Kenaikan suhu global kembali memecahkan rekor. (Sumber gambar: Chuttersnap/Unsplash)

Januari 2025 Cetak Rekor Jadi Bulan Terpanas Sepanjang Sejarah

10 February 2025   |   15:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Kenaikan suhu global kembali memecahkan rekor. Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) melaporkan Januari 2025 menjadi bulan terpanas sepanjang sejarah pencatatan suhu, meski terjadi perkembangan kondisi La Nina di Pasifik tropis dan efek pendinginan sementara pada suhu global.

C3S dalam laporannya menyebutkan bahwa suhu udara permukaan pada Januari 2025 mencapai 1,75 derajat Celcius di atas tingkat masa pra-industri. Januari tahun ini menjadi bulan ke-18 dalam 19 bulan terakhir di mana suhu udara permukaan rata-rata global lebih dari 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Baca juga: 2024 Jadi Tahun Terpanas dalam Sejarah, Ancaman Pemanasan Global Meningkat

"Januari 2025 adalah bulan yang mengejutkan lagi, melanjutkan rekor suhu yang diamati selama dua tahun terakhir, meskipun terjadi perkembangan kondisi La Nina di Pasifik tropis dan efek pendinginan sementara pada suhu global,” kata Samantha Burgess, Pimpinan Strategis Copernicus untuk Iklim, dikutip dari situs resmi Copernicus Climate Change Service.

Dalam laporannya, C3S memaparkan terkait kondisi suhu udara permukaan yang terjadi di berbagai wilayah. Beberapa negara di belahan Bumi utara mengalami kondisi suhu yang lebih basah dari rata-rata di Eropa barat pada Januari 2025, serta beberapa bagian Italia, Skandinavia, dan negara-negara Baltik mengalami curah hujan lebat dan banjir di beberapa wilayah.

Di sisi lain, kondisi yang lebih kering dari rata-rata tercatat di Inggris utara dan Irlandia, Spanyol timur, dan utara Laut Hitam. Sementara di luar Eropa, cuaca lebih basah daripada rata-rata di Alaska, Kanada, Rusia bagian tengah dan timur, Australia bagian timur, Afrika bagian tenggara, dan Brasil bagian selatan, dengan beberapa wilayah mengalami banjir dan kerusakan terkait.

Namun, kondisi yang lebih kering dari rata-rata terjadi di Amerika Serikat bagian barat daya dan Meksiko utara, Afrika utara, Timur Tengah, di seluruh Asia Tengah dan di China timur serta di sebagian besar Afrika bagian selatan, Amerika Selatan bagian selatan, dan Australia.

Peningkatan suhu global terutama disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia yang telah menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai rekor. Faktor-faktor lain juga menjadi penyebabnya, termasuk penggundulan hutan. 

Meski demikian, dilaporkan bahwa suhu permukaan laut tetap tinggi di banyak wilayah samudra dan lautan. Rata-rata suhu permukaan laut pada Januari 2025 ialah 20,78 derajat Celcius, nilai tertinggi kedua yang pernah tercatat sepanjang bulan tersebut.

Kondisi ini membuat para ilmuwan kebingungan. Sebab, mereka sebelumnya memperkirakan kejadian ini akan mereda setelah El Nino mencapai puncaknya pada Januari 2024 dan kondisinya bergeser ke fase La Nina yang seharusnya membuat cuaca cenderung sejuk.

Namun, suhu panas masih bertahan pada level yang memecahkan rekor, sehingga memicu perdebatan mengenai faktor apa lagi yang akan dapat mendorong suhu panas mencapai rekor yang semakin tinggi.

"Inilah yang membuatnya sedikit mengejutkan. Anda tidak melihat efek pendinginan ini, atau setidaknya penghambatan sementara, pada suhu global yang kita harapkan akan terjadi," kata Julien Nicolas, ilmuwan iklim di Copernicus, dikutip dari The Guardian.

Nicolas menambahkan diperkirakan fenomena La Nina akan melemah dan suhu di beberapa bagian Samudra Pasifik ekuator menunjukkan adanya perlambatan atau penghentian pergerakan menuju fenomena pendinginan. Fenomena La Nina diprediksi bisa mereda pada Maret 2025.

Bulan lalu, Copernicus mengatakan suhu global rata-rata pada 2023 dan 2024 telah melampaui 1,5 derajat Celcius untuk pertama kalinya. Hal ini memang tidak melanggar perjanjian iklim Paris, tetapi menjadi catatan penting yang harus diwaspadai. 

Seperti diketahui, berdasarkan perjanjian iklim Paris, para pemimpin dunia mengatakan mereka akan mencoba mencegah kenaikan suhu global lebih dari 1,5 derajat Celcius. Akan tetapi, ambang batas tersebut didasarkan pada pemanasan multidekade jangka panjang dan bukan suhu bulanan jangka pendek.

Para ilmuwan mengatakan setiap sepersekian derajat pemanasan di atas 1,5 derajat Celcius meningkatkan intensitas dan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas, hujan lebat, dan kekeringan.

Copernicus mengatakan es laut Arktik pada Januari 2025 mencapai rekor terendah bulanan yakni sebesar 6 persen di bawah rata-rata. Analisis ini menunjukkan bahwa itu adalah yang terendah kedua dalam kumpulan data tersebut. Secara keseluruhan, pada 2025 diperkirakan bakal menempati peringkat ketiga tahun terpanas.

Nicolas mengatakan pihaknya akan memantau suhu laut secara ketat untuk mendapatkan petunjuk tentang perkembangan iklim global. Pasalnya, lautan merupakan pengatur iklim dan penyerap karbon yang penting, dan air yang lebih dingin dapat menyerap lebih banyak panas dari atmosfer, sehingga membantu menurunkan suhu udara. Selain itu, lautan juga menyimpan 90 persen kelebihan panas yang terperangkap oleh pelepasan gas rumah kaca oleh manusia.

“Panas ini pasti akan muncul kembali secara berkala. Saya pikir itu juga salah satu pertanyaan, apakah ini yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir?" katanya.

Para ilmuwan sepakat bahwa pembakaran bahan bakar fosil telah menyebabkan pemanasan global jangka panjang, dan bahwa variabilitas iklim alami juga dapat memengaruhi suhu dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Meski demikian, siklus pemanasan alami seperti El Nino tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi di atmosfer dan lautan, sehingga membuat para ilmuwan meneliti sejumlah teori. Salah satu teorinya adalah bahwa pergeseran global ke bahan bakar pengiriman yang lebih bersih pada 2020 mempercepat pemanasan dengan mengurangi emisi sulfur yang membuat awan lebih seperti cermin dan memantulkan sinar matahari.

Selain itu, pada Desember 2024, para ilmuwan juga meneliti apakah berkurangnya awan rendah telah menyebabkan lebih banyak panas mencapai permukaan Bumi. "Hal ini masih menjadi bahan perdebatan," kata Nicolas.

Di sisi lain, pemantau Uni Eropa menggunakan miliaran pengukuran dari satelit, kapal, pesawat, dan stasiun cuaca untuk membantu perhitungannya. Catatannya sudah ada sejak 1940, tetapi sumber data iklim lainnya  seperti inti es, lingkaran pohon, dan kerangka karang memungkinkan para ilmuwan untuk memperluas kesimpulan mereka menggunakan bukti dari masa lalu yang lebih jauh.

Para ilmuwan mengatakan periode saat ini kemungkinan merupakan periode terhangat yang pernah dialami planet ini dalam 125.000 tahun.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

Editor: Nirmala Aninda
 

SEBELUMNYA

Resep Cheesecake Strawberry Hidangan Manis untuk Rayakan Hari Valentine

BERIKUTNYA

5 Film Indonesia yang Cocok Ditonton pada Bulan Kasih Sayang

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga