Melihat Keunikan 'Kertas' dalam Pameran The Paper Menagerie di ISA Art Gallery
05 March 2025 |
22:00 WIB
Kertas, sebagai salah satu media telah dimanfaatkan menjadi medium seni sejak berabad-abad silam. Material dari serat tanaman ini bahkan telah dijadikan sebagai medium kerja kreatif, baik seni menulis indah, secara harfiah atau pemaknaan, hingga lukisan.
Seiring berjalannya waktu, kertas juga terus dieksplorasi seniman lewat cara baru dalam menyampaikan bahasa rupa pada publik. Bukan hanya sebagai media lukisan, kertas dalam hal ini juga dijadikan sebagai bahan dasar untuk membuat karya seni dengan corak yang khas.
Baca juga: Mereinkarnasi Karya Lama dengan Medium Terracota Powder
Momen inilah sekiranya, yang terejawantah dalam pameran di ISA Art Gallery, Jakarta pada 27 Februari sampai 4 April 2025. Berjudul The Paper Menagerie, seteleng ini memang memilih senarai karya dari para seniman Indonesia dan luar negeri yang serba kertas.
Kurator pameran, Kenenza Michiko mengatakan, seteleng ini memang ingin mengeksplorasi sifat dualistik kertas, yakni sebagai material yang rapuh, tapi juga dapat dilihat sebagai arsip. Total pameran ini menghadirkan 29 seniman yang mengeksplorasi media tersebut dalam berbagai pendekatan.
"Selain sebagai media untuk menulis dan mendokumentasikan, kertas juga digunakan sebagai sarana bercerita, mulai dari manuskrip Jawa hingga seni pemotongan kertas Tiongkok Jianzhi," katanya.
Dalam tradisi di Nusantara misal. Kertas juga dikenal dengan nama deluang yang dibuat dari tumbuhan Broussonetia papyrifera. Kala itu, medium ini kerap digunakan sebagai pengganti media tulis dan gambar di Jawa dan beberapa pulau lain, termasuk pula wayang beber.
Pada pameran ini, metode pembuatan kertas dengan mengandalkan bahan alami seperti bambu, daun pohon hujan, hingga serat abaka, juga digunakan Widi Pangestu. Perupa asal Bandung, Jawa Barat itu, memboyong 3 karya untuk membuka wacana baru dalam melihat kertas sebagai medium karya.
Misal dalam karya bertajuk Raintree dan Mossy yang menampilkan tekstur mentah dari serat-serat kertas. Karya berbentuk persegi panjang yang dibuat pada 2025 itu, sepintas mengimak benda-benda kriya yang umumnya terpacak di sebuah dinding dengan warna primer.
"Selain memikirkan bagaimana kertas berpotensi sebagai karya seni, aku juga mencoba menjadi jembatan dalam memperkenalkan praktek pembuatan kertas tradisional ke publik,"katanya belum lama ini saat ditemui Hypeabis.id.
Ruth Marbun juga tampil beda dalam pameran ini. Seniman yang akrab disapa Utay, itu memboyong 3 karya bertajuk Bersuar, Bersuara, dan Bersuaka (sewn collage of mixed media on paper, 42,5 x 32,5 x 8 cm, 2024).
Berbeda dari karya-kaya Utay di pameran sebelumnya, seniman sekaligus desainer itu nampak membuat kolase dari jahitan pelbagai kertas dengan rapi. Namun, alih-alih menghasilkan karya dwimatra, lukisan yang dibuat justru tampil dengan citraan trimatra.
Karakter atau sosok yang muncul dalam karya ini juga tampil abstrak, meskipun ada pula yang berwajah. Namun sebagian besar justru terurai menjadi bagian-bagian tubuh yang terfragmentasi, dipotong dan dijahit dengan cermat, yang merilekskan ketegangan antara keintiman dan kekuatan.
"Dalam bentuk-bentuk yang terputus-putus tapi terhubung ini, Utay menenun bahasa visual ketahanan dan keterbatasan, di mana tindakan merakit menjadi isyarat kedekatan dan penegasan kelangsungan hidup," kata Kenenza.
Tidak selalu bermedia kertas, karya yang terkait dengan persoalan kertas pun turut dihadirkan. Fotografer Hardi Budi, misalnya membuat karya foto kaki penari balet bertajuk Dance Like There is No Tomorrow, yang dicetak pada medium art paper, bertarikh 2023.
