Tokoh-tokoh Arsitektur Indonesia yang Berjasa dalam Pembangunan Nasional
18 March 2025 |
09:53 WIB
Hari Arsitektur Indonesia diperingati setiap 18 Maret sebagai bentuk apresiasi terhadap peran dan kontribusi para arsitek dalam pembangunan nasional. Meskipun asal-usul penetapan tanggal ini tidak banyak dibahas, peringatan ini telah tercatat sebagai tanggal penting di Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Sejarah arsitektur di Indonesia tidak lepas dari berdirinya Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada 17 September 1959 di Bandung. IAI didirikan oleh tiga arsitek senior, yaitu Friedrich Silaban, Mohammad Soesilo, dan Lim Bwan Tjie, bersama 18 arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur ITB tahun 1958 dan 1959.
Baca juga: Mengenal Pemikiran & Karya-Karya Monumental Arsitek Han Awal
Tujuan pendirian IAI adalah untuk meningkatkan mutu arsitektur di Indonesia melalui persatuan yang erat antara para arsitek. Dalam rangka memperingati Hari Arsitektur Indonesia, berikut sejumlah tokoh arsitek ternama yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam perkembangan arsitektur Indonesia.
Pada 1938, dia merancang Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Pada 1955, Silaban memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal di Jakarta, meskipun ia beragama Kristen Protestan. Selain itu, dia juga merancang Masjid Agung Al-Azhar, Monumen Pembebasan Irian Barat, Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, termasuk Stadion Utama, serta menjadi salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia.
Salah satu karyanya adalah penataan permukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta. Pada 1992, proyek ini mendapatkan Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam karya arsitektural di dunia berkembang. Penghargaan ini diberikan atas upayanya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kawasan tersebut melalui pendekatan arsitektur yang humanis dan partisipatif.
Beberapa karyanya mencakup Masjid Salman ITB di Bandung, Masjid Amir Hamzah di Jakarta, Masjid At-Tin di Jakarta Timur, Masjid At-Tin di Jakarta Timur, Masjid Raya Batam di Kepulauan Riau, dan Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar.
Karya-karyanya, mencakup pemugaran Gereja Katedral Jakarta (1988), pemugaran Gedung Arsip Nasional (1994), restorasi Gedung Bank Indonesia di Jakarta Kota, dan merancang Kampus Universitas Katolik Atma Jaya dan Gedung Sekolah Pangudi Luhur.
Baca juga: Kedekatan Sukarno dan Arsitek Silaban
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sejarah arsitektur di Indonesia tidak lepas dari berdirinya Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada 17 September 1959 di Bandung. IAI didirikan oleh tiga arsitek senior, yaitu Friedrich Silaban, Mohammad Soesilo, dan Lim Bwan Tjie, bersama 18 arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur ITB tahun 1958 dan 1959.
Baca juga: Mengenal Pemikiran & Karya-Karya Monumental Arsitek Han Awal
Tujuan pendirian IAI adalah untuk meningkatkan mutu arsitektur di Indonesia melalui persatuan yang erat antara para arsitek. Dalam rangka memperingati Hari Arsitektur Indonesia, berikut sejumlah tokoh arsitek ternama yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam perkembangan arsitektur Indonesia.
1. Friedrich Silaban (1912–1984)
Friedrich Silaban adalah arsitek Indonesia terkemuka yang dikenal karena kontribusinya dalam arsitektur modern di Indonesia. Kariernya dimulai dengan bekerja di bawah arsitek Belanda J.H. Antonisse, di mana dia terlibat dalam proyek pekerjaan umum di Batavia.Pada 1938, dia merancang Tugu Khatulistiwa di Pontianak. Pada 1955, Silaban memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal di Jakarta, meskipun ia beragama Kristen Protestan. Selain itu, dia juga merancang Masjid Agung Al-Azhar, Monumen Pembebasan Irian Barat, Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, termasuk Stadion Utama, serta menjadi salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia.
2. Y.B. Mangunwijaya (1929–1999)
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau lebih dikenal sebagai Y.B. Mangunwijaya dan Romo Mangun, adalah seorang arsitek yang lahir pada 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah. Beliau sering dijuluki sebagai Bapak Arsitektur Modern Indonesia karena kontribusinya yang signifikan dalam bidang arsitektur.Salah satu karyanya adalah penataan permukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta. Pada 1992, proyek ini mendapatkan Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur, yang merupakan penghargaan tertinggi dalam karya arsitektural di dunia berkembang. Penghargaan ini diberikan atas upayanya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kawasan tersebut melalui pendekatan arsitektur yang humanis dan partisipatif.
3. Achmad Noeman (1926–2016)
Achmad Noeman dikenal sebagai Arsitek Seribu Masjid dan Maestro Arsitektur Masjid Indonesia yang aktif dalam pengembangan infrastruktur pendidikan dan keagamaan. Noe'man terkenal lewat rancangan masjid tanpa kubah, sebuah pendekatan yang berbeda dari tradisi arsitektur masjid pada umumnya.Beberapa karyanya mencakup Masjid Salman ITB di Bandung, Masjid Amir Hamzah di Jakarta, Masjid At-Tin di Jakarta Timur, Masjid At-Tin di Jakarta Timur, Masjid Raya Batam di Kepulauan Riau, dan Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar.
4. Han Awal (1930–2016)
Han Awal atau Han Hoo Tjwan dikenal luas sebagai arsitek konservator yang mengkhususkan diri dalam pemugaran bangunan-bangunan bersejarah peninggalan kolonial. Atas dedikasinya dalam konservasi arsitektur, Han Awal menerima penghargaan International Award of Excellence dari UNESCO Asia-Pasifik untuk pemugaran Gedung Museum Arsip Nasional.Karya-karyanya, mencakup pemugaran Gereja Katedral Jakarta (1988), pemugaran Gedung Arsip Nasional (1994), restorasi Gedung Bank Indonesia di Jakarta Kota, dan merancang Kampus Universitas Katolik Atma Jaya dan Gedung Sekolah Pangudi Luhur.
Baca juga: Kedekatan Sukarno dan Arsitek Silaban
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.