Waspada Risiko Pencurian Data Saat Ubah Foto Pakai AI Ala Animasi Studio Ghibli
04 April 2025 |
17:30 WIB
Mengubah foto menggunakan artificial intelligence (AI) menjadi animasi khas Studio Ghibli, tengah menjadi tren di media sosial sekaligus menuai kontroversi. Selain terindikasi melanggar hak cipta, faktanya kegiatan ini berisiko mengundang kejahatan dunia maya.
Memang, transfer gaya atau menerapkan filter gaya pada gambar, merupakan teknologi yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Akan tetapi dengan model bahasa-visi multimoda, seperti GPT-4o oleh OpenAI, teknologi ini kembali populer, sehingga memicu minat baru.
Baca juga: OpenAI Hadirkan Deep Research di ChatGPT, Begini Cara Pakainya
Vladislav Tushkanov, Group Manager Kaspersky AI Technology Research Center mengatakan, perdebatan privasi terus berlanjut sejak aplikasi transfer gaya ini menjadi populer. Asisten percakapan, seperti ChatGPT, meskipun memiliki kebijakan privasi, tetap saja berisiko terhadap bocornya data pengguna.
Vladislav menerangkan karena masalah teknis atau aktivitas berbahaya, data dapat bocor dan menjadi konsumsi publik atau dijual di situs dark web. Selain itu, akun yang digunakan untuk mengakses layanan dapat diretas jika kredensial atau perangkat pengguna disusupi.
Menurut pakar intelijen Kaspersky Digital Footprint, ada banyak unggahan di dark web dan forum peretas yang menawarkan akun pengguna curian untuk dijual layanan AI. Akun ini mungkin berisi riwayat percakapan pribadi dengan chatbot.
Dia menegaskan bahwa foto, terutama potret, adalah data sensitif karena menyediakan sejumlah informasi tentang pengguna yang dapat digunakan oleh penjahat dunia maya. Misal, untuk menyamar sebagai mereka di media sosial.
Kendati demikian, foto saja hampir tidak dapat digunakan untuk melakukan penipuan. Berbagai skema penipuan memerlukan informasi yang jauh lebih beragam tentang korban, seperti informasi pribadi, dokumen, dan lainnya.
Nah, menggunakan chatbot untuk membahas masalah pribadi, seperti keuangan atau kesehatan, dapat memberi penjahat dunia maya lebih banyak peluang untuk skema potensial, seperti spear phishing. Oleh karena itu, selain menggunakan akal sehat, Genhype perlu menggabungkan praktik keamanan standar dengan kewaspadaan.
Setidaknya, akun layanan AI harus dilindungi dengan kata sandi unik yang kuat. Jika memungkinkan, dengan autentikasi dua faktor. Kemudian, gunakan solusi keamanan yang komprehensif, termasuk pengelola kata sandi, untuk melindungi perangkat dan akun yang dimiliki.
Vladislav menyarankan untuk memilih layanan yang sudah mapan daripada berbagai penawaran proksi untuk mengurangi jumlah pihak yang memproses data pengguna. Selalu pula perlakukan chatbot sebagai orang asing acak di internet.
“Jangan pernah membahas masalah pribadi atau membagikan detail rahasia, baik milik Anda maupun teman dan kerabat Anda, terutama tanpa persetujuan mereka,” tegasnya.
Waspadalah terhadap situs web phishing potensial yang mengumpulkan kredensial dan menyebarkan malware. Temuan Kaspersky menunjukkan bahwa penjahat dunia maya menggunakan sensasi seputar AI untuk memanfaatkannya. Pengguna yang lebih paham teknologi dapat memilih untuk menggunakan model bahasa besar dan multimoda lokal (di perangkat) untuk memproses data sensitif.
Baca juga: Fitur-fitur DeepSeek, AI China yang Jadi Saingan Berat ChatGPT
Editor: Dika Irawan
Memang, transfer gaya atau menerapkan filter gaya pada gambar, merupakan teknologi yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Akan tetapi dengan model bahasa-visi multimoda, seperti GPT-4o oleh OpenAI, teknologi ini kembali populer, sehingga memicu minat baru.
Baca juga: OpenAI Hadirkan Deep Research di ChatGPT, Begini Cara Pakainya
Vladislav Tushkanov, Group Manager Kaspersky AI Technology Research Center mengatakan, perdebatan privasi terus berlanjut sejak aplikasi transfer gaya ini menjadi populer. Asisten percakapan, seperti ChatGPT, meskipun memiliki kebijakan privasi, tetap saja berisiko terhadap bocornya data pengguna.
Vladislav menerangkan karena masalah teknis atau aktivitas berbahaya, data dapat bocor dan menjadi konsumsi publik atau dijual di situs dark web. Selain itu, akun yang digunakan untuk mengakses layanan dapat diretas jika kredensial atau perangkat pengguna disusupi.
Menurut pakar intelijen Kaspersky Digital Footprint, ada banyak unggahan di dark web dan forum peretas yang menawarkan akun pengguna curian untuk dijual layanan AI. Akun ini mungkin berisi riwayat percakapan pribadi dengan chatbot.
Dia menegaskan bahwa foto, terutama potret, adalah data sensitif karena menyediakan sejumlah informasi tentang pengguna yang dapat digunakan oleh penjahat dunia maya. Misal, untuk menyamar sebagai mereka di media sosial.
Kendati demikian, foto saja hampir tidak dapat digunakan untuk melakukan penipuan. Berbagai skema penipuan memerlukan informasi yang jauh lebih beragam tentang korban, seperti informasi pribadi, dokumen, dan lainnya.
Nah, menggunakan chatbot untuk membahas masalah pribadi, seperti keuangan atau kesehatan, dapat memberi penjahat dunia maya lebih banyak peluang untuk skema potensial, seperti spear phishing. Oleh karena itu, selain menggunakan akal sehat, Genhype perlu menggabungkan praktik keamanan standar dengan kewaspadaan.
Setidaknya, akun layanan AI harus dilindungi dengan kata sandi unik yang kuat. Jika memungkinkan, dengan autentikasi dua faktor. Kemudian, gunakan solusi keamanan yang komprehensif, termasuk pengelola kata sandi, untuk melindungi perangkat dan akun yang dimiliki.
Vladislav menyarankan untuk memilih layanan yang sudah mapan daripada berbagai penawaran proksi untuk mengurangi jumlah pihak yang memproses data pengguna. Selalu pula perlakukan chatbot sebagai orang asing acak di internet.
“Jangan pernah membahas masalah pribadi atau membagikan detail rahasia, baik milik Anda maupun teman dan kerabat Anda, terutama tanpa persetujuan mereka,” tegasnya.
Waspadalah terhadap situs web phishing potensial yang mengumpulkan kredensial dan menyebarkan malware. Temuan Kaspersky menunjukkan bahwa penjahat dunia maya menggunakan sensasi seputar AI untuk memanfaatkannya. Pengguna yang lebih paham teknologi dapat memilih untuk menggunakan model bahasa besar dan multimoda lokal (di perangkat) untuk memproses data sensitif.
Baca juga: Fitur-fitur DeepSeek, AI China yang Jadi Saingan Berat ChatGPT
Editor: Dika Irawan
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.