bisa jadi akan tidak lagi dibutuhkan pada masa mendatang, sehingga perlu upgrade.

Oleh karena itu, mereka pun tak segan untuk sejenak resign dan belajar hal baru. Dengan demikian, skill yang mereka miliki akan meningkat dan pekerjaan pun lebih berkelanjutan.

Hal lainnya, sekitar 50 persen karyawan memutuskan untuk resign karena mereka merasa diabaikan. Oleh karena itu, mereka merasa peluang karier di kantornya saat ini pun menjadi sulit.

Kemudian, menurut survei Resume Templates, gaji yang rendah juga menjadi alasan utama dengan 40 persen responden menyebutkannya sebagai faktor terpenting. Di posisi selanjutnya, sebanyak 37 persen merasa peran mereka kurang dihargai dan jenuh.

Sebanyak 33 persen lainnya merasa di kantornya sekarang sangat terbatas peluang untuk pengembangan karier. Lalu, 28 persen lainnya menyalahkan buruknya manajemen sebagai pemicu keinginan untuk berpindah pekerjaan.

Alasan lainnya ialah untuk mencoba bidang pekerjaan yang berbeda, ketidaksenangan terhadap dan harapan untuk bisa bekerja secara remote dengan persentase di bawah 22 persen.

Meski alasan resign berbeda-beda, mayoritas sepakat (99 persen) responden menyatakan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan akan menjadi prioritas utama mereka pada peran berikutnya.

Kemudian, keamanan kerja merupakan faktor kedua dengan 98 persen responden menganggapnya penting, diikuti oleh minat terhadap pekerjaan itu sendiri sebanyak 97 persen. 

Baca juga: Kiat Keuangan Sehat & Terencana untuk Pekerja Newbie 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Google Doodle Ikut Rayakan Hari Kuantum Sedunia Tiap 14 April

BERIKUTNYA

Film Korea Selatan Absen di Lineup Cannes Film Festival 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga