Potensi Cuaca Ekstrem Mudik Lebaran 2025, 5 Provinsi Diguyur Hujan Lebat
16 March 2025 |
18:28 WIB
Perjalanan pada saat mudik perlu mempertimbangkan faktor cuaca. Pasalnya, cuaca yang ekstrem bisa meningkatkan risiko bahaya bagi pengendara, terutama kendaraan roda dua dan empat, yang melaju di ruas jalan. Oleh karena itu, memantau kondisi cuaca sangat penting dilakukan pemudik yang ingin melakukan perjalanan di darat. Begitu pula bagi mereka yang menempuh perjalanan di jalur laut dan udara.
Menurut laporan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, terdapat cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi pada Maret 2025. Pada 20-26 Maret, potensi hujan lebat katanya terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung.
Baca juga: Fakta-fakta Operasi Modifikasi Cuaca di Jabodetabek
“Kondisi cuaca di bulan Maret, masih dimungkinkan terjadinya cuaca ekstrem,” ujarnya saat rapat dengan DPR beberapa hari lalu.
Atas kondisi ini, pihaknya akan melakukan penyebaran informasi dan peringatan dini yang lebih masif, terutama menjelang puncak arus mudik. BMKG katanya akan menyampaikan informasi yang lebih mudah dipahami.
Dia berharap agar peringatan dini yang dikeluarkan BMKG ini tidak diabaikan masyarakat. Bagi masyarakat yang belum mengerti perbedaan kondisi hujan, Dwikorota menjelaskan bahwa hujan sedang yakni ketika kondisi hujan yang membuat basah kuyup, sementara hujan lebat menyebabkan basah kuyup dan sulit melihat ke depan. “(Peringatan dini ini) kadang diremehkan,” imbuhnya.
Risiko cuaca ekstrem diprediksi akan menurun pada sepuluh hari pertama April 2025. Meskipun demikian, masih terjadi curah hujan dengan intensitas menengah di hampir seluruh wilayah di Indonesia.
Selain itu, Dwikorita juga menyampaikan adanya potensi gelombang tinggi dengan ketinggian 2 hingga 2,5 meter di daerah Samudera Hindia dan pesisir Pantai Samudera Hindia, seperti di bagian selatan Sumatera dan Jawa. “Gelombang dapat mencapai 2-2,5 meter, terutama untuk kapal kecil dan masyarakat yang berwisata, itu dapat membahayakan,” tegasnya.
BMKG juga mencatat potensi banjir rob yang dapat terjadi pada periode 29 Maret hingga 27 April di wilayah pesisir, seperti Pantura, serta daerah pantai di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Maluku. Tak hanya itu, BMKG juga memberikan informasi mengenai potensi bencana longsor, terutama di wilayah Jawa Barat seperti Bogor dan Cianjur, yang akan terus dipantau dan diinformasikan setiap hari.
Dwikorita mengatakan bahwa BMKG akan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca, serta memperkuat kesiagaan dalam menghadapi potensi bibit siklon. Untuk itu, pihaknya akan terus memperbesar penyebaran informasi mitigasi dan sosialisasi, terutama dalam mendukung kelancaran mudik Lebaran 2025.
Sebagai bentuk mitigasi jangka pendek, BMKG meminta aparat daerah untuk memanfaatkan aplikasi Infobmkg (Weather Prediction), yang menyediakan prakiraan cuaca harian hingga enam hari ke depan selama periode Lebaran. Aplikasi ini memuat informasi lengkap seperti intensitas hujan, suhu udara, kecepatan dan arah angin, serta potensi gelombang tinggi di jalur-jalur mudik.
BMKG telah mengintegrasikan informasi cuaca dengan perangkat Dynamic Message Sign (DMS) di jalan tol Jabodetabek dan berencana memperluasnya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai langkah mitigasi. Platform Digital Weather for Traffic (DWT) juga disediakan untuk memberikan prakiraan cuaca secara real-time bagi pemudik.
Dalam upaya mendukung keselamatan perjalanan, BMKG bekerja sama dengan BNPB, BPBD, Kementerian Perhubungan, dan operator transportasi untuk meminimalkan dampak cuaca buruk terhadap arus mudik. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) disiapkan dalam status stand by on call untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem di jalur utama mudik.
Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau perkembangan cuaca melalui situs web BMKG, aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi, serta layanan SMS Blast dan Call Center 196 untuk mendapatkan informasi terbaru terkait kondisi cuaca selama periode mudik Lebaran 2025.
Baca juga: Kenali Siklon Tropis yang Bikin Cuaca Beberapa Daerah Hujan dalam Sepekan
Menurut laporan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, terdapat cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi pada Maret 2025. Pada 20-26 Maret, potensi hujan lebat katanya terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung.
Baca juga: Fakta-fakta Operasi Modifikasi Cuaca di Jabodetabek
“Kondisi cuaca di bulan Maret, masih dimungkinkan terjadinya cuaca ekstrem,” ujarnya saat rapat dengan DPR beberapa hari lalu.
Atas kondisi ini, pihaknya akan melakukan penyebaran informasi dan peringatan dini yang lebih masif, terutama menjelang puncak arus mudik. BMKG katanya akan menyampaikan informasi yang lebih mudah dipahami.
Dia berharap agar peringatan dini yang dikeluarkan BMKG ini tidak diabaikan masyarakat. Bagi masyarakat yang belum mengerti perbedaan kondisi hujan, Dwikorota menjelaskan bahwa hujan sedang yakni ketika kondisi hujan yang membuat basah kuyup, sementara hujan lebat menyebabkan basah kuyup dan sulit melihat ke depan. “(Peringatan dini ini) kadang diremehkan,” imbuhnya.
Risiko cuaca ekstrem diprediksi akan menurun pada sepuluh hari pertama April 2025. Meskipun demikian, masih terjadi curah hujan dengan intensitas menengah di hampir seluruh wilayah di Indonesia.
Selain itu, Dwikorita juga menyampaikan adanya potensi gelombang tinggi dengan ketinggian 2 hingga 2,5 meter di daerah Samudera Hindia dan pesisir Pantai Samudera Hindia, seperti di bagian selatan Sumatera dan Jawa. “Gelombang dapat mencapai 2-2,5 meter, terutama untuk kapal kecil dan masyarakat yang berwisata, itu dapat membahayakan,” tegasnya.
BMKG juga mencatat potensi banjir rob yang dapat terjadi pada periode 29 Maret hingga 27 April di wilayah pesisir, seperti Pantura, serta daerah pantai di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Maluku. Tak hanya itu, BMKG juga memberikan informasi mengenai potensi bencana longsor, terutama di wilayah Jawa Barat seperti Bogor dan Cianjur, yang akan terus dipantau dan diinformasikan setiap hari.
Dwikorita mengatakan bahwa BMKG akan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca, serta memperkuat kesiagaan dalam menghadapi potensi bibit siklon. Untuk itu, pihaknya akan terus memperbesar penyebaran informasi mitigasi dan sosialisasi, terutama dalam mendukung kelancaran mudik Lebaran 2025.
Sebagai bentuk mitigasi jangka pendek, BMKG meminta aparat daerah untuk memanfaatkan aplikasi Infobmkg (Weather Prediction), yang menyediakan prakiraan cuaca harian hingga enam hari ke depan selama periode Lebaran. Aplikasi ini memuat informasi lengkap seperti intensitas hujan, suhu udara, kecepatan dan arah angin, serta potensi gelombang tinggi di jalur-jalur mudik.
BMKG telah mengintegrasikan informasi cuaca dengan perangkat Dynamic Message Sign (DMS) di jalan tol Jabodetabek dan berencana memperluasnya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai langkah mitigasi. Platform Digital Weather for Traffic (DWT) juga disediakan untuk memberikan prakiraan cuaca secara real-time bagi pemudik.
Dalam upaya mendukung keselamatan perjalanan, BMKG bekerja sama dengan BNPB, BPBD, Kementerian Perhubungan, dan operator transportasi untuk meminimalkan dampak cuaca buruk terhadap arus mudik. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) disiapkan dalam status stand by on call untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem di jalur utama mudik.
Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau perkembangan cuaca melalui situs web BMKG, aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi, serta layanan SMS Blast dan Call Center 196 untuk mendapatkan informasi terbaru terkait kondisi cuaca selama periode mudik Lebaran 2025.
Baca juga: Kenali Siklon Tropis yang Bikin Cuaca Beberapa Daerah Hujan dalam Sepekan
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.