Adapun seniman lain yang berpartisipasi dalam pameran ini di antaranya A.Sebastianus, Adi Sundoro, Anang Saptoto, Anastasia Astika, dan Arahmaiani. Umumnya karya yang ditampilkan berupa gambar (drawing), lukisan, sketsa, ada juga kolase, grafis, dan cyanotype.
Editor: Fajar Sidik
Seiring berjalannya waktu, kertas juga terus dieksplorasi seniman lewat cara baru dalam menyampaikan bahasa rupa pada publik. Bukan hanya sebagai media lukisan, kertas dalam hal ini juga dijadikan sebagai bahan dasar untuk membuat karya seni dengan corak yang khas.
Baca juga: Mereinkarnasi Karya Lama dengan Medium Terracota Powder
Momen inilah sekiranya, yang terejawantah dalam pameran di ISA Art Gallery, Jakarta pada 27 Februari sampai 4 April 2025. Berjudul The Paper Menagerie, seteleng ini memang memilih senarai karya dari para seniman Indonesia dan luar negeri yang serba kertas.
Kurator pameran, Kenenza Michiko mengatakan, seteleng ini memang ingin mengeksplorasi sifat dualistik kertas, yakni sebagai material yang rapuh, tapi juga dapat dilihat sebagai arsip. Total pameran ini menghadirkan 29 seniman yang mengeksplorasi media tersebut dalam berbagai pendekatan.
"Selain sebagai media untuk menulis dan mendokumentasikan, kertas juga digunakan sebagai sarana bercerita, mulai dari manuskrip Jawa hingga seni pemotongan kertas Tiongkok Jianzhi," katanya.
Dalam tradisi di Nusantara misal. Kertas juga dikenal dengan nama deluang yang dibuat dari tumbuhan Broussonetia papyrifera. Kala itu, medium ini kerap digunakan sebagai pengganti media tulis dan gambar di Jawa dan beberapa pulau lain, termasuk pula wayang beber.
Pada pameran ini, metode pembuatan kertas dengan mengandalkan bahan alami seperti bambu, daun pohon hujan, hingga serat abaka, juga digunakan Widi Pangestu. Perupa asal Bandung, Jawa Barat itu, memboyong 3 karya untuk membuka wacana baru dalam melihat kertas sebagai medium karya.
Misal dalam karya bertajuk Raintree dan Mossy yang menampilkan tekstur mentah dari serat-serat kertas. Karya berbentuk persegi panjang yang dibuat pada 2025 itu, sepintas mengimak benda-benda kriya yang umumnya terpacak di sebuah dinding dengan warna primer.
"Selain memikirkan bagaimana kertas berpotensi sebagai karya seni, aku juga mencoba menjadi jembatan dalam memperkenalkan praktek pembuatan kertas tradisional ke publik,"katanya belum lama ini saat ditemui Hypeabis.id.
Ruth Marbun juga tampil beda dalam pameran ini. Seniman yang akrab disapa Utay, itu memboyong 3 karya bertajuk Bersuar, Bersuara, dan Bersuaka (sewn collage of mixed media on paper, 42,5 x 32,5 x 8 cm, 2024).
Berbeda dari karya-kaya Utay di pameran sebelumnya, seniman sekaligus desainer itu nampak membuat kolase dari jahitan pelbagai kertas dengan rapi. Namun, alih-alih menghasilkan karya dwimatra, lukisan yang dibuat justru tampil dengan citraan trimatra.
Karakter atau sosok yang muncul dalam karya ini juga tampil abstrak, meskipun ada pula yang berwajah. Namun sebagian besar justru terurai menjadi bagian-bagian tubuh yang terfragmentasi, dipotong dan dijahit dengan cermat, yang merilekskan ketegangan antara keintiman dan kekuatan.
"Dalam bentuk-bentuk yang terputus-putus tapi terhubung ini, Utay menenun bahasa visual ketahanan dan keterbatasan, di mana tindakan merakit menjadi isyarat kedekatan dan penegasan kelangsungan hidup," kata Kenenza.
Tidak selalu bermedia kertas, karya yang terkait dengan persoalan kertas pun turut dihadirkan. Fotografer Hardi Budi, misalnya membuat karya foto kaki penari balet bertajuk Dance Like There is No Tomorrow, yang dicetak pada medium art paper, bertarikh 2023.
Adapun seniman lain yang berpartisipasi dalam pameran ini di antaranya A.Sebastianus, Adi Sundoro, Anang Saptoto, Anastasia Astika, dan Arahmaiani. Umumnya karya yang ditampilkan berupa gambar (drawing), lukisan, sketsa, ada juga kolase, grafis, dan cyanotype.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.