Fakta-fakta Menarik Mickey 17, Jadi Box Office di Korea dalam Waktu Singkat
05 March 2025 |
17:46 WIB
Salah satu film paling diantisiasi pada tahun ini, Mickey 17, akhirnya mulai tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu, (5/3/2025). Film produksi Warner Bros. dan Plan B Entertainment ini menandai kembalinya sutradara Bong Joon-ho ke layar lebar setelah film fenomenalnya Parasite (2019).
Film bergenre sci-fi komedi ini sudah mencuri perhatian pencinta sinema sejak awal Februari lalu, semenjak penayangan perdana di Festival Film Internasional Berlin ke-75. Di festival tersebut, film ini pun mendapat sambutan yang luar biasa.
Baca juga: Ketika Rekor Box Office Jadi Sebuah Anomali di Balik Layar Bioskop Indonesia
Dalam film ini, Bong kembali menghadirkan kritik sosial yang mendalam khas seperti film-film terdahulunya. Film ini mencoba menggabungkan elemen fiksi ilmiah, drama, dan komedi satir dengan gaya yang tak biasa.
Bagi Genhype yang penasaran, film ini kini sudah bisa ditonton di bioskop. Namun, sebelum datang menonton, yuk simak beberapa fakta menarik tentang Mickey 17 berikut ini terlebih dahulu:
Berselang 6 tahun setelah kesuksesan besar Parasite, sutradara peraih Oscar asal Korea Selatan, Bong Joon Ho akhirnya kembali menyapa penonton dengan film terbarunya, Mickey 17. Sebelumnya, lewat Parasite, Bong Joon ho berhasil mencatatkan sejarah gemilang karena membawa pulang 4 piala Oscar, di antaranya adalah Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Orisinal Terbaik, Film Berbahasa Internasional Terbaik.
Parasite adalah film Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan Academy Award. Film ini juga menjadi film non-bahasa Inggris pertama yang memenangkan Film Terbaik di Academy Awards. Tak mengherankan, ketika dia kembali ke layar lebar, karya terbarunya ini jadi sangat dinanti oleh penonton.
Mickey 17 merupakan film hasil adaptasi dari novel Edward Ashton berjudul Mickey7 yang terbit pada 2022. Novel tersebut kemudian dialihwanakan ke film, dengan proses penulisannya juga digarap langsung oleh Bong Joon-ho.
Dalam film ini, selain menjadi sutradara dan penulis, Bong juga turut menjadi produser bersama Doo Ho Choi, Dede Gardner, serta Jeremy Kleiner. Proyek ini sekaligus menandai kerja sama terbaru mereka setelah Okja (2017).
Mickey 17 mengangkat tema yang relevan dan menggugah pikiran. Menggabungkan elemen fiksi ilmiah, drama, dan komedi satir, film ini mencoba mengetengahkan tema kolonialisasi, kapitalisme, dan eksploitasi manusia di dunia modern. Film ini pun akan menawarkan pertanyaan mendalam tentang identitas dan eksistensi.
Film Mickey 17 bercerita tentang Mickey Barnes, seorang yang tengah menjalani eksperimen di luar angkasa. Bisa dibilang, dia adalah karyawan expendable, yang bisa dikloning ulang setelah mengalami kematian.
Tugasnya cukup berat, yakni menjelajahi planet es berbahaya bernama Niflheim. Setiap kali Mickey meninggal dalam misi berbahaya, tubuh baru diregenerasi dengan sebagian besar ingatannya tetap utuh.
Namun, setelah kematian yang ke-17, Mickey secara tidak sengaja tetap bertahan hidup. Kini, ada lebih dari satu Mickey dan secara unik, keduanya saling mengenali satu sama lain. Dia justru harus berhadapan dengan kloning berikutnya, Mickey 18.
Sejak tayang di Korea Selatan pada Jumat, 28 Februari 2025, film Mickey 17 langsung mendapat antusiasme yang tinggi. Film tersebut berhasil meraih satu juta penonton hanya dalam tiga hari penayangan saja. Menurut Dewan Film Korea, film ini sudah meraih 1.117.586 penonton per Minggu (2/3/2025).
Dengan pencapaian ini, film Mickey resmi mulai mendominasi catatan box office Korea Selatan selama sepekan, sejak peralihan Februari ke Maret ini. Film tersebut kini bahkan diketahui menguasai 68 persen penjualan tiket di seluruh layar Korea.
Menurut Warner Bros. Korea, selaku distributor, film Mickey 17 telah melampaui rekor film WB terdahulu, yakni Oppenheimer (2023) ketika ditayangkan di Korea. Kala itu, film garapan Christopher Nolan tersebut baru bisa mencetak satu juta penonton dalam lima hari penayangan.
Dalam film ini, performa akting dari Robert Pattinson dan Mark Rufallo telah mendapat banyak pujian dari kritikus. Pattinson, yang dituntut untuk memerankan dua karakter sekaligus tampil tanpa celah.
Dia dianggap mampu memberi penekanan emosi yang apik untuk membedakan Mickey 17 yang canggung dan Mickey 18 yang lebih berani. Selain itu, ekspresi, intonasi, hingga gaya bicaranya dianggap seperti dua orang berbeda, meski keduanya adalah kloning.
Sementara itu, Mark Ruffalo mengambil peran berbeda dari kebanyakan filmnya. Tak lagi menjadi protagonis, kali ini dia berperan sebagai sosok antagonis. Namun, kedalaman aktingnya tetap menawan dan meyakinkan penonton.
Baca juga: Ini Penyebab Film Better Man Gagal Total di Box Office
Di luar itu, film ini masih memberi banyak kejutan dengan melibatkan sejumlah aktor dan aktris berbakat lain, seperti Naomi Ackie sebagai Nasha Adjaya, Steven Yeun sebagai Berto, dan Toni Collette sebagai Gwen Johansen.
Salah satu indikator keberhasilan sebuah film adalah dari penilaian kritikus dan penonton. Di fase awal penayangannya, film ini telah menunjukkan performa yang menawan, dengan meraih rating cukup tinggi.
Di situs Rotten Tomatoes, film ini mencatatkan rating 89 persen. Film ini dianggap berhasil menemukan Bong Joon Ho kembali ke keahliannya dalam fiksi ilmiah konyol dengan kritik sosial pedas di intinya.
.
Editor: Fajar Sidik
Film bergenre sci-fi komedi ini sudah mencuri perhatian pencinta sinema sejak awal Februari lalu, semenjak penayangan perdana di Festival Film Internasional Berlin ke-75. Di festival tersebut, film ini pun mendapat sambutan yang luar biasa.
Baca juga: Ketika Rekor Box Office Jadi Sebuah Anomali di Balik Layar Bioskop Indonesia
Dalam film ini, Bong kembali menghadirkan kritik sosial yang mendalam khas seperti film-film terdahulunya. Film ini mencoba menggabungkan elemen fiksi ilmiah, drama, dan komedi satir dengan gaya yang tak biasa.
Bagi Genhype yang penasaran, film ini kini sudah bisa ditonton di bioskop. Namun, sebelum datang menonton, yuk simak beberapa fakta menarik tentang Mickey 17 berikut ini terlebih dahulu:
1. Kembalinya Sutradara Bon Jon-ho
Berselang 6 tahun setelah kesuksesan besar Parasite, sutradara peraih Oscar asal Korea Selatan, Bong Joon Ho akhirnya kembali menyapa penonton dengan film terbarunya, Mickey 17. Sebelumnya, lewat Parasite, Bong Joon ho berhasil mencatatkan sejarah gemilang karena membawa pulang 4 piala Oscar, di antaranya adalah Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Orisinal Terbaik, Film Berbahasa Internasional Terbaik.Parasite adalah film Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan Academy Award. Film ini juga menjadi film non-bahasa Inggris pertama yang memenangkan Film Terbaik di Academy Awards. Tak mengherankan, ketika dia kembali ke layar lebar, karya terbarunya ini jadi sangat dinanti oleh penonton.
Mickey 17 merupakan film hasil adaptasi dari novel Edward Ashton berjudul Mickey7 yang terbit pada 2022. Novel tersebut kemudian dialihwanakan ke film, dengan proses penulisannya juga digarap langsung oleh Bong Joon-ho.
Dalam film ini, selain menjadi sutradara dan penulis, Bong juga turut menjadi produser bersama Doo Ho Choi, Dede Gardner, serta Jeremy Kleiner. Proyek ini sekaligus menandai kerja sama terbaru mereka setelah Okja (2017).

Still photo film Mickey 17 (Sumber gambar: IMDb)
2. Angkat Tema yang Relevan dan Menggugah Pikiran
Mickey 17 mengangkat tema yang relevan dan menggugah pikiran. Menggabungkan elemen fiksi ilmiah, drama, dan komedi satir, film ini mencoba mengetengahkan tema kolonialisasi, kapitalisme, dan eksploitasi manusia di dunia modern. Film ini pun akan menawarkan pertanyaan mendalam tentang identitas dan eksistensi.Film Mickey 17 bercerita tentang Mickey Barnes, seorang yang tengah menjalani eksperimen di luar angkasa. Bisa dibilang, dia adalah karyawan expendable, yang bisa dikloning ulang setelah mengalami kematian.
Tugasnya cukup berat, yakni menjelajahi planet es berbahaya bernama Niflheim. Setiap kali Mickey meninggal dalam misi berbahaya, tubuh baru diregenerasi dengan sebagian besar ingatannya tetap utuh.
Namun, setelah kematian yang ke-17, Mickey secara tidak sengaja tetap bertahan hidup. Kini, ada lebih dari satu Mickey dan secara unik, keduanya saling mengenali satu sama lain. Dia justru harus berhadapan dengan kloning berikutnya, Mickey 18.
3. Cetak Box Office di Korea & Kalahkan Oppenheimer
Sejak tayang di Korea Selatan pada Jumat, 28 Februari 2025, film Mickey 17 langsung mendapat antusiasme yang tinggi. Film tersebut berhasil meraih satu juta penonton hanya dalam tiga hari penayangan saja. Menurut Dewan Film Korea, film ini sudah meraih 1.117.586 penonton per Minggu (2/3/2025).Dengan pencapaian ini, film Mickey resmi mulai mendominasi catatan box office Korea Selatan selama sepekan, sejak peralihan Februari ke Maret ini. Film tersebut kini bahkan diketahui menguasai 68 persen penjualan tiket di seluruh layar Korea.
Menurut Warner Bros. Korea, selaku distributor, film Mickey 17 telah melampaui rekor film WB terdahulu, yakni Oppenheimer (2023) ketika ditayangkan di Korea. Kala itu, film garapan Christopher Nolan tersebut baru bisa mencetak satu juta penonton dalam lima hari penayangan.
4. Performa Akting Menawan Robert Pattinson dan Mark Rufallo
Dalam film ini, performa akting dari Robert Pattinson dan Mark Rufallo telah mendapat banyak pujian dari kritikus. Pattinson, yang dituntut untuk memerankan dua karakter sekaligus tampil tanpa celah.Dia dianggap mampu memberi penekanan emosi yang apik untuk membedakan Mickey 17 yang canggung dan Mickey 18 yang lebih berani. Selain itu, ekspresi, intonasi, hingga gaya bicaranya dianggap seperti dua orang berbeda, meski keduanya adalah kloning.
Sementara itu, Mark Ruffalo mengambil peran berbeda dari kebanyakan filmnya. Tak lagi menjadi protagonis, kali ini dia berperan sebagai sosok antagonis. Namun, kedalaman aktingnya tetap menawan dan meyakinkan penonton.
Baca juga: Ini Penyebab Film Better Man Gagal Total di Box Office
Di luar itu, film ini masih memberi banyak kejutan dengan melibatkan sejumlah aktor dan aktris berbakat lain, seperti Naomi Ackie sebagai Nasha Adjaya, Steven Yeun sebagai Berto, dan Toni Collette sebagai Gwen Johansen.
5. Dapat Rating Tinggi
Salah satu indikator keberhasilan sebuah film adalah dari penilaian kritikus dan penonton. Di fase awal penayangannya, film ini telah menunjukkan performa yang menawan, dengan meraih rating cukup tinggi.Di situs Rotten Tomatoes, film ini mencatatkan rating 89 persen. Film ini dianggap berhasil menemukan Bong Joon Ho kembali ke keahliannya dalam fiksi ilmiah konyol dengan kritik sosial pedas di intinya.
.
Editor: Fajar Sidik
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.