Dalam dunia perfilman, pendalaman karakter merupakan elemen esensial yang menjadi salah satu penentu keberhasilan proses produksi. Ini bukan sekadar menghafal dialog, lebih dari itu para aktor harus benar-benar menyatu dengan karakter yang mereka perankan.
Proses ini rupanya menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain film Pabrik Gula. Bagi para pemain, film yang mengangkat kisah kelam di balik kerja-kerja para buruh di pabrik gula ini punya layer emosi dan pengadeganan yang kompleks.
Baca juga:Film Pabrik Gula Bakal Tayang di Asia Tenggara saat Momen Lebaran 2025 (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Salah satu pemain, Ersya Aurelia, mengatakan mendalami karakter Endah di film ini bukanlah hal yang mudah. Dalam film ini, Endah diceritakan sebagai salah satu buruh musiman yang turut dipekerjakan di pabrik gula.
Endah kerap merasa ketakutan karena mendengar buruh kerap tak bisa pulang lagi karena telah melanggar aturan tak tertulis. Namun, di sisi lain, dia mesti tetap tenang dan tak menyebar ketakutan.
Menurutnya, berperan sebagai buruh dengan kondisi psikologis seperti itu cukup kompleks. Hal ini, lanjutnya, kemudian juga berpengaruh pada gestur dan keseharian yang dilakukan ketika di tempat kerja.
“Aku mencoba riset dan mempelajari gestur buruh ketika bekerja dan berinteraksi. Dalam film ini, ada momen-momen dia benar-benar tidak berani menatap orang lain begitu. Detail-detail seperti itu sih,” ungkap Ersya seusai press screening film Pabrik Gula di Agora Mall XXI, Jakarta Pusat.
Selain itu, tantangan yang cukup berat lainnya ialah perihal logat. Dalam film yang disutradarai oleh Awi Suryadi ini dirinya dituntut untuk bisa membawakan dialek Jawa Timur dengan kental.
Untuk mendalami itu, dirinya pun mencoba berlatih selama proses reading. Kemudian, dirinya juga belajar bersama para pemain lain, khususnya mereka yang asli orang Jawa, sehingga logat bisa lebih cepat terbentuk.
“Ya, aku ngerasa agak beratnya lagi itu di dialek ya, karena harus pakai bahasa Jawa Timuran di film itu,” imbuhnya.
(Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Sementara itu, Erika Carlina yang berperan sebagai Naning di film ini juga merasakan hal yang serupa. Erika mengatakan para pemain melakukan proses pendalaman karakter yang cukup panjang di film ini.
Khusus di bagian logat bahasa Jawa, Erika mengaku punya cara tersendiri. Untuk melancarkan dialek, Erika bercerita dirinya lebih banyak berlatih dengan mengobrol dengan para komika yang bermain di film ini.
Sebab, sebagian besar komika yang bermain di film ini merupakan kelahiran Jawa. Dengan demikian, mereka tentu sudah paham mengenai dialog dan cara bertutur orang Jawa.
“Kehadiran komika di sini membantu banget sih buat melatih dialek ya. Di luar itu, syuting komika tuh seru, lokasi yang tadinya serem gitu ya, bisa jadi lebih fun karena melawak terus,” ungkap Erika.
Dalam film ini, Erika juga harus mendalami berbagai aspek karakter yang memiliki beberapa lapisan kompleksitas. Selain memahami pola gerak dan kebiasaan para buruh pabrik, dirinya juga perlu menyesuaikan gestur serta cara berinteraksi yang sesuai dengan latar belakang karakter yang berasal dari kampung.
Kombinasi elemen-elemen ini menuntutnya untuk memperhatikan detail kecil agar dapat menghadirkan sosok yang autentik di layar. “Kita tuh harus mempelajari hal yang cukup kompleks, terutama buat aku ya yang masih sering kekota-kotaan. Makanya kita reading cukup panjang untuk menyelesaikan ini sih,” imbuhnya.
(Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Sementara itu, Arbani Yasiz punya tantangan berbeda. Baginya salah satu hal yang cukup sulit di film ini ialah meramu adegan kesurupan. Arbani yang memerankan karakter Fadhil sendiri tidak mengalami kesurupan.
Namun, dia beberapa kali berada di kondisi adegan kesurupan. Masalahnya, lanjutnya, adegan itu dilakukan dalam jumlah yang besar dan detail yang tinggi.
“Ada satu adegan kesurupan itu dikerjakan selama empat hari. Ini karena adegannya harus benar-benar epik dengan orang yang banyak dan banyak adegan teknis juga,” tuturnya.
Bagi Arbani, syuting di film Pabrik Gula merupakan hal yang menyenangkan. Meski penuh dengan adegan yang intens, sebenarnya proses syuting relatif berjalan dengan lancar.
Di luar itu, dirinya juga memang menyukai hal-hal berbau mistis. Di lokasi syuting, dia pun tak segan untuk bertanya ke kru film lokal terkait cerita-cerita horor yang pernah dialami. Rupanya, itu dilakukan juga untuk pendalaman karakternya.
Film Pabrik Gula akan dirilis dalam dua versi. Versi pertama diberi nama Jam Kuning. Versi ini ditujukan untuk penonton usia 17 tahun ke atas, dengan adegan yang lebih moderat, tetapi tetap mempertahankan unsur horor yang intens.
Versi kedua adalah Jam Merah (Uncut Version). Versi ini disajikan untuk penonton usia 21 tahun ke atas dengan eksplorasi cerita yang lebih mendalam, durasi lebih panjang, dan adegan lebih berani.
Versi Jam Merah dijanjikan menghadirkan pola storytelling-nya yang lebih terasa clear, lebih jelas, dan lebih lengkap. Selain itu, di versi Jam Merah akan ada tambahan durasi sekitar satu menit dibanding versi satunya.
Pabrik Gula mengisahkan sekelompok buruh musiman yang tiba di sebuah pabrik gula tua. Namun, alih-alih hanya bekerja, mereka justru mengalami teror dari sosok setan pendendam. Semua bermula ketika mereka tanpa sadar melanggar aturan tak tertulis yang harus ditaati di tempat tersebut.
Film yang tayang bertepatan dengan Lebaran 2025 ini dibintangi oleh sejumlah aktor ternama, termasuk Arbani Yasiz sebagai Fadhil, Ersya Aurelia sebagai Endah, Erika Carlina sebagai Naning, Azela Putri sebagai Rani, dan Vonny Anggraini sebagai Marni.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.