Ilustrasi penonton di bioskop. (Sumber gambar: Freepik)

China Batasi Impor Film Hollywood, Jadi Peluang Perluas Pasar Sinema Indonesia?

12 April 2025   |   15:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Pemerintah China akan membatasi impor film-film Hollywood sebagai bentuk pembalasan atas keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali menaikkan tarif barang-barang impor asal China. Langkah ini dinilai bisa menjadi peluang untuk kian mendorong pasar film-film Asia, termasuk Indonesia.

Pengamat film Hikmat Darmawan menilai pembatasan impor film-film Hollywood yang dilakukan China menciptakan peluang untuk tumbuhnya pasar film Asia, termasuk Indonesia. Misalnya, dengan menawarkan film-film Indonesia untuk bisa tayang di pasar penonton China.

Baca juga: Hollywood Tak Lagi Digdaya? China Uji Kekuatan Baru Industri Film

Dia mencontohkan film Pengepungan di Bukit Duri karya sutradara Joko Anwar yang akan dirilis pada 17 April 2025. Film tersebut dinilai berpotensi untuk bisa relate dengan audiens di China, lantaran mengisahkan pertarungan tokoh protagonis yang beretnis Tionghoa melawan dunia fiktif yang dipenuhi sikap rasisme yang ekstrem.

"Coba aja kasih itu kan lumayan, walaupun mungkin enggak jadi box office China yang udah gede sekali pasarnya, tapi kan berarti kita punya peluang juga gitu. Jadi Amerika yaudah biarin urusannya mereka sendiri. Asia, Amerika Latin, Global South, bisa membangun ceruknya sendiri sekarang dan bahkan secara industri jadinya ada peluang untuk masuk ke alternatif selain yang saat ini dikuasai oleh Hollywood gitu," katanya kepada Hypeabis.id, Jumat (11/4/2025).

Hikmat menilai langkah tersebut memungkinkan di tengah dinamika pasar penonton film Indonesia yang kini lebih positif terhadap film-film lokal. Menurutnya, momen tersebut perlu dimanfaatkan untuk semakin mengembangkan pasar audiens film-film Indonesia ke kancah global.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bicara Box Office, jumlah penonton film Indonesia sepanjang tahun 2024 sudah mengalahkan jumlah penonton film impor. Hingga minggu ke-51 di 2024, jumlah penonton film Indonesia sudah menembus 78 juta orang. Bahkan, diperkirakan tahun lalu angkanya tembus hingga 80 juta orang.

Jumlah tersebut naik 50 persen dibandingkan tahun 2023 yang jumlahnya 55 juta orang. Menariknya, hampir 70 persen pangsa pasar di bioskop ialah film Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia termasuk dalam 12 negara di dunia yang memiliki lebih dari 30 persen pangsa pasar film nasional di bioskop.

Sutradara Yosep Anggi Noen sepakat saat ini penonton film Indonesia sudah menaruh perhatian dan kepercayaan yang besar terhadap film-film buatan anak bangsa dibandigkan sinema impor. Hal tersebut, katanya, menunjukkan bahwa film Indonesia telah berdaya di negerinya sendiri.

Menurutnya, momentum tersebut harusnya direspons oleh pemerintah dengan membuat regulasi atau kebijakan yang berpihak pada film Indonesia. Salah satunya mengatur durasi penayangan film Indonesia yang lebih lama di bioskop, dibandingkan dengan film-film impor.

Sebab, menurut Anggi, film Indonesia punya sifat pasar audiens yang unik. Biasanya, peningkatan penonton film lokal baru bergerak secara signifikan pada minggu kedua penayangannya. Hal itu terjadi pada film-film yang akhirnya menembus box office di bioskop.

"Misalnya kayak yang terjadi sekarang di Jumbo. Film Jumbo itu di minggu pertama kan ya oke tapi tidak sangat fantastis, tapi begitu kemudian justru di minggu kedua setelah Lebaran, banyak yang nonton. Ternyata setelah Lebaran kan baru kemudian orang-orang menonton. Karena apa? Karena word of mouth, dan word of mouth itu butuh waktu," urainya.

Dengan kecenderungan seperti itu, Anggi berpendapat sudah semestinya pemerintah membuat kebijakan yang membuat film Indonesia mendapatkan kesempatan durasi penayangan yang lebih lama di bioskop dibandingkan film-film impor, sehingga tim pembuat film bisa memodifikasi sistem marketing mereka.

Baca juga: China Bakal Batasi Impor Film-Film AS, Apa Dampaknya Buat Hollywood?

"Ketika dibandingkan dengan film Hollywood, karena film Hollywood itu marketingnya worldwide dan biaya marketingnya mungkin jauh lebih banyak daripada film-film Indonesia. Jadi, salah satu harapan utamanya adalah berita baik tentang film itu, word of mouth-nya itu jalan gitu. Kalau enggak, enggak akan signifikan penontonnya, itu butuh waktu. Jadi regulasinya menurutku di situ saja," katanya.

Anggi mengungkap saat ini film Indonesia diperlakukan sama seperti film-film impor ketika tayang di bioskop. Ketika film tersebut tidak segera mencatatkan jumlah penonton yang signifikan, maka akan segera turun layar dari bioskop.

"Di beberapa negara, mereka menerapkan itu. Ada durasi tertentu untuk film-film lokal mereka, sehingga pembuat filmnya, apalagi film-film independen atau film-film seni, punya kesempatan untuk mengkampanyekan film itu. Kemudian orang bisa menularkan kesan menontonnya, and it take time," imbuhnya.

SEBELUMNYA

Al Malik Fest 2025 Tawarkan Momen Spiritual Sekaligus Kebersamaan

BERIKUTNYA

Spiritual atau Sekadar Eksis, Begini Nasehat Ustaz untuk Generasi Muda yang Berhaji

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